Thursday, February 28, 2013

Surat Untuk Suamiku Tercinta



Wahai suamiku..


Demi ALLAH, jika saja cinta kepada makhluk menjadi junjungan tertinggi dari tiap hamba, maka ketundukan dan sujud ini ku hibahkan padamu.

Namun, demi ALLAH, setinggi-tingginya cinta adalah untuk Rabb-ku, maka ku menolak cinta seorang Juliet pada Romeo ataupun Laila pada Qais nun majnun, karenanya.. ajarkanlah aku mencukupi diri dengan muhabbah sbaik-baiknya muhabbah pada ALLAH yang tlah mempertemukan kita dan Rasul sebagai tauladan tertinggi kita, agar dapat kucintai kau dengan makna cinta yang paling tinggi, yakni karena ALLAH dan untuk mendekati ALLAH.

Jika kecantikan duniawi di atas segalanya, maka demi ALLAH, akan kukejar sedaya upaya meraih indah dunia ini untuk membuatmu terbius oleh keelokanku. Kupenuhi detik hariku dengan berbagai warna gincu dan celak mata.

Namun, demi ALLAH, taqwa adalah sbaik-baiknya perhiasan diri, karenanya..ajarkanlah aku memperhias-diri dengan semulia-mulianya akhlak sebagai istri yang shalihah. Yang senantiasa memperbagus lisan serta geraknya. Memaniskan diri dengan tawadhu dan kebersahajaan.

Jika kekayaan harta pantas menjadi buruan setiap jiwa, maka demi ALLAH, akan kupinta berpuluh pilar yang memenuhi rumah kita nanti. Emas dan mutiara akan menjadi rengekanku sepanjang siang dan malam.

Namun, demi ALLAH, dunia beserta seisinya ini bagai setetes air di bentangan samudera, karenanya.. ajarkanlah aku memenuhi hati ini dengan rasa syukur tiada kira dari tiap nafkah halal serta thayyibmu, dari 2,5% rejeki yang kita keluarkan, dan dari sedekah yang kita ikhlaskan bersama.

Aku mencintaimu karena ALLAH…

JazakamuLlah untuk setiap cinta, doa, sabar serta energi semangat yang trus kau kirimkan...

RASA DALAM HENING

https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash3/561922_183189681799962_1175106621_n.jpg

Ada rasa yg tak terungkap
tersimpan,tapi menekan
Menyelusup disetiap aliran darah
menyesakkan dada seolah ingin tumpah

Apapun rasa itu kucoba menyimpannya rapat
berat,namun tetap kucoba
Kucoba dan terus kucoba,
Tapi rasa itu benar2 tak dpt tersimpan

Dimalam yg hening
kucoba datang menjumpai-MU
Air mata yg teratuh,segala rasa tak menentu
Kucoba menjabarkannya satu persatu

Begitu hening sehingga kutak mampu menyimpannya
Terkuak,kucoba mengadu pada-MU
Ada rasa sakit dan sesak,kumohon pada-Mu
ya Robb ku aku tak ingin rasa itu ada

Rasa yg tak dapat kuungkap
tapi ketika aku didekat-MU
semua cair,menyeruak menjadi tangisan
Ya Allah ampuni segala dosaku

Rengkuh aku dalam damainya cinta-MU
Bawa aku dalam indahnya kasih-MU
Ya Robb sujudku tak cukup,..
Rasa terungkap,...Dekap aku jangan terlepas


Maryani Lisbeth Manurung

CANTIK



Mengapa dicari secantik Balqis, andai diri tidak sehebat

Sulaiman..Mengapa mengharap teman setampan Yusof jika kasih tidak setulus Zulaikha..


Mengapa mengharap teman seteguh Ibrahim andai diri tidak sehebat Siti Hajar..

Mengapa didambakan teman sehidup yang sempurna Muhammad jika ada keburukan pada diri..

