Showing posts with label Kumpulan Kisah kehidupan Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Kisah kehidupan Nyata. Show all posts
Monday, November 11, 2013
Cerita Penasihat Presiden tentang Permintaan Puterinya yang Telah Syahidah
Ahmad Abdul Aziz, mantan penasihat Presiden Mursi menceritakan permintaan puterinya, Habibah, yang telah syahidah pada peristiwa pembantaian Rab’ah Adawiyah.
Di situs egyptwindow.net edisi Kamis (24/10/2013) kemarin, beliau menuliskan:
“Ketika terjadi demonstrasi menggulingkan Mubarak di Bundaran Tahrir, ada banyak anak muda yang dibunuh militer. Jenazah mereka dibuang begitu saja di tempat sampah. Saat itu Habibah menangis dan melaknat habis-habisan militer Husni Mubarak yang melakukan kejahatan itu.
Habibah juga menuntut untuk dilakukan qisas kepada orang-orang yang bertanggung jawab melakukan kejahatan itu. Saat itu aku katakan kepadanya, “Qisas saat ini mustahil dilakukan. Karena tidak ada negara yang menghormati kedudukan manusia dan hukum.”
Mendengar hal tersebut, Habibah semakin sedih dan bertanya, “Jadi kalau tidak ada negara, kita tidak bisa menuntut hak saudara-saudara kita?”
Aku menjawab, “Tidak mustahil. Tapi sulit dilakukan.” Mendengar jawabanku, dia marah, “Jadi kalau aku yang mereka bunuh, ayah tidak bisa menuntut dilakukan qisas yang merupakan hakku? Karena tidak ada negara?”
Aku pun mencoba menenangkannya, “Aku akan berjuang sebisaku untuk menuntut qisas yang menjadi hakmu?”
Habibah tidak puas mendengar jawabanku, “Kalau usaha sebisa mungkin itu tidak cukup untuk saat itu, bagaimana, Ayah?”
Aku mengalah, “Oke, Habibah. Aku akan melakukan hal yang mustahil, demi kamu. Walaupun aku harus pertaruhkan nyawaku. Bukan demi kamu saja, tapi demi semua syuhada yang telah gugur. Semuanya adalah anak-anakku.”
Sumber: dakwatuna
Sunday, September 1, 2013
"Wasiat Paling Menakjubkan dari Syuhada Rab'aa"
Kairo - Masih ingat gambar ini? Gambar ini memperlihatkan salah seorang korban luka yang sedang dievakuasi oleh seorang demonstran yang lain. Ini terjadi saat militer dan polisi membantai demonstran di Rab’ah 14 Agustus yang lalu. Tak ada yang mengira, banyak pelajaran di balik gambar ini.
Korban terluka bernama Muhammad Utsman. Berasal dari kota Abul Mathamir, propinsi Buhaira. Beliau adalah pengantin baru, umurnya 27 tahun, hafal Al-Qur’an, dan berasal dari keluarga ulama.
Wajih Shabah, seorang saksi mata yang merupakan guru bahasa Arab dari desa yang sama menyampaikan kesaksiannya, “Muhammad Utsman terkena peluru pada pembantaian di Rab’ah. Maka ada seorang demonstran lain yang berusaha mengevakuasinya. Tapi sniper kudeta dengan tanpa ampun menembak orang yang menolong itu juga. Sehingga banyak orang memberi judul “syahid membopong syahid”.
Begitu terjatuh dari orang yang membawanya, Utsman memanggilku dengan histeris. Dia berusaha sekuat tenaga membisikkan sebuah wasiat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Anehnya, yang beliau bisikkan bukan wasiat menitipkan orangtua dan isterinya. Wasiatnya, “Aku berhutang pulsa 3 pounds kepada vodafone. Tolong kamu bayarkan ya…” Vodafone adalah sebuah perusahaan jaringan telepon selular.
Ketaqwaanlah yang membuat syahid ini mengingat hutang pulsanya yang tidak mencapai setengah dollar itu. Padahal media-media Mesir menyebarkan isu bahwa demonstran Rab’ah berdemo karena dibagi-bagi uang.
