2013 Nicole Queen seorang fotografer amerika masuk islam berawal dari Youtube
Hidayah bisa datang dari berbagai tempat dan waktu kapan saja. Medianya
pun beragam. Mulai orang terdekat hingga musuh, dari tempat ibadah
hingga internet.
Seperti yang dirasakan warga Dallas Amerika
Serikat, Nicole Queen. Perempuan ini masuk Islam gara-gara menonton
tayangan Youtube.
“Teman-teman saya menunjukkan tayangan kuliah
di Youtube. Saya kemudian melihat dan mencari segala hal tentang
Islam”, jelas Nicole Queen.
“Dan, saya justru menjadi ketagihan
untuk terus menonton. Saya terus-menerus di depan komputer menontonnya
hingga jam lima pagi,” ujar Nicole Queen, warga asli Dallas, Amerika
Serikat.
Ia tak pernah menyangka, tayangan sederhana dari Youtube akan membawanya mengenal hingga kemudian tertarik pada Islam.
Perempuan yang berprofesi sebagai fotografer tersebut pun memeluk Islam melalui perantara tersebut
London. Berita ipar Tony Blair yang mengumumkan konversi
keyakinannya menjadi Muslim akhir pekan lalu membuka banyak cerita
tentang para mualaf di Inggris. Harian Daily Mail menurunkan topik tak
biasa di halam depan mereka: tentang tren baru keyakinan di Inggris.
Hasil temuan mereka menyebut, ada tren di kalangan perempuan terpelajar di Inggris — sebagian besar adalah wanita karier — yang memilih Islam sebagai keyakinan baru mereka.
Ipar Tony Blair, Lauren Booth, 43 tahun, mengatakan dia sekarang
memakai jilbab yang menutupi kepala setiap kali meninggalkan rumah. Ia
juga mengaku melakukan shalat lima kali sehari dan mengunjungi masjid
setempat kapanpun dia bisa.
Lauren berprofesi sebagai wartawan
dan penyiar televisi. Dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim enam
minggu lalu setelah mengunjungi tempat suci Fatima al-Masumeh di kota
Qom. “Ini adalah Selasa malam, dan saya duduk dan merasa ini suntikan
morfin spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita,” ujarnya.
Sebelum pergi ke Iran, ia mengaku telah tertarik pada Islam dan telah
menghabiskan banyak waktu untuk bekerja sebagai wartawan di Palestina.
“Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan berada di
tengah-tengah Muslimin,” katanya.
Menurut Kevin Brice dari
Swansea University, yang memiliki spesialisasi dalam mempelajari
konversi keyakinan, menyatakan gelombang para wanita terpelajar Inggris
yang beralih keyakinan menjadi Muslim merupakan bagian dari tren
menarik.
“Mereka mencari inti spiritualitas, arti yang lebih
tinggi, dan cenderung untuk berpikir secara mendalam sebelum memutuskan.
Namun dalam konteks ini, saya menyebutnya fsebagai fenomena
“mengkonversi kenyamanan”. Mereka akan menganggap agama adalah alat
menyenangkan suami Muslim mereka dan keluarganya, tapi tidak akan selalu
menghadiri masjid, berdoa, dan berpuasa,” ujarnya.
Benarkah
demikian? Kristiane Backer, wanita 43 tahun dan mantan VJ MTV yang
menjadi ikon kehidupan Barat liberal yang dirindukan remaja saat
mudanya, menggeleng. “Masyarakat permisif yang saya dambakan ketika muda
dulu ternyata sangat dangkal, tak memberi ketenteraman batin apapun,”
ujarnya.
Titik balik untuk Kristiane muncul ketika dia bertemu
mantan pemain kriket Pakistan dan seorang Muslim, Imran Khan pada tahun
1992. Dia membawanya ke Pakistan. Di negara kekasihnya itu, dia segera
tersentuh oleh spirtualitas dan kehangatan dari orang-orang Islam di
negara itu.
“Meskipun kemudian hubungan asmara saya dengan
Imran Khan kandas, semangat saya mempelajari Islam tak turut kandas.
Saya mulai mempelajari Islam dan akhirnya menjadi mualaf,” ujarnya.
Menurutnya, Islam adalah agama bervisi. “Di Barat, kami menekankan
untuk alasan yang dangkal, seperti apa pakaian untuk dipakai. Dalam
Islam, semua orang bergerak ke tujuan yang lebih tinggi. Semuanya
dilakukan untuk menyenangkan Tuhan. Itu adalah sistem nilai yang
berbeda,” tambahnya.
Untuk sejumlah besar wanita, kontak
pertama mereka dengan Islam berasal dari kencan pacar Muslimnya. Lynne
Ali, 31, dari Dagenham di Essex, mengakuinya. Di masa lalu, hidupnya
hanyalah pesta. “Aku akan pergi keluar dan mabuk dengan teman-teman,
memakai pakaian ketat dan mengerling siapapun lelaki yang ingin aku
kencani,” ujarnya.
Di sela-sela pekerjaannya sebagai DJ sebuah
kelab malam papan atas London, ia menyempatkan ke gereja. Tetapi ketika
ia bertemu pacarnya, Zahid, di universitas, sesuatu yang dramatis
terjadi.”Dia mulai berbicara kepadaku tentang Islam, dan itu seolah-olah
segala sesuatu dalam hidupku dipasang ke tempatnya. Aku pikir, di bawah
itu semua, aku pasti mencari sesuatu, dan aku tidak merasa hal itu
dipenuhi oleh gaya hidup hura-huraku dengan alkohol dan pergaulan
bebas.”