Bimbinglah dirinya dan terimalah kekurangan itu sebagai keunikan..Carilah kebaikan itu pada dirinya. Bersyukurlah kerana dipertemukan dengannya dan berdoalah dia milikmu


Daripada Imam Ahmad dan Imam Muslim, daripada Umar r.a., Rasulullah sallallahualaihi-wasallam bersabda : “Bermula dunia ini ialah kesukaan dan keseronokan dan sebaik-baik kesukaan itu ialah perempuan yang solehah.

Cinta-MU


Maafkanlah bila hati tak sempurna mencintai-MU...
Dalam dada kuharap hanya dirimu yang bertahta...
Kusadar terkadang hati ini lemah dalam mencintai-MU,
Tapi cinta-MU selalu sempurna untuk ku

Terkadang aku jatuh dan rapuh dalam langkah,
Tenggelam dalam lara, Engkau rangkul aku dalam dekapan cinta-MU..
Tersadar hati dalam nista...Istigfar ku penuh dalam rongga dada ,terlafazh dari bibir yang kelu...
Maafkanlah hati ini yang terkadang tak setia

Air mata tak terbendung,menjadi teman setia dikala lara menyapa
Sesaknya diri akan dosa,membutaku malu akan cinta-MU
Langkah panjang yang penuh onak dan duri,berhias tangis dan tawa
Maafkalah ketika hati lemah dalam cinta-MU

Aku takut cinta-MU pudar dariku,karena terkadang lupa tuk bersyukur,mengeluh dalam cobaan,..

Aku mohon cinta ku tak ternoda pada-MU,
Aku mohon cinta ku tak temaran karena sinar gemerlap dunia
Aku mohon kasihanilah aku
Aku mohon rahmatillah aku dalam cinta pada-MU

Kesempurnaan hanya pada-MU,


Maryani Lisbeth Manurung

Wednesday, February 27, 2013

NASYID RABBANI (MALAYSIA)

 Bismillah,..bagi sahabat2 pencinta lagu nasyid,terutama Grup nasyid Rabbani,saya  ingin sedikit mengulas tentang grup nasyid Rabbani ini.Grup Rabbani merupakan kelompok penyanyi Malaysia,beranggotakan 11 anggota yang kesemuanya pria. Suatu penampilan yang melibatkan anggota yang banyak. Karena ingin membawa suatu kelainan dari segi penampilan, gambar dan presentasi.

Grup Rabbani didirikan pada 1 April 1997. Rabbani yang berarti Yang Arif dan Yang Soleh bertujuan untuk berdakwah/menyerukan untuk diri seniri, keluarga dan masyarakat kearah kebaikan.



Biarpun saat ini bermunculan album-album nasyid dan telah banyak lahir dengan berbagai konsep dalam membawakannya,dan penerimaan masyarakat juga sangat baik. Tampilan Rabbani datang dengan konsep yang berbeda.
Dimulai dengan berkonsepkan nasyid klasik, melalui irama-irama yang dikutip dari Timur Tengah, Afrika dan Andalusia, kemudian diaduk dan diolah menurut selera yang sesuai dengan era yang moderen. Juga dipersembahkan sesuai dengan selera remaja. 
Disamping itu ditampilkan dengan adonan musik ala melayu timur dan dikombinasikan dengan adonan musik timur tengah. Dan kini Rabbani muncul pula dengan konsep yang lebih global dalam bidang musik tanpa mengurangi kualitas pesan yang akan disampaikan dengan menampilkan world music(musik dunia) dalam lagu-lagu terbarunya. 
Ini adalah untuk menjadikan irama nasyid ini akan terus segar dari waktu ke waktu dan terus diminati oleh semua kalangan tanpa mengira batas bangsa dan negara.

Namun dalam menyampaikan irama nasyid ini pesan adalah yang paling utama sekali dengan berpersepsikan bentuk nasihat, dakwah dan panduan. Setidaknya sedikit demi sedikit pendidikan secara tidak langsung itu berhasil masuk ke ruang pikiran sambil berhibur. Karena itu juga bisa mendorong sikap kita ke arah kebaikan.....