Baru sempat dibaca,sampai tdk bisa menahan tangis...ya Allah Engkau jadikan Mesir sebagai pembelajaran yg nyata dr -Mu
Subhannalllah...Allahumma amitna ala syahadati fi sabilik...
Sunday, June 30, 2013
Sepenggal cerita tentang Nelayan dan BBM yg belum naik
Alhamdulillah tibalah kami ketempat yg sdh lama sekali aku dan keluarga idam2kan...Pantai.
Kesannya sepeti orang norak memang, bahagia dan tak lupa bersyukur paddda Allah karena mengijinkan rihlah ini terwujud...
Anak2 langsung berhamburan menyambut indahnya pantai yang sangat diidam-idamkan,jernih dan masih asli tak tercemar, sambil tak hentinya bersyukur kepada Sang Pencipta...
Pantai yang masih sangat asri dengan panoramanya yg seksi,ya Allah ternyata masih ada pantai yang menonjolkan keasliannya,wisata yang sangat murah walaupun perjalanan yang ditempuh lumayan bikin lelah sedikit,tetapi tak terasa karena keinginan untuk bertemu sang pantai begitu kuat dihati kami.
Malam itu kami habiskan bersama,dgn gemuruh ombak yg menyambut kehadiran kami....angin lumayan cukup kencang,begitu pula ombaknya memukul mukul tetapi tetap ramah menyambut kami.
Malam pun kami lalui dengan rasa gelisah karena ingin cepat pagi,ah anak2 sudah tak tahan ingin bermain lagi dgn nya..
Alhamdulillah ba'da subuh...semua berhamburan menuju pantai yang tak jauh dari penginapan....
Teringat kata anakku...Mushab...."ummi aku suka sekali pantai,bisa tidak kita bawa pulang....kami pun tersenyum mendengarnya...
Tak kalah hebohnya ketika anakku Yusuf ingin tinggal disini dan tak mau pulang kerumah kami...
Bahagia rasanya karena kami bisa menepati janji kami kali ini pd anak2,mereka berenang dan bermain dengan riaknya air dan gelombang ombak yang memukul2 nakal,mereka pun berhamburan ....lucu sepeti bermain kejar2ran...
Selesai si kecil merasa lapar,kupesan 2 mangkuk mie rebus pengganjal lapar karena lelah bermain sambil memandangi suami dan anak2ku menghabiskan waktu bersama ombak pantai ujung genteng...
Terbukalah pintu rumah nelayan disebelah penginapan kami,4 anak dan orangtua mereka sedang menikmati singkong goreng,...nikmat sekali...ingin rasanya kutukar mie dan biskuit ini dengan beberapa potong singkong goreng yang sedang dikerumuni penggemarnya.
Sambil melahap sarapan nya mereka memandangi aku dan anakku yang sedang menyantap mie rebus...Ah ada rasa tak enak memang,ku pikir mungkin mereka sedang menunggu ibu mereka yg sedang memasak nasi,ternyata itu adalah sarapan pagi dan siang bagi mereka...
Keluarlah sang ayah dengan peralatan lengkap memancingnya...suamiku bertanya kepadanya,mengapa tidak ada nelayan yg turun kelaut....ternyata sudah beberapa hari cuaca sedang tidak baik....angin dan ombaknya tak bersahabat katanya ...lalu sang nelayan pun dengan gagahnya mengarungi ombak menuju bibir laut untuk memencing....oh anak-anakku terkagum2 melihatnya,gagah dan berani,...kami pun bermain sambil tak memandangi sang nelayan.
Siang itu tukang sayur memanggil warga yang ada ditepian pantai,keluarlah si ibu dan anak2nya untuk belanja...sekali lagi dada ini berdetak kencang dan ada rasa sakit seperti dipukul menyaksikannya,"bang beli oncom 2ribu rupiah...dan 3 potong kecil oncom diraih si ibu...dan mereka pun masuk kedalam rumah.Ada suara anak kecil yang menangis,aku hanya terpaku mendengarnya.