Pada usia 19 tahun, Lynne memutuskan menjadi mualaf.
“Sejak hari itu pula, aku memutuskan mengenakan jilbab,” ujarnya. “Ini
adalah tahun ke-12 rambut saya selalu tertutup di depan umum. Di rumah,
aku akan berpakaian pakaian Barat normal di depan suami saya, tapi tidak
untuk keluar rumah.”
Survei YouGov baru-baru ini menyimpulkan
bahwa lebih dari setengah masyarakat Inggris percaya Islam adalah
pengaruh negatif yang mendorong ekstremisme, penindasan perempuan dan
ketidaksetaraan. Namun statistik membuktikan konversi Islam menunjukkan
perkembangan yang signifikan. Islam adalah, setelah semua, agama yang
berkembang tercepat di dunia. “Bukti menunjukkan bahwa rasio perempuan
Barat mengkonversi untuk laki-laki bisa setinggi 2:1,” kata sosiolog
Inggris, Kevin Brice.
Selain itu, katanya, umumnya perempuan
mualaf ingin menampilkan tanda-tanda dari agama baru mereka – khususnya
jilbab – walaupun gadis Muslim yang dibesarkan dalam tradisi Islam
justru malah memilih tak berjilbab. “Mungkin sebagai akibat dari
tindakan ini, yang cenderung menarik perhatian, Muslim mualaflah yang
sering melaporkandiskriminasi terhadap mereka daripada mereka yang
menjadi Muslimah sejak lahir,” tambahnya.
Hal itu diakui
Backer. “Di Jerman, ada Islamophobia. Saya kehilangan pekerjaan saya
ketika saya bertobat. Ada kampanye untuk melawan saya dengan sindiran
tentang semua Muslim mendukung teroris – intinya saya difitnah.
Sekarang, saya presenter di NBC Eropa,” ujarnya.
Hal itu
diamini Lyne. “Aku menyebut diriku seorang Muslim Eropa, yang berbeda
dengan mereka yang menjadi Muslim sejak lahir. Sebagai seorang Muslim
Eropa, saya mempertanyakan segala sesuatu – saya tidak menerima secara
membabi-buta. Dan pada akhirnya harus diakui, Islam adalah agama yang
paling logis secara logika,” ujarnya.
“Banyak perempuan mualaf
di Inggris juga mengkonversi agamanya karena tertarik dengan kehangatan
hubungan di antara sesama Muslim. “Beberapa tertarik untuk merasakan
kembali nilai-nilai yang telah mengikis di Barat,” kata Haifaa Jawad,
dosen senior di Universitas Birmingham, yang telah mempelajari fenomena
konversi agama. “Banyak orang, dari semua lapisan masyarakat, meratapi
hilangnya tradisi menghargai orang tua dan perempuan, misalnya. Ini
adalah nilai-nilai yang termuat dalam Quran, yang umat Islam harus hidup
dengannya,” tambahnya Brice.
Nilai-nilai seperti ini pula yang
menarik Camilla Leyland, 32, seorang guru yoga yang tinggal di
Cornwall, pada Islam. Ia seorang ibu tunggal untuk anak, Inaya, dua
tahun. Ia mengaku menjadi Muslim pada pertengahan usia 20-an untuk
‘alasan intelektual dan feminis’.
“Aku tahu orang akan terkejut
mendengar kata-kata ‘feminisme’ dan ‘Islam’ dalam napas yang sama,
namun pada kenyataannya, ajaran Alquran memberikan kesetaraan kepada
perempuan, dan pada saat agama itu lahir, ajaran pergi terhadap butir
masyarakat misoginis,” tambahnya.
Selama ini, orang salah
memandang Islam, katanya. “Islam dituduh menindas wanita, namun yang aku
rasakan ketika dewasa, justru aku merasa lebih tertindas oleh
masyarakat Barat.”
Tumbuh di Southampton – ayahnya adalah direktur Institut Pendidikan Southampton dan ibunya seorang
ekonom – Camilla pertama kali bersinggungan dengan Islam di sekolah. Ia
mengenal Islam saat kuliah dan kemudian mengambil gelar master di
bidang Studi Timur Tengah. Ketika tinggal dan bekerja di Suriah, ia
menemukan pencerahan spiritual.
Merefleksikan apa yang dia baca
di Alquran, ia menyadari bahwa islamlah yang dicarinya selama ini.
“Orang-orang akan sulit untuk percaya bahwa seorang wanita yang
berpendidikan tinggi dari kelas menengah akan memilih untuk menjadi
Muslim,” katanya, menirukan komentar ayahnya saat itu. Namun ia mantap
menjadi Muslimah.
Kini, ia yang mengaku tak pernah meninggalkan
shalat lima waktu tapi belum berjilbab ini menyatakan dirinya telah
“merdeka”. “Saya sangat bersyukur menemukan jalan keluar bagi diri saya
sendiri. Saya tidak lagi menjadi budak masyarakat yang rusak.”
Sumber : Harian Daily Mail