Showing posts with label kisah Berhikmah. Show all posts
Showing posts with label kisah Berhikmah. Show all posts
Monday, November 11, 2013
Kisah Keluarga Penghafal Qur'an yang Luar Biasa
Di sebuah masjid telah terjadi sebuah dialog antara seorang guru Al-Quran dengan seorang anak kecil yang ingin mendaftarkan dirinya dalam halqah Quran.
Guru Al-Quran (GQ) : “Apakah ada yang kamu hafal dari Al-Quran?”.
Anak Kecil (AK) : “iya”.
GQ : “Silahkan baca juz ‘amma!”. (Anak itu pun membacanya dengan baik)
GQ : “Apakah kamu hafal juz Tabarak (juz 29)?”.
AK : “iya”. (Akupun kagum dengan hafalannya walaupun dia masih kecil, lalu akupun memintanya untuk membaca surat An-Nahl, ternyata dia juga telah menghafalnya, sehigga membuat aku bertambah kagum. Kemudian aku minta kepadanya untuk membaca surat yang panjang)
GQ : “Apakah kamu hafal surat Al-Baqarah?”.
AK : “Iya”. (Diapun membacanya tanpa salah, lalu aku bertanya kembali)
GQ : “Hai anakku, apakah kamu hafal Al-Quran?”.
AK : “Iya”
GQ : “Subhanallah, masya Allah, tabarakallah”.
Lalu aku pun memintanya untuk datang besok beserta ayahnya. Saat itu aku terheran-heran dengan peristiwa tadi, bagaimana ayahnya bisa mengajarkannya demikian. Kemudian yang membuat aku tambah tekejut adalah pada saat ayahnya tiba, aku melihat dari penampilannya tidak seperti orang yang suka melaksanakan sunnah Rasululllah SAW),
maka diapun serta merta berkata kepadaku : “Saya tau anda tercengang kalau aku adalah ayahnya, tapi saya akan hapus kebingungan anda, sesungguhnya di balik anak ini ada seorang wanita yang sebanding dengan 1000 laki-laki, dan saya beri kabar gembira kepadamu bahwa di rumah ada 3 anak yang semuanya hafal Al-Quran (30 juz), dan saya mempunyai seorang putri yang baru berusia 4 tahun sudah hafal juz ‘Amma (Juz 30). Aku pun bertambah heran, bagaimana itu bisa terwujud??!!
Sang ayah anak kecil itu pun berkata : “Sesungguhnya sang ibu ketika anaknya mulai bisa berbicara, dia memulainya dengan hafalan Al-Quran terus memberi motivasi untuk menghafal, siapa diantara mereka yang hafal terlebih dahulu, maka dia yang paling berhak untuk memilih hidangan makan malam pada malam itu, dan barang siapa yang mengulang hafalan terlebih dahulu, dialah yang paling berhak untuk memilih tempat liburan pekanan, dan barang siapa yang khatam terlebih dahulu dialah yang berhak untuk memnentukan ka mana akan melakukan safar dihari liburan nanti. Dengan demikian terciptalah suasana saling berlomba dalam meghafal dan murajaah diantara mereka.
Tuesday, November 5, 2013
Menag: “Rahmah El Yunusiah Sangat Layak Menjadi Pahlawan Nasional”

PENDIRI Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang – Hajjah Rahmah El Yunusiah – sangat layak kalau seandainya menjadi pahlawan nasional. Karena pada hari ini, kita bisa menyaksikan peninggalan beliau yang sangat begitu besar, yaitu peninggalan yang begitu bermanfaat dan tidak ternilai, yang telah memberikan kontribusi besar untuk agama, bangsa dan Negara yang kita cintai. Demikian disampaikan Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali ketika memberikan sambutan pada Milad Perguruan Diniyah Putri yang ke- 90 di Padang Panjang, Ahad, lalu.
“Salut serta hormat setinggi-tingginya kepada Bunda Rahmah El Yunusiah,” ujar Menag.