 
Nama-nama Personel Rabbani saat ini :
(Zul) Zulkiflee bin Azman
(Rahmat) Ahmad bin Syafi’i
(Asri) Mohamad Asri bin Ibrahim | (Meninggal)
(Asri Ubai) Asri bin Ubaidullah
(Deen) Mohd Rithaudden bin Yaakob
(Lokman) Mohd Loqman bin Abd. Aziz
(Azadan) Azadan bin Abdul Aziz
Hamzah bin Hasyim
M. Afendi bin Shahbudin
Nazrul Azhar bin Tamrin
Azizan bin Khalid

1. Album 01 Rabbani (1996)
 



2. Album 02 Arah (1997)


Adab dan Sopan,    Anak Soleh,    Bidadari,    Do’a Pujian,    Epilog Budi,    Kebesaran Allah,    Kembara Cinta,    Mensyukuri Nikmat,    Selawat Nabi,    Solla’ala Yassin,    SubhanAllah.

3. Album 03 Pergi Tak Kembali (1999)



4. Album 04 Iqrar (2000)


 Iqrar,    Assalamu’alaikum,    Muhammad Ya Habibi,    Sollah Ala Yassin,    Solla ‘ Alaikah,    Kebesaran Allah ,   Berkorban Apa Saja,    Adab dan Sopan,    Hidayah,    Ingat 5 Sebelum 5,    Bidadari,    Anak Soleh,    Zikir Kifarah,    Sifatullah,    Munajat.

5. Album 05 Intifada (2000)


Intifada,    Insaf,    7 Hari,    Cahaya,    Do’a dan Pujian,    Cari Pasangan,    Ayah Ibu,    Nawaitu.

6. Album 06 Aman (2001)


Aman,    Apa Yang Kau Tahu,    Surah Yunus 5,    Kerlipan Cinta,   Surah Al Baqarah 45,    Suluh Budiman,    Khairul Bariyah,    Surah At Taubah 128 – 129,    Siramilah Taman Nurani Hadits 01 – Ilmu,    Anta Ya Rahman,    Hadits 02 – Keridhoan Allah,    Kaca Permata,    Surah Al  Qasas 58,    MaulanaHadits 03 Hijrah dan Jihad,    Irtihal
  
7. Album 07 Qiblat (2002)


Satu Qiblat Yang Sama,    Pahlawan Agama,    Hadits – Kelebihan Perkahwinan,    Pengantin Baru,    Hadits – Amalan Dikasihi Allah,    Handzalah,    Hadits – Durhaka,    Anugerah,    Setanggi Kasih,    Hadits – Kekayaan Sebenar,    Cita – cita dan Cinta,    Hadits – Balasan Tiap Amalan,    Kalimah,    Impian Hamba,    Hadits – Orang Bijak,    Musafir Kelana.

8. Album 08 Epik (2003)


Hadits 1 Syukur,    Subuh Yang Terakhir,    Bencilah Benci,   Surah Al Araf 144,    Epik,    Surah Al Hajj 11,    Agung,    Janji,    Kaulah Segalanya,    Hadits 2 Allah Tempat Berserah Diri,    Maafkanlah,    Hadits 3 Ujian Adalah Peningkatan Taqwa,    Kemenangan,    Iltizam,    Intifada.

9. Album 09 Yalla Beena (2004)


Yalla Benna,    Assalamu’alaikum,    Satu Qiblat Yang Sama,    Berkelana,    Handzalah,    Subuh Yang Terakhir,    Pengantin Baru,    Epik,    Impian Hamba,    Iltizam,    Fikirkanlah,    Musafir Kelana,    Kemenangan,    Setanggi Kasih,   Maafkanlah,   Pahlawan Agama,    Bencilah Benci,    Teman Sejati.


10. Album 10 Suara Takbir (2005)
 

Download :  Hikmah Ramadhan,    Ahlan Wasahlan Ya Ramadhan,    Dari Jauh Kupohon Maaf,    Selamat Hari Raya 1Salam Aidil Fitri,    Selamat Hari Raya 2,   Keharmonian Hari Raya,    Suatu Hari Di Hari Raya,    Tangan Kuhulur Maaf Kupohon,   Takbir,    Suara Takbir.