Ya Allah itu makan siang yang dipersiapkan sang ibu sambil menunggu suaminya kembali dari memancing....tibalah waktu dzuhur sang nelayan pulang dengan tangan kosong,suamiku berharap sekali membelinya...dengan harapan bisa membantunya karena sudah kuceritakan kejadian yg kulihat pada suamiku.
Tak lama kemudian anak2 sang nelayan mengerumuni ibu mereka,yg sedang memarud singkong,dan sekali lagi ingin menangis rasanya melihat mereka... pagi tadi singkong goreng, siang ini karena tak ada hasil yg dibawa sang ayah untuk ditukar dengan beras...mereka makan singkong lagi dan oncom...diam2 kami memandangi mereka bersama anak2 ...kukatakan pada mereka "lihat nak mereka mau makan saja sulit tak ada yg bisa dimakan karena orang tua mereka tak punya uang untuk membelinya...."
Apakah kalian sekarang masih ingin susah makan dan menyisahkankan makanan kalian kalau tdk habis?....serentak mereka pun menggeleng dan kulihat ada air mata yg menetes pada salah satu anakku....
Subhanalah rihlah kali ini membawa ibroh bagi kami dan anak2...dan inilah kurasa momen terbaik mengajarkan untuk banyak bersyukur sambil mengajarkan berbagi...
Ya Allah selama ini kami hanya melihat dan mendengar dari media,berita2 bagaimana kehidupan nelayan sangat sulit...ternyata lebih pedih dari yg kami dengar beritanya
Untuk mendapatkan bahan bakar solar untuk perahu2 mereka ada 4 surat yg harus mereka tanda tangani,belum lagi ketika mereka ingin membeli ke pom terdekat sering ditolak dan dikatakan habis sedang untuk pengendara lain ada...
Terkadang aku bingung apa yg menyebakan perbedaan profesi sebagai nelayan dan profesi lainnya?
Dulu menjadi pelaut adalah kebanggan,sampai ada lagunya....
Nenek moyang ku seorang pelaut,gemar mengarung luas samudera...
Kebanggaan...tapi sekarang sepeti terlupakan keberadaan mereka,yang bisa melaut adalah kapal besar dan kapal pukat dan sudah pasti bukan milik pelaut yang sekarang pun untuk makan saja sulit sekali.
Ketika itu kami berangkat 2 hari sebelum kenaikan BBM...5 pom yg kami temui habis...ya Allah dampaknya sangat mengerikan menurutku,karena mata pencaharian mereka sebagian besar adalah dari berlaut ...lalu dari mana mereka mendapatkan bahan bakar untuk melaut dengan perahu perahu kecil milik mereka dan kenyataan banyak mereka hanya pesuruh bagi pemilik perahu...
Membeli bahan bakar perahu untuk berlayar mereka dapatkan dari berhutang,sekarang dgn BBM naik ...ya Allah benar2 kehidupan yang sangat sulit...dan itu adalah penomena yang terjadi dikehidupan para nelayan,yang terpuruk semakin terpuruk saja...
Objek wisata belum terlihat membantu kehidupan mereka...karena rumah2 mewah yg ada disitu bukan milik penduduk asli tetapi milik orang Jakarta atau orang yg berada diluar daerah itu ...begitulah kata mereka.
Allah seperti mengirimkan kami kesana untuk melihat bagaimana kehidupan para nelayan dan banyak belajar banyak bersyukur pada Allah,Robb yang Maha baik.
Penduduknya yang ramah,tetapi kehidupan mereka terbelakang dan seperti tenggelam terhempas ombak tepian pantai Ujung Genteng yang sangat indah.
Ya Allah kerinduan yang amat sangat ketika kami meninggalkanmu pantai Ujung Genteng....
Lambayan tangan dan jalinan tangan kami dengan keluarga sang nelayan seolah menitipkan jeritan mengharap adanya perhatian pada sang pengusa negeri ini ...mereka ingin dianggap keberadaan mereka nyata adanya.