Menteri Agama Suryadharma Ali dalam sambutannya mengutip dan menggarisbawahi ucapan Mantan Menteri Agama Almarhum Prof.Dr Mukti Ali sewaktu kunjungan beliau ke Diniyah Putri Padang Panjang tahun 1978. Beliau mengatakan “Kalau pada waktu sekarang orang mendirikan sekolah adalah hal yang biasa, akan tetapi pada waktu yang lalu – pada tahun 1923 -, dimana orang menganggap wanita itu haram masuk sekolah, ada orang yang berani mendirikan sekolah khusus untuk wanita seperti ibu Rahmah, maka itu adalah hal yang luar biasa.
“Bisa dibayangkan, tahun 1923, seorang perempuan berusia 23 tahun yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang begitu luas, mempunyai cita-cita, mimpi, gagasan dan sekaligus membuktikan cita-citanya itu, mimpinya itu menjadi kenyataan,” terang Menag.
Menurut Menag, pandangan dan pemikiran Bunda Rahmah El Yunusiah bahwa mendidik seorang laki-laki berarti mendidik seorang manusia, sedangkan mendidik seorang perempuan berarti mendidik suatu keluarga dalam rumah tangga akan tetap relevan sampai kapan pun.
“Di sinilah letak pentingnya Diniyah Putri, dan di situlah pentingnya Bunda Rahmah yang telah meninggalkan jasa sangat begitu besar, bukan untuk tanah Minang saja tetapi juga untuk seluruh Indonesia bahkan untuk dunia,” ujar Menag.
“Oleh karenanya, dengan mencermati presentasi yang ada, sudah sangat layak kalau seandainya Bunda Rahmah el Yunusiah menjadi pahlawan nasional”, tandas Menag.
Dalam kesempatan tersebut, Menag akan membantu untuk meyakinkan kepada pihak- pihak yang memiliki kompetensi memberikan gelar pahlawan nasional.
Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang, lanjut Menag, terwujud karena dorongan dan cita – cita dari sosok Bunda Rahmah El Yunusiah yang ingin mengangkat harkat dan derajat kaum perempuan melalui pendidikan karena tidak rela anak perempuan hanya mendapatkan pendidikan rendah saja.
“Dia menginginkan kaum perempuan diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi sesuai dengan jenjang pendidikan yang ada”, imbuh Menag.
sumber:Islampos
Friday, October 25, 2013
Umar bin Abdul-Aziz
Biografi Umar Bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz bergelar Umar II,Nama sebenar beliau ialah Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Ahkam, lahir pada tahun 63 H,dan meninggal dunia pada 101H.Ia adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.
Keluarga
Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.
Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.
Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.
Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Umar telah menghafal al-Quran sejak masih kecil serta bergaul dengan para pemuka ahli fiqih dan ulama. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Jaafar, Yusuf bin Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I
Kehidupan awal
Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I
Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al Musayyib: "Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana"
Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.
Kedekatan Umar dengan Sulaiman
Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.
Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz
Umar bin Abdul Aziz bergelar Umar II,Nama sebenar beliau ialah Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Ahkam, lahir pada tahun 63 H,dan meninggal dunia pada 101H.Ia adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.
Keluarga
Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.
Silsilah
Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.
Kisah Umar bin Khattab berkaitan dengan kelahiran Umar II
Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.
Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari”
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini”
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.
Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.
Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.
Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Umar telah menghafal al-Quran sejak masih kecil serta bergaul dengan para pemuka ahli fiqih dan ulama. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Jaafar, Yusuf bin Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I
Kehidupan awal
682 – 715
Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I
715 – 715: era Al-Walid I
Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.
Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al Musayyib: "Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana"
715 – 717: era Sulaiman
Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.
Kedekatan Umar dengan Sulaiman
Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.
- Sulaiman bertanya kepada Umar "Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?" dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.
- Namun jawab Umar, "Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya".
- Khalifah Sulaiman berkata lagi "Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?"
- Balas Umar lagi, "Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia".
Sebelum menjabat Menjadi khalifah
Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’
bin Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara
yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah
di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah
yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku
melihat Umar Ibn Abdul Aziz".
Surat wasiat diarahkan supaya
ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi
dirahasiakan darai kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman,
beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama
bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut.
Naiknya
Umar sebagai Amirul Mukminin
Seluruh umat Islam berkumpul di
dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru.
Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz,
sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini".
Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya
berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku
tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya,
sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang
kalian kehendaki".