11. Album 11 Maulana (2007)


Intro Al Jannah,    Berpaut Pada Sabda Nu,    Rawi Berzanji 1,    Maulana,    Marhaban 1,    Rabiul Awal,    Rawi Berzanji 2,    Maulaya,   Marhaban 2,    Solla ‘Alaikah,    Rawi Berzanji 3,    Junjungan Mulia,    Marhaban 3,    Ya Rasulullah,    Rawi Berzanji 4,    Panduan,    Rawi Berzanji 5

12. Album 12 Kompilasi 1418-1428 (2007)


Ft Amy Search – Mentari Merah Diufuk Timur,    Ft Mawi – Saksi,    Surah Yassin 65,    Satu Qiblat Yang SamaIntifada,    Anak Soleh,    Hadits Al-Tirmizi,   7 Hari,    Nawaitu,    Handzalah,    Berkorban Apa Saja,    Pergi Tak Kembali,    Hadith Riwayat Bukhari Dan Muslim,    Iqrar,    Muhammad Ya Habibi,    Kerlipan Cinta,    Surah Al ‘Raaf 54,    Assalammualaikum,    Insan,    Hadits Al Tabarani.

13. Album 13 Nostalgia Nada Murni (2008)


 Bila Nur Melimpah Di Hati,    Ibu Mithali,    Al Hijrah,    Sunnah Berjuang,    Sifat 20,    Nun Di Sana,    Indahnya Hidup Bersama Illahi,   Mana Milik Kita,    Jasa Petani,    Ayyu Zikraa.

14. Album 14 Mahabbah (2009)


Kata – kata Hikmah 1,    Mahabbah,    Kata – kata Hikmah 2,    Kejora Sinar Zaman,    Kata – kata Hikmah 3,    Syahadah,    Kata – kata Hikmah 4,    Nurul Iman,    Kata – kata Hikmah 5,    Bicara Hijrah,    Kata – kata Hikmah 6,    Ya Man Satufaariq,    Kata – kata Hikmah 7,    Tanpa Agama,    Kata – kata Hikmah 8,    Inikah Pertanda.

bagi sahabat2 yang ingin Download Nasyid Rabbani berdasarkan albumnya kunjungi Blog ini ya..
http://ramadhanislam.wordpress.com/download-area/

Untuk melihat lirik dari nasyid group Rabbani yang populer, bisa dilihat disini :
http://www.liriknasyid.com

Ini daftar nama Judulnya
  


Semoga Bermanfaat,....


Tuesday, February 26, 2013

Kamu, Milikku Yang Paling Berharga

 
Aku sangat menyukai ucapan mama: "Barang milikku yang paling berharga adalah kamu!" Ucapan yang sangat menyejukkan hati dan sampai sekarang aku masih mengingatnya terus!

Papa dan mama menikah karena dijodohkan orang tua, demikianlah yang dialami para muda-mudi di jaman itu, tapi hal ini sudah umum. Di jaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi mama sangat mencintai papa, demikian juga dengan papa dan mereka tampak selalu mesra, akur bagaikan sejoli yang tak terpisahkan. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai!
 
 
Badai itu nyaris memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja! Papa dan mama bekerja diinstansi yang sama, oleh karena itu setiap hari berangkat dan pulang bersama. Suatu hari mereka kerja lembur, mengadakan stock opname di gudang, hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah.

Papa sangat letih dan lapar, sampai di rumah tidak ada makanan maupun minuman yang siap disaji. Papa yang lapar minta mama untuk menyiapkan makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi mama memang tidak stabil, ditambah lagi dengan adanya lembur, badan dan pikiran sungguh melelahkan, sehigga denagn kondisi yang labil itu, mama spontan menjawab dengan nada keras, "Mau makan dan minum, memangnya tidak bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?"

Karena papa juga terlalu capek, langsung menjawab dengan acuh tak acuh, "Kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu!" Mama langsung merespon, "Tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!"