Semoga pemerintah lebih jeli atas kehidupan para nelayan,apalagi kenaikan BBM berdampak sangat hebat bagi kelangsungan hidup mereka.
Padahal pantai ujung genteng sangat berpotensi sekali sebagai objek wisata yang bisa jadi pilihan,apalagi dengan adanya penangkaran penyu...juga keaslian yang masih terjaga....
Pokoknya untuk para sahabat menurut aku sangat rugi kalau tidak berlibur ketempat yang sangat indah ini,walaupun kami belum sempat melihat penyu penyu kecil dilepas kelaut,karena jalan yang kami tempuh agak berat setelah hujan turun sebelumnya.Lain kali kami pasti kembali,karena panoramanya membuat hati kangen.
Coret coret buat puisi sedikit ah
UJUNG GENTENG
Jeritan bukan lagi jeritan tapi ratapan yang tak berujung
Tangisan hanya suara sumbang yang terdengar serak juga lirih,
tak ada linangan air mata yang menggenang seolah
Tertelan oleh suara deburan ombak,juga terhempas angin tepian pantai
Menenggelamkan rasa lapar dan pedih dalam laut yang dalam
Jeritan hati,dan tangisan sudah bukan tren bagi mereka
Karena mereka yakin Allah ada,dan pasti menghitung doa doa yang termunajah
Pengharapan hidup kan berubah,mereka nikmati dengan rasa terhibur dengan indahnya
kampung halaman mereka,
Laut,Pantai,Pelaut dan BBM...apalah itu,tetapi mereka ada dan nyata
menjadi satu rantai kehidupan yang tak bisa terlepas,
......................
Sunday, June 2, 2013
Kurasakan Nikmatnya Keajaiban Sedekah

Pengalaman ini ditulis oleh wanita yang bernama Alma. Ia ingin berbagi kisah dan pelajaran dengan pembaca lainnya tentang keajaiban sedekah yang baru-baru ini dialami Alma. Yuk, kita simak kisahnya.
Nama saya Alma dan saya sering membaca kisah inspiratif dari berbagai media. Kisah-kisah itu sangat menyentuh batin dan membuat saya lebih termotivasi untuk hidup lebih baik. Namun ketika kita mengalaminya sendiri, rasanya seperti keajaiban, ya?
Saya punya pengalaman saat saya masih sering bergulat dalam kehidupan masa remaja. Saya punya uang, tapi tidak tahu cara menggunakannya. Begitu uang itu habis, saya tidak sadar apa yang sudah saya lakukan.
Tiba-tiba sudah beli ini dan itu yang sebenarnya tidak begitu saya butuhkan. Atau sudah masuk perut dan bikin perut ini makin buncit. Sepertinya saya membeli kesenangan dengan uang yang saya miliki, namun hal itu jarang saya sadari dan tidak benar-benar membuat saya bahagia.
Saya hobi browsing di internet. Suatu hari saya menemukan bacaan-bacaan dari inspirator muda yang banyak muncul belakangan ini. Mereka mengisahkan banyak pengalaman nyata tentang sedekah. Rata-rata intinya, 'kalau sudah sedekah, nanti uangnya kembali lagi'. Itulah anggapan polos saya saat itu.
Saya melihat blog-blog mereka dan menemukan banyak foto orang-orang yang tidak lebih beruntung dari kondisi saya sekarang. Mereka sakit, mereka ingin sekolah lebih dari kondisi yang mereka miliki saat ini. Saya tergerak ingin membantu meringankan masalah, ingin ikut membuat mereka tersenyum dan berbagai alasan yang tak terjelaskan dengan kata-kata.
Saya pun mulai menyisihkan uang, mungkin tidak banyak, namun semoga bisa membantu. Menurut saya, meski kecil, ada sebuah kebahagiaan dan kepuasan tersendiri ketika saya bisa berbagi dengan uang yang saya miliki.
Di sisi lain, saya tidak banyak merasa bahwa uang saya habis, meski pengeluaran saya bertambah. Ada keteraturan yang terjadi dalam keuangan saya, bahkan bukannya berkurang, malah semakin bertambah. Mungkin bukan dalam masalah jumlah, namun saya selalu bisa merasa cukup.