Umat tetap menghendaki Umar sebagai
khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah
dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke
rumah. Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Ia di bai'at sebagai khalifah
pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar,
Ketika pulang ke rumah, Umar
berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas
dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Ia berniat untuk
tidur.
Pada saat itulah anaknya yang
berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat
ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul
Mukminin?".
Umar
menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu
dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini"."Jadi
apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.
Umar
membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian
ayah akan keluar untuk salat bersama rakyat".
Apa pula kata anaknya apabila
mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin
ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab
Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz
terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya
mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji
bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas
agamaku”
Pemerintahan
Umar bin Abdul-Aziz
Hari kedua dilantik menjadi
khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata
“Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas al-Quran,
aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah
malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik
dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya
dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang
yang paling banyak dosa di sisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis
"Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku" sambung Umar Ibn Abdul Aziz.
Beliau pulang ke rumah dan menangis
sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab
“Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang
teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai,
rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum
muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku
bimbang aku tidak dapat jawab hujjah-hujjah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang
menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut
mengalir air mata.
Peristiwa-peristiwa
pada pemerintahannya menimbulkan rasa cinta untuk meneladaninya.
Umar
bin Abdul Aziz,adalah Teladan Pemimpin Tawadhu, adil, arif,serta bijaksa lagi
berilmu.
Sosoknya yang begitu melegenda tentu membuat hati penasaran untuk
mengenalnya.
Tentu
banyak karakteristik seorang mukmin yang bersemayam dalam diri Umar bin Abdul
Aziz hingga dirinya ditaati sebagai pemimpin dan namanya tertera dalam daftar
sejarah kebanggaan umat muslim. Termasuk salah satu di antaranya adalah sifat
tawadhu’ beliau.
Umar
bin Abdul Aziz,adalah Teladan Pemimpin Tawadhu, adil, arif,serta bijaksa lagi
berilmu.Sosoknya yang begitu melegenda tentu membuat hati penasaran untuk
mengenalnya.
Insan
dengan sejarah menawan akan masa kepemimpinannya saat menjabat sebagai
khalifah. Ia membalikkan 180 derajat keadaan hidupnya dari yang bermewah harta
menjadi penuh dengan keterbatasan ketika dirinya diangkat sebagai khalifah.
Salah
satu kisah nya adalah:
Suatu
hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu
sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz menjelang malam. Setelah mengetuk
pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul
Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk
memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata,
“Ijinkan dia masuk.”
Utusan
itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar
bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum
muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana
dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil,
orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang
mengadukan?.Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota
kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.
Semua
pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar
telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.“Ya Amirul
Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu,
seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun
kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan,
nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir
tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.
Umar
melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan
itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya,
anak-anaknya, istri, dan keluarganya.
Rupanya
utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar,
mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan
sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”
“Engkau
mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”Umar
berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta
kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin
itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memebelokkan pembicaraan
tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum
muslimin.”
Setelah
menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada
sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :
1.Menghapuskan
cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam
khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci
al-Quran
2.Merampas
kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan
mengembalikannya ke Baitulmal
3.Memecat
pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak
layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah
4.Penghapuskan
pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah
terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa
sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan laskar-laskar
yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.
5.Tentang
:kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh
sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.
6.Penghayatan
agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah
umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan
masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang
berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin.
Baginda turut
mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun
hadis-hadis Raulullah SAW.Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin
lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis dari beliau.
7.Dalam
bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya
menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek,
Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat
Islam.
8.Dalam
mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum
Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada
raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada
Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang
dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk
Islam.
9.Khalifah
Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan
sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan
adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan
dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di
zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.
Pada masa pemerintahannya berhasil
memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4
khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah.
- Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya
pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi khalifah
hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan
Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun
kurang sedikit.
-Kerajaan
Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku
penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya
hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mau
menerima zakat.Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau
berdikari sendiri.
-Dan Pasukan
kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina
di sebelah timur. Pada waktu itu kekusaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol
berada di bawah kekuasaannya.
Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz
Umar bin
Abdul-Aziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya. Umat
Islam datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh
menteri kepada isterinya,
"Gantilah baju
khalifah itu", dibalas isterinya, "Itu saja pakaian yang
khalifah miliki.
Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul
Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”
Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa
yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa"
"Mengapa engkau tinggalkan
anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"
"Jika anak-anakku orang soleh,
Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang
tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang
mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"
Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz
memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya
ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan
ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk
ke dalam surga (kerana tidak menggunakan uang rakyat).
Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku
telah memilih surga." (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu
susah)
Anak-anaknya ditinggalkan tidak
berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah
dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang
kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.
Begitulah
para pemimpin umat Islam terdahulu mengajarkan keteladanan pada kita. Umar bin
Abdul Aziz memberikan gambaran keindahan tawadhu’, ketika seseorang menurunkan
egonya untuk menyamakan dirinya di hadapan manusia dan merendahkan dirinya di
hadapan Allah Azza wa Jala, maka ia dapatkan kemuliaan dirinya, penghargaan di
hadapan manusia, dan ketinggian derajat diberikan oleh Allah.
SELAMAT MEMBACA
Sunday, September 1, 2013
Putra Khalifah Menjadi Kuli
Dikisahkan dalam kitab At-Tawwabin karya Ibnu Qudamah tentang seorang putra khalifah yang meninggalkan kehidupan mewah di istana dan menjadi seorang kuli panggul.
Suatu hari ‘Abdullah bin Faraj Al-Abid memerlukan buruh harian untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Maka ia pun pergi ke pasar. Sesampainya di sana, ia menemukan sekumpulan buruh harian. Ternyata di barisan paling belakangnya ada seorang pemuda berjubah dan berpakaian dari bulu yang wajahnya pucat pasi. Ia tengah membawa keranjang besar.
“Kamu mau bekerja?” tanya ‘Abdullah bin Faraj kepadanya.
“Ya,” jawabnya.
“Berapa bayarannya?”
“Satu seperenam dirham.”
“Baiklah!”
“Tapi, ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” tanya ‘Abdullah bin Faraj.
“Jika waktu Zhuhur tiba dan muadzin telah mengumandangkan adzan, aku akan berhenti bekerja; kemudian bersuci dan menunaikan shalat secara berjamaah di masjid. Lalu kembali bekerja lagi. Demikian pula pada waktu shalat Ashar,” pintanya.
“Baiklah!”
‘Abdullah bin Faraj menyuruhnya memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Pemuda itu pun mengikat tubuhnya lalu mulai bekerja dan sama sekali tidak mengajak ‘Abdullah bicara hingga muadzin mengumandangkan adzan Zhuhur.
“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.
“Silakan!” jawab ‘Abdullah.
Ia pergi dan menunaikan shalat. Setelah pulang, ia kembali bekerja dengan baik hingga waktu Ashar, ketika muadzin mengumandangkan adzan.
“Hai, hamba Allah. Muadzin telah mengumandangkan adzan,” serunya.
“Silakan!” jawab ‘Abdullah.
Ia pergi dan menunaikan shalat Ashar. Setelah pulang, ia kembali bekerja hingga sore. ‘Abdullah kemudian memberinya upah. Setelah itu, pemuda tersebut pulang.
Beberapa waktu berselang, ‘Abdullah bin Faraj membutuhkan lagi seorang buruh.
“Carilah buruh muda kemarin. Sungguh ia telah member teladan kepada kita ketika bekerja,” pinta istrinya.
‘Abdullah pergi ke pasar, namun tidak melihatnya. Ia menanyakan kepada orang-orang di pasar.
“Anda menanyakan pemuda yang pucat dan lemah yang tidak kami lihat selain hari Sabtu dan yang tidak duduk kecuali sendirian di bagian belakang?” jawab orang di pasar.
Maka ‘Abdullah pun pulang. Barulah pada hari Sabtu ia pergi ke pasar. Benar, ia pun menemukannya.
“Kamu mau bekerja?”
“Anda telah mengetahui upah dan syaratnya.”
“Ya, aku menyetujuinya.”
Ia bangkit dan bekerja dengan baik seperti sebelumnya. Ketika tiba saatnya memberi upah, ‘Abdullah menambahinya. Ternyata pemuda itu menolak menerima tambahannya. Namun, ‘Abdullah memaksanya untuk menerima. Kali ini pemuda itu merasa risih sehingga ia pergi meninggalkan ‘Abdullah. ‘Abdullah merasa tidak enak. Ia pun membuntuti dan membujuknya sampai akhirnya ia mau menerima, tetapi hanya upahnya saja.