Mendengar itu, marahlah papa, beliau langsung berteriak dengan emosi, "Kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut ya? Istri memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu?


Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari rumah ini!!!"

Mama tidak menyangka akan menerima reaksi yang begitu keras. Setelah terdiam sesaat, mama kemudian berkata sambil menitikkan air mata, "kamu ingin aku pergi, baik aku akan pergi sekarang!" Mama segera kembali ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Melihat mama masuk kamar dan berkemas-kemas, papa berkata kepada mama yang membelakanginya, "Bagus! Pergi sana! Ambil semua barang-barangmu mu dan jangan kembali lagi!"

Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata kebencian lagi yang muncul, menit demi menit berlalu, tapi mama tetap tak kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, papa kemudian
menyusul masuk kamar dan melihat mama sedang duduk diranjang penuh dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yang masih tergeletak di atas ranjang, melihat papa datang, dengan terisak-isak mama berkata, "duduklah di atas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang masa-masa perpisahan kita yang terakhir."

Merasa aneh, maka dengan sendu papa akhirnya tidak tahan juga untuk tidak bertanya, " "Untuk apa?" Sambil menangis denagn terputus-putus mama berkata, "Emas dan perak aku tidak memilikinya, "Tapi milikku yang paling berharga adalah kamu!" Kamu dan anak-anakku, aku tidak memiliki apapun...."

Meskipun kejadian itu telah lewat lama sekali, tapi aku masih mengingatnya terus sampai sekarang. Apalagi ketika mama mengucapkan kata-kata terakhir itu, papa merasa sangat tergoncang. Sejak malam itu, papapun sadar dan kembali menghormati dan menyayangi mama. Menggandeng tangan anak-anak, merangkul mama serta saling berpelukan. Kelak aku juga bercita-cita ingin mendapatkan pasangan seperti papa.

Bagaimanapun kehidupan yang kita jalani dan kita hadapi tidaklah penting. Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi peristiwa dan kejadian dalam hidup ini, terutama di saat-saat muncul 'badai' yang menguji kita.

Kisah Ibu Sibuk yang Sukses Mendidik 10 Anaknya Hafal Al-Quran


JAKARTA : Kisah nyata sebuah keluarga Muslim di Indonesia. Keluarga dakwah. Keluarga yang mampu menjadikan 10 orang buah hati mereka sebagai anak-anak yang shalih, hafal Al-Qur’an dan berprestasi.

Keluarga luar biasa itu adalah pasangan suami istri Mutammimul Ula, SH dan Dra Wirianingsih, Bc.Hk, beserta 10 putra-putri mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah, kedua orang tua ini tergolong super sibuk dengan berbagai aktivitas dakwahnya.


Mutammimul Ula adalah mantan anggota DPR RI dari fraksi PKS. Sedangkan Wirianingsih adalah Ketua Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia dan pernah pula menjadi Ketua Umum PP Salimah (Persaudaraan Muslimah) yang cabangnya sudah tersebar di 29 provinsi dan lebih dari 400 daerah di Indonesia.

Anak pertama, Afzalurahman Assalam

Putra pertama. Hafal Al-Qur’an pada usia 13 tahun. Saat tulisan ini dibuat usianya 23 tahun, semester akhir Teknik Geofisika ITB. Juara I MTQ Putra Pelajar SMU se-Solo, Ketua Pembinaan Majelis Taklim Salman ITB dan terpilih sebagai peserta Pertamina Youth Programme 2007.

Anak kedua, Faris Jihady Hanifah

Putra kedua. Hafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun dengan predikat mumtaz. Saat tulisan ini disusun usianya 21 tahun dan duduk di semester 7 Fakultas Syariah LIPIA. Peraih juara I lomba tahfiz Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh kerajaan Saudi di Jakarta tahun 2003, juara olimpiade IPS tingkat SMA yang diselenggarakan UNJ tahun 2004, dan sekarang menjadi Sekretaris Umum KAMMI Jakarta.
 