Keajaiban Itu Ada
Saya percaya dengan hukum sebab akibat. Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Namun saya tak pernah berpikir bahwa keajaiban akan datang pada saya .
Suatu hari adik saya terlibat masalah utang hingga puluhan juta. Ia kalang kabut mencari pinjaman. Sebagai kakak, saya pun turut membantu. Namun kami bukan orang kaya yang punya banyak uang dan investasi.
Selama satu minggu kami berpikir keras, mencoba mendapatkan tambahan uang. Sebagian besar gaji, saya berikan pada adik saya. Saudara yang lain pun ikut membantu. Untunglah orang yang terlibat kasus hutang dengan adik saya mau memberikan toleransi waktu.
Sedikit demi sedikit kami kumpulkan uang untuk menyicilnya. Untung saya terbiasa menyisihkan uang untuk sedekah, jadi tak terasa berat. Untuk sementara, kami memang harus tirakat. Menahan keinginan ngafe, karaoke, belanja ini itu. Lebih baik susah sekarang, pikir saya, daripada kami harus jatuh kepada lubang yang lebih dalam. Sayapun menyarankan pada adik agar lebih hati-hati menggunakan uang.
Nominal uang itu sedikit-sedikit tidak etrasa saat digunakan, namun tanggung jawabnya sangat besar. "Iya, Kak. Maaf ya, Kak. Aku jadi nyusahin semua orang," kata dia dengan menyesal. "Sudah terjadi, Dek. Buat pembelajaran saja," kata saya.
Rejeki itu selalu datang tepat pada waktunya. Tibalah hari di mana kami hampir tak punya uang lagi padahal sudah dekat jatuh tempo. Ternyata hari tersebut bertepatan dengan hari pembagian bonus kerja yang alhamdulillah bisa menutup kekurangan, bahkan lebih.
Seperti ada tangan lain yang menyelesaikan permasalahan kami. Tak bisa dilihat, tapi bisa dirasakan, seperti harapan dan keajaiban. Itulah apa yang saya pikirkan saat itu.
Saya tidak bilang bahwa uang ini datang dari langit sehingga saya katakan ini adalah keajaiban. Namun saya ingat kata bapak, "Rejeki itu sudah ada jalannya sendiri. Memang harus diusahakan dan sebisa mungkin yang barokah."
Jangan Takut Kekurangan
Dalam hidup, uang itu penting. Saya akui itu. Lebih penting lagi, untuk tahu bagaimana menggunakannya. Jangan blank saat berhadapan dengan apa yang kita miliki. Manfaatkan sebaik mungkin.
Dan saya percaya hidup ini harus dinikmati, tapi juga menjadi waktu mencari bekal untuk akhirat nanti. Dulu saya takut miskin. Tentu saja, karena uang saya tak akan pernah cukup untuk memenuhi keinginan saya yang tak terbatas.
Namun berbagi dengan sedekah dan hati yang ikhlas tak akan membuat saya miskin. Itu adalah tabungan saya untuk kehidupan di akhirat kelak.
Sumber:Vemele.com
Tuesday, May 21, 2013
Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu
![]() |
| http://maryani-lisbeth.blogspot.com/ |
Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”
Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”
Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.”
Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.
Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.
Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”
Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”
Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.
Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar.
Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”
Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya.
Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya.
Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)
Subhanallah…….
Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
▼
2013
(187)
-
▼
November
(9)
- Cukuplah Allah yang Menyelesaikan Urusan Kita
- Kita dan Masalah
- Na’am! Kita Ahlus Sunnah wal Jamaah
- INILAH MENGAPA ISLAM MELARANG MENYAMBUNG RAMBUT
- Cerita Penasihat Presiden tentang Permintaan Puter...
- Kisah Keluarga Penghafal Qur'an yang Luar Biasa
- Menag: “Rahmah El Yunusiah Sangat Layak Menjadi Pa...
- Fathimah az-zahra R.ha dan Gilingan Gandum
- 10 Adab Jima’
-
▼
November
(9)


