Hisablah dirimu sebelum dihisab, Sesungguhnya berintropeksi bagi kalian
pada hari ini lebih ringan daripada hisab di kemudian hari. Begitu juga
dengan hari 'aradl (penampakan amal) yang agung.
(Umar bin Khatab)
Manusia yang berakal ialah manusia yang suka menerima dan meminta nasihat.
(Umar bin Khatab)
Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki Allah pula pada yang nyata di wajahnya.
(Umar bin Khatab)
Barangsiapa
menempatkan dirinya di tempat yang dapat menimbulkan persangkaan, maka
janganlah menyesal kalau orang menyangka buruk kepadanya.
(Umar bin Khattab)
Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata lemah-lembut.
(Umar bin Khattab)
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.
(Umar bin Khatab)
Didiklah
anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang kerana mereka
telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau.
(Umar bin Khattab)
Aku
mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik
daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi
tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan
tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik
daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi
tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.
(Umar bin Khatab)
Aku
khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan.
keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatn.
Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.
Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyu namun sibuk ddalam
kesendirian. Ada yang murah senyum tapi hatinya cemberut. Ada yang
berlisan bijak tapi tidak memberi teladan & ada pezina yang tampil
jadi figur.Ada orang punya ilmu tapi tidak paham, ada yang paham tapi
tak menjalankan.Lalu diantara semua itu di mana kita berada?
(Ali bin Abi Thalib)
Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu.
Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi
kekasihmu.
(Ali bin Abi Thalib)
Mereka yang mencari kesalahanan dirinya sendiri akan selamat daripada mencari kesalahan orang lain.
(Ali bin Abi Thalib)
Sabar ada dua, yaitu: sabar terhadap apa yang engkau benci, dan sabar terhadap apa yang engkau sukai. (Ali bin Abi Thalib)
Sampingkan kebanggaanmu, Redakan kesombonganmu, dan Ingatlah kuburanmu.
(Ali bin Abi Thalib)
Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya
(Ali bin Abi Thalib)
Tenangkanlah hati dalam waktu-waktu tertentu, kerana jika hati itu merasa letih ia akan menjadi buta.
(Ali bin Abi Thalib)
Ilmu
itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga
harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang
apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.
(Ali bin Abi Thalib)
Nilai
seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan
kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya
terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar
kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.
(Ali bin Abi Thalib)
Orang
yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan,
sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani.
(Ali bin Abi Thalib)
Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
(Ali bin Abi Thalib)
Ketahuilah
bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat
kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh
itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh
permasalahan akan rusak.
(Ali bin Abi Thalib)
Selemah-lemah
manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih
lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari.
(Ali bin Abi Thalib)
Orang yang riya memiliki beberapa ciri: Malas jika sendirian dan rajin
jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika
dipuji dan semakin berkurang jika dicela.
(Ali bin Abi Thalib)
Jika tidak ada lima sifat tercela ini, niscaya manusia seluruhnya akan
menjadi shalih. Kelima sifat tercela tersebut adalah: pertama, merasa
senang dengan kebodohan; kedua, rakus terhadap harta dan kemewahan
dunia; ketiga, bakhil dengan kelebihan harta yang dimiliki; keempat,
riya dalam setiap amal yang dilakukan; dan kelima, senantiasa
membanggakan pendapat sendiri.
(Ali bin Abi Thalib)
Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi darinenek moyang.
(Ali bin Abi Thalib)
Selemah-lemah
manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih
lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari
(Ali bin Abi Thalib)
Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup akan terasa setelah lelah berjuang.
(Imam Syafi'i)
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang.
(Imam Syafi'i)
Singga kalau tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
(Imam Syafi'i)
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan kepadanya dan enggan memandang.
(Imam Syafi'i)
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tidak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
(Imam Syafi'i)
Yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini adalah ''Kematian'',
karena kita tidak pernah tau kapan ajal datang menjemput dan setiap yang
bernyawa pasti akan merasakan mati.
Yang paling jauh dengan diri kita di dunia ini adalah ''Masa Lalu'',
karena apapun usaha yang kita tempuh, apapun kendaraan yang akan kita
gunakan, tetap tidak dapat mengantarkan kita kembali ke masa lalu.
Yang paling besar di dunia ini adalah ''Hawa Nafsu'', berhati-hatilah dengannya.
Yang paling berat di dunia ini adalah ''Memegang Amanah''.