Anak ketiga, Maryam Qonitat

Hafal Al-Qur’an sejak usia 16 tahun. Saat tulisan ini dibuat usianya 19 tahun dan duduk di semester V Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Pelajar teladan dan lulusan terbaik Pesantren Husnul Khatimah, 2006. Sekarang juga menghafal hadits dan mendapatkan sanad Rasulullah dari Syaikh Al-Azhar.

Anak keempat, Scientia Afifah Taibah

Putri keempat. Hafal 29 juz sejak SMA. Kini usianya 19 tahun dan duduk di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Saat SMP menjadi pelajar teladan dan saat SMA memperoleh juara III lomba Murottal Al-Qur’an tingkat SMA se-Jakarta Selatan.

Anak kelima, Ahmad Rasikh ‘Ilmi

Putra kelima. Saat tulisan ini dibuat, hafal 15 juz Al-Qur’an, dan duduk di MA Husnul Khatimah, Kuningan. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara I Kompetisi English Club Al-Kahfi dan menjadi musyrif bahasa Arab MA Husnul Khatimah.

Anak keenam, Ismail Ghulam Halim

Putra keenam. Saat tulisan ini dibuat hafal 13 juz Al-Qur’an, dan duduk di SMAIT Al-Kahfi Bogor. Ia lulusan terbaik SMPIT Al-Kahfi, juara lomba pidato bahasa Arab SMP se-Jawa Barat, serta santri teladan, santri favorit, juara umum dan tahfiz terbaik tiga tahun berturut-turut di SMPIT Al-Kahfi.

Anak ketujuh, Yusuf Zaim Hakim

Putra ketujuh. Saat tulisan ini dibuat ia hafal 9 juz Al-Qur’an dan duduk di SMPIT Al-Kahfi, Bogor. Prestasinya antara lain: peringkat I di SDIT, peringkat I SMP, juara harapan I Olimpiade Fisika tingkat Kabupaten Bogor, dan finalis Kompetisi tingkat Kabupaten Bogor.

Anak kedelapan, Muhammad Syaihul Basyir

Putra kedelapan. Saat tulisan ini dibuat, ia duduk di MTs Darul Qur’an, Bogor. Yang sangat istimewa adalah, ia sudah hafal Al-Qur’an 30 juz pada saat kelas 6 SD.

Anak kesembilan, Hadi Sabila Rosyad

Putra kesembilan. Saat tulisan ini dibuat, ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an. Di antara prestasinya adalah juara I lomba membaca puisi.

Anak kesepuluh, Himmaty Muyassarah

Putri kesepuluh. Saat tulisan ini dibuat, ia bersekolah di SDIT Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan dan hafal 2 juz Al-Qur’an.

Kembali ke keluarga Mutammimul Ula di atas.
Pada akhirnya kita dapat menarik kesimpulan, di balik kesuksesan Kang Tamim ternyata ada satu sosok wanita yang telah melahirkan sepuluh keturunannya. Siapa lagi kalau bukan istrinya, Wirianingsih.

Siapa Wirianingsih? Bertitel lengkap Dra. Wirianingsih, Bc.Hk, lahir di Jakarta, 11 September 1962 (hampir 50 tahun). Selain ibu rumah tangga, banyak aktivitas yang dia lakukan, di antaranya menjadi dosen, kuliah pasca sarjana, dan aktivis perempuan.

Terkini adalah menjadi anggota Dewan Pertimbangan PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) bersama Ustadzah Nursanita Nasution, dll dimana sebelumnya dia menjadi Ketua Umum. Mereka adalah anggota DPR dari fraksi yang sama saat Mutammimul Ula menjadi anggota dewan.

Lalu, metode apa yang Kang Tamim dan Mbak Wiwi terapkan dalam mendidik putra-putrinya?
Kuncinya adalah keseimbangan proses. Begitu simpulan dari metode pendidikan anak-anak sebagaimana tertulis dalam buku “10 Bersaudara Bintang Al-Quran“.

Walaupun mereka berdua sibuk, mereka telah menetapkan pola