Beberapa waktu kemudian, ‘Abdullah kembali hendak memerlukannya. Ia pergi ke pasar pada hari Sabtu namun ia tidak menemukannya.
“Ia sakit,” jawab seseorang.
“Ia hanya datang ke pasar setiap hari Sabtu untuk bekerja dengan upah satu seperenam dirham. Setiap hari ia menghabiskan seperenam dirham untuk makan. Dan kini ia telah jatuh sakit.
‘Abdullah menanyakan rumahnya untuk membesuk.
Dijumpainya seorang wanita tua.
“Apakah di sini tinggal seorang pemuda yang biasa bekerja sebagai buruh harian?” tanya ‘Abdullah kepada wanita tua yang ternyata pemilik rumah.
“Ia sakit sejak beberapa hari yang lalu.”
‘Abdullah masuk dan mendapatinya sakit dengan berbantalkan batu bata. Setelah mengucap salam kepadanya, ‘Abdullah bertanya, “Apakah kamu mempunyai suatu keperluan?”
“Ya, jika Anda mau memenuhinya,” jawabnya.
“Ya, aku mau memenuhinya.”
“Setelah aku mati nanti, juallah tali ini dan cucilah jubah dan kain dari bulu ini. Kemudian kafanilah aku dengannya. Setelah itu, bukalah saku ini karena di dalamnya ada sebuah cincin. Lalu pada saat Harun Ar-Rasyid lewat, berdirilah di tempat yang terlihat olehnya, bicaralah, dan perlihatkan cincin itu kepadanya. Jangan lakukan ini kecuali setelah aku dikuburkan.”
“Baiklah!” jawab ‘Abdullah.
Setelah ia meninggal, ‘Abdullah bermaksud melakukan apa yang dimintanya. Suatu hari, dengan duduk di sisi jalan, ia menanti lewatnya Harun Ar-Rasyid. Harun Ar-Rasyid melintas di hadapannya.
“Wahai Amirul Mukminin, ada titipan untukmu padaku!” seru ‘Abdullah seraya memperlihatkan cincin itu. Namun, Harun Ar-Rasyid menyuruh anak buahnya menangkap ‘Abdullah untuk dibawa ke istana.
Sesampainya di sana, Harun Ar-Rasyid memanggil ‘Abdullah dan menyuruh keluar semua orang yang ada di tempat itu.
“Siapa Anda?” tanya Harun Ar-Rasyid.
“’Abdullah bin Faraj.”
“Dari mana kamu mendapatkan cincin itu?”
‘Abdullah bin Faraj kemudian menuturkan kisah pemuda yang pernah ditemuinya. Tiba-tiba Harun Ar-Rasyid menangis hingga ‘Abdullah merasa iba. Setelah kembali tenang, ‘Abdullah memberanikan diri untuk bertanya.
“Wahai Amirul Mukminin, ada hubungan apa antara dia dengan Anda?”
“Ia anakku.”
“Bagaimana ia bisa seperti itu?”
“Ia lahir sebelum aku diangkat menjadi khalifah. Lalu tumbuh sebagai anak yang baik, yang belajar Al-Quran serta ilmu-ilmu lainnya. Namun, ketika aku telah diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan tidak mau menikmati sedikit pun dari kenikmatan yang aku peroleh. Aku kemudian memberikan cincin ini –cincin yaqut yang harganya sangat mahal– kepada ibunya sambil mengatakan, ‘Berikan ini kepadanya (karena ia sangat patuh kepada ibunya), dan suruhlah ia selalu membawanya. Siapa tahu sewaktu-waktu ia membutuhkannya’. Lalu ibunya meninggal dan saya sama sekali tidak mengetahui kabar beritanya hingga Anda datang memberitahukannya kepadaku ini,” jelas Harun Ar-Rasyid.
“Jika malam telah tiba, tunjukkanlah aku kuburannya.”
Dan kala malam telah gelap, keduanya pergi tanpa pengawalan hingga tiba di kuburan putranya. Harun Ar-Rasyid duduk di dekatnya dan menangis. Ketika fajar menyingsing, mereka bangkit untuk pulang.