(Imam Ghozali)
Seorang mukmin itu pemimpin bagi dirinya sendiri. Ia mengintrospeksi
dirinya karena Allah. Sesungguhnya hisab pada hari kiamat nanti akan
ringan bagi mereka yang telah mengadakannya di dunia.Dan sebaliknya
hisab akan berat bagi kaum yang menempuh urusan ini tanpa pernah
berintrospeksi. Dia tidak merasa aman sampai berjumpa dengan Allah. Dia
tahu bahwa pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota badan, semuanya
akan dimintai pertanggungjawaban.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Diantara tanda berpalingnya
Allah Subhanahu Wata'ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan
kesibukannya pada hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Wahai anak Adam, (masa) siangmu adalah tamumu, maka berbuat baiklah
terhadapnya. Karena sungguh, jika engkau berbuat baik kepadanya,
niscaya dia akan pergi dengan memujimu. Dan apabila engkau berbuat
buruk terhadapnya maka dia akan pergi dengan mencercamu, begitu pula
dengan malammu.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini
bukan pada hari esok. Kalaulah esok hari menjadi milikmu, maka jadilah
kamu seperti pada hari ini. Kalau esok tidak menjadi milikmu, niscaya
kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Wahai anak Adam, injaklah bumi ini dengan kakimu. Sungguh, sekecil
apapun dia, pasti bakal menguburmu. Sesungguhnya engkau itu senantiasa
sedang mengurangi usiamu, semenjak engkau dilahirkan dari perut ibumu.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Wahai anak Adam, engkau dapati pagimu berada di antara dua waktu,
yang keduanya tak mungkin meninggalkanmu, yakni bahayanya malam dan
bahayanya siang. Sampai engkau mendatangi negeri akhirat, yang bisa
jadi engkau datang ke al-jannah (surga) dan bisa jadi engkau ke an-nar
(neraka). Maka siapakah yang lebih besar bahayanya daripada dirimu
sendiri?
(
Imam Hasan Al Bashri)
Wahai anak Adam, engkau hanyalah (laksana) hari-hari yang setiap
kali berlalu satu hari maka hilanglah pula sebagian dari dirimu.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya,
(karenanya hendaknya ia senantiasa) mengintrospeksi diri karena Allah
semata.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Adalah hisab (perhitungan amal) di Yaumul Qiyamah nanti akan terasa
lebih ringan bagi suatu kaum yang (terbiasa) mengintrospeksi diri
mereka selama masih di dunia, dan sungguh hisab tersebut akan menjadi
perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini
sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Sesungguhnya seorang mukmin (apabila) dikejutkan oleh sesuatu yang
dikaguminya maka dia pun berbisik: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar
sangat menginginkanmu, dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan.
Akan tetapi demi Allah, tiada (alasan syar’i) yang dapat menyampaikanku
kepadamu, maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya. Ada yang menghalangi
antara aku denganmu’.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Dan (jika) tanpa sengaja dia melakukan sesuatu yang melampaui batas,
segera dia kembalikan pada dirinya sendiri sembari berucap: ‘Apa yang
aku maukan dengan ini semua, ada apa denganku dan dengan ini? Demi
Allah, tidak ada udzur (alasan) bagiku untuk melakukannya, dan demi
Allah aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya Allah’.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Sesungguhnya seorang mukmin adalah suatu kaum yang berpegang erat
kepada Al Qur`an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Al
Qur`an serta berpaling dari (hal-hal) yang dapat membinasakan diri
mereka.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Sesungguhnya seorang mukmin di dunia ini bagaikan tawanan yang
(selalu) berusaha untuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah
merasa aman dari sesuatupun hingga dia menghadap Allah, karena dia
mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban atas semua
itu.”
“Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama dia memiliki
penasehat dari dalam dirinya sendiri. Dan mengintrospeksi diri merupakan
perkara yang paling diutamakan.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Allah merahmati seseorang yang berfikir pada awal perencanaannya,
apabila (rencananya itu) karena Allah ia lanjutkan, dan apabila karena
selainnya ia tinggalkan.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Swt. Menjadikan
seorang pemimpin yang adil itu sebagai penolong bagi setiap yang
dianiaya, reformis bagi setiap kerusakkan, kekuatan bagi si Lemah,
pembela bagi setiap yang dizhalimi, penghibur bagi yang berduka.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang penggembala
unta yang penuh belas kasihan pada para gembalaannya Dia memilihkan
padang rumput yang terbaik untuk gembalaannya. Dia melindunginya dari
segala mara bahaya yang dapat membinasakannya. Dia menjaganya dari
binatang buas dan dari segala penyakit diwaktu dingin dan panas.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang ayah yang
menyayangi anaknya. Dia memeliharanya di waktu kecil dan mengajarinya
ketika dewasa. Dia memberikan nafkah mereka semasa hidupnya dan
memberikan warisan harta ketika dia meninggal dunia.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin seperti seorang ibu yang penuh
belas kasihan terhadap anaknya dengan mengandungnya dan dibawa kemana
saja ia pergi dengan susah payah Ia menyayangi anaknya ketika kecil,
bangun/terjaga ketika anaknya bangun, dan diam/tenang ketika anaknya
berada disisinya Menyusuinya sampai batas menyapih. Gembira ketika
anaknya sehat. Sedih, ketika anaknya sakit.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin, kedudukannya seperti hati
diantara anggota tubuh lainnya, jika hatinya bersih maka perbuatannya
akan baik begitu juga jika hatinya kotor maka amal perbuatannya jelek
dan buruk.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Imam yang adil itu wahai Amirul Mukminin, yang berdiri tegak antara
Allah dan hamba-hamba-Nya. Dia mendengar kalam Allah dan mendengarkan
ucapan mereka. Dia memandang Allah dan memperhatikan mereka. Dia patuh
dan taat kepada Allah dan ditaati kepemimpinannya oleh mereka. Oleh
karena itu wahai Amirul Mukminin janganlah engkau celakakan dirimu
sendiri dengan mengkhianati amanah ini seperti seorang hamba sahaya yang
diberikan amanah untuk menjaga dan melindungi harta dan keluarganya,
tetapi dia berkhianat dan membuat semuanya berantakan sehingga dia
akhirnya membuat sengsara diri dan keluarganya sendiri.
(
Imam Hasan Al Bashri)
Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah menurunkan
hukum-hukumnya agar dapat mencegah manusia dari semua perbuatan keji,
maka janganlah perbuatan itu datang darimu! Dan Allah menurunkan hukum
qishash agar dapat menjaga kelanggengan kehidupan manusia di muka bumi,
janganlah engkau membunuh orang yang tidak berdosa dan lemah!
(
Imam Hasan Al Bashri)
Jika pintu kebaikan dibukakan
untuk Anda, maka bergegaslah menuju ke sana. Karena Anda tidak tahu
kapan pintu itu akan ditutup.
(Khalid bin Ma’dan)
Perhatikanlah diri Anda dalam tiga
keadaan. (1) Jika Anda beramal, maka ingatlah pandangan Allah kepadamu,
(2) jika Anda berbicara, maka perhatikanlah pendengaran Allah atas
ucapanmu dan (3) jika Anda diam, maka perhatikanlah pengetahuan Allah
tentang dirimu.
(Hatim al-Asham)
Obat hati ada lima : (1) Membaca
al-Qur’an dengan disertai tadabbur (merenungkan maknanya), (2)
mengosongkan perut (berpuasa), (3) shalat malam, (4) Berdoa dan memohon
ampunan di penghujung malam dan (5) bermajelis bersama orang-orang
shalih.
(Ibrahim al-Khawwash)
Orang yang berbicara berbeda dengan orang yang bekerja. Orang yang
bekerja berbeda dengan orang yang berjihad. Orang yang berjihad saja
berbeda dengan orang yang berjihad produktif. Itulah aktivitas yang akan
menghasilkan keuntungan besar dengan sedikit pengorbanan.
(Imam Hasan Al-Banna)
Pemisahan agama dari politik itu bukan ajaran islam. Pemisahan itu
tidak pernah dikenal oleh kaum muslimin yang jujur dalam beragama dan
paham akan ruh ajarannya.
(Imam Hasan Al-Banna)
Sistem Pendidikan harus dibangun diatas kerangka kuat yang memungkinkan
generasi muda memiliki imunitas keislaman, kesempurnaan akhlak,
pengetahuan memadai tentang ajaran agama mereka, dan kebanggaan terhadap
kejayaan peradabannya yang agung.
(Imam Hasan Al-Banna)
Kekuatan jiwa itu terekspresikan dalam tekad membaja yang tak pernah
melemah, kesetiaan teguh yang tidak tersusupi penghianatan, pengorbanan
yang tidak terbatasi oleh keserakahan dan kekikiran, pengetahuan dan
keyakinan, serta penghormatan yang tinggi terhadap ideologi yang
diperjuangkan.
(Imam Hasan Al-Banna)
Pejuang Muslim adalah seorang guru, mestinya memiliki semua sifat yang
ada pada seorang guru yaitu cahaya, hidayah, rahmat dan
kelemahlembutan.
(Imam Hasan Al-Banna)
Iman tidak akan punya arti apabila tidak disertai dengan amal. Aqidah
tidak akan memberi manfaat bila tidak mendorong penganutnya untuk
berbuat dan berkorban demi mewujudkannya menjadi kenyataan."
(Imam Hasan Al-Banna)
Saya
dapat menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi
mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada
segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di
atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut
seruan itu.Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan
permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya.
Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan
kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya. Anda dapat membaca
hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola
matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu
terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat
besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya.
Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.
Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas
mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk
bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang,
dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin.
(Imam Hasan al-Banna)
Bangunlah segera untuk melakukan sholat apabila mendengara adzan walau bagaimanapun keadaannya.
Baca, Telaah dan dengarkan Al-Quran atau dzikirlah kepada Allah dan
janganlah engkau menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak
ada manfaatnya.
(Imam Hasan al-Banna)
Bersungguh-sungguhlah untuk bisa berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
(Imam Hasan al-Banna)
Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang pembicaraan sebab hal ini semata-mata tidak akan mendatangkan kebaikan.
(Imam Hasan al-Banna)
Jangan banyak tertawa sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (dzikir) adalah tenang dan tentram.
(Imam Hasan al-Banna)
Jangan bergurau karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus-menerus.
(Imam Hasan al-Banna)
Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal ini akan mengganggu dan menyakiti.
(Imam Hasan al-Banna)
Jauhilah dari membicarakan kejelekan orang lain atau melukainya dalam bentuk apapun dan jangan berbicara kecuali yang baik.
(Imam Hasan al-Banna)
Berta’aruflah dengan saudaramu yang kalian temui walaupun dia tidak
meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan ta’awun (kerja
sama).
(Imam Hasan al-Banna)
Pekerjaan rumah kita sebenarnya lebih bertumpuk dari pada waktu
yang tersedia, maka manfaatkanlah waktu dan apabila kalian mempunyai
sesuatu keperluan maka sederhanakanlah dan percepatlah untuk
diselesaikan.
(Imam Hasan al-Banna)
Dari
seluruh manusia yang ada, hanya sedikit yang muslim. Dari seluruh
muslim yang ada, hanya sedikit yang sadar. Dari sedikit yang sadar itu,
lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari jumlah yang sedikit dalam
berdakwah, lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari sedikit yang
berjuang, hanya sedikit yang sabar. Begitu pula dari mereka yang sedikit
dalam bersabar itu, lebih sedikit lagi yang sampai pada akhir
perjuangan.
(Imam Hasan al-Banna)
Saya dapat
menggambarkan sosok mujahid adalah seorang yang dalam kondisi
mempersiapkan dan membekali diri, berpikir tentang keberadaannya pada
segenap dinding hatinya. la selalu dalam keadaan berpikir. Waspada di
atas kaki yang selalu dalam kondisi siap. Bila diseru ia menyambut
seruan itu.Waktu pagi dan petangnya, bicaranya, keseriusannya, dan
permainannya, tidak melanggar arena yang ia persiapkan diri untuknya.
Tidak melakukan kecuali misinya yang memang telah meletakkan hidup dan
kehendaknya di atas misinya. Berjihad di jalannya. Anda dapat membaca
hal tersebut pada raut wajahnya. Anda dapat melihatnya pada bola
matanya. Anda dapat mendengarnya dari ucapan lidahnya yang menunjukkanmu
terhadap sesuatu yang bergolak dalam hatinya, suasana tekad, semangat
besar serta tujuan jangka panjang yang telah memuncak dalam jiwanya.
Jiwa yang jauh dari unsur menarik keuntungan ringan di balik perjuangan.
Adapun seorang mujahid yang tidur sepenuh kelopak matanya, makan seluas
mulutnya, tertawa selebar bibirnya, dan menggunakan waktunya untuk
bermain dan kesia-siaan, mustahil ia termasuk orang-orang yang menang,
dan mustahil tercatat dalam jumlah para mujahidin.
(Imam Hasan al-Banna)
Baiknya batin
sebenarnya akan menampakkan baiknya lahiriyah walaupun seseorang tidak
memiliki rupa yang elok. Sebenarnya, seseorang akan semakin elok karena
semakin baiknya batin yang ia miliki. Seorang mukmin akan mendapatkan
keelokan tersebut tergantung pada kadar imannya. Jika yang lain
melihatnya, maka pasti akan menaruh perhatian padanya. Dan siapa saja
yang berinteraksi dengannya, pasti akan mencintainya dikarena keelokan
yang tampak ketika memandangnya. Maka boleh jadi engkau melihat orang
yang sholeh dan sering berbuat baik serta memiliki akhlak yang mulai,
engkau lihat kelakuannya sungguh amat baik, padahal boleh jadi wajahnya
itu hitam dan kurang menarik. Lebih-lebih jika Allah memberinya karunia
(dengan wajah yang cerah) karena dia giat shalat malam. Sungguh shalat
malam itu akan membuat wajah semakin cerah dan indah kala dipandang.
(Ibnu Qayim)
Niat adalah
ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika
niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka
perbuatan itu buruk.
(Imam An Nawawi)
=