“Temanilah aku menziarahi kuburnya beberapa malam lagi,” pinta Harun Ar-Rasyid. Pada malam berikutnya, ‘Abdullah bin Faraj menemaninya. []
Sumber: dakwatuna.com
Wednesday, May 22, 2013
Gadis Tanpa Kaki dan Hanya Memiliki Satu Tangan Pecahkan Rekor Renang Dunia

Memiliki keterbatasan fisik tidak menjadi halangan bagi gadis yang satu ini. Usianya masih sangat muda, 16 tahun, tetapi sebuah rekor dunia sudah dia pecahkan. Tidak ada yang mustahil, jika ada niat dan usaha pasti ada buah manis yang dipetik. Gadis remaja ini tidak memiliki kaki dan hanya memiliki satu tangan, tapi lihatlah prestasi membanggakan yang sudah dia ukir.
Dilansir Huffington Post, Kayla Wheeler adalah gadis hebat itu. Remaja putri dari Washington, Amerika Serikat ini menjalani amputasi pada kedua kakinya dan satu tangan saat lahir. Walau memiliki kebutuhan khusus, Kayla menikmati hidupnya penuh syukur. Sejak kecil dia belajar berenang sebagai bentuk terapi untuk fisiknya.

Kecintaan Kayla pada renang membuatnya menjuarai beberapa event. Dia adalah juara renang Paralympic dan memegang rekor 50 meter gaya kupu-kupu.
"Ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata," ujar Joyce Wheeler, ibu Kayla, "Ketika mereka mengumumkan namanya sebagai juara dan dia menjadi kandidat dari Amerika Serikat, aku langsung merinding. Aku tidak percaya itu adalah anakku," lanjutnya.

Kayla masuk dalam kategori S1 yang diikuti oleh peserta berkebutuhan khusus dengan tingkat parah. Setelah ini, Kayla akan berkompetisi dalam Internasional Paralympic World Championship yang diadakan di Montreal, Agustus mendatang.
Semoga saja Kayla kembali mendapat predikat juara dan menjadi seorang gadis yang menjadi inspirasi bagi orang lain untuk tetap bersemangat dan menikmati hidup, apapun kekurangan yang dimiliki.
sumber: Vemale.com
Tuesday, May 21, 2013
Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu
![]() |
| http://maryani-lisbeth.blogspot.com/ |
Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”
Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”
Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.”
Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.
Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.
Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”
Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”
Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.
Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar.
Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”
Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya.
Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya.
Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)
Subhanallah…….
Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.
"QURBAN UNTUK EMAK"
Kisah Nyata Islami
Kisah ini diceritakan seorang pedagang hewan qurban tentang sebuah kejadian yang membuat hatinya amat tersentuh, berikut kisahnya;
Seorang wanita datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silakan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, “kalau yang itu berapa Pak?”
“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah. “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.
Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai ke rumahnya, begitu tiba di rumahnya, “Astaghfirullah…, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.
Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.
Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak, bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak…”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.
Si nenek sangat terkaget, tapi nampak jelas raut bahagia di wajahnya, ia segera berjalan keluar dengan langkah yang gontai karena usianya yang senja. Sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban.”
“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama emak saya…”, kata ibu muda itu.
Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa, “Ya Allah…, ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa.”
“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu, “sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar”, kata saya sambil menyembunyikan mata saya yang sudah berkaca-kaca.
Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya meski dengan segala keterbatasan ekonominya.
Sekian
***
Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.
Sumber:RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
▼
2013
(187)
-
▼
November
(9)
- Cukuplah Allah yang Menyelesaikan Urusan Kita
- Kita dan Masalah
- Na’am! Kita Ahlus Sunnah wal Jamaah
- INILAH MENGAPA ISLAM MELARANG MENYAMBUNG RAMBUT
- Cerita Penasihat Presiden tentang Permintaan Puter...
- Kisah Keluarga Penghafal Qur'an yang Luar Biasa
- Menag: “Rahmah El Yunusiah Sangat Layak Menjadi Pa...
- Fathimah az-zahra R.ha dan Gilingan Gandum
- 10 Adab Jima’
-
▼
November
(9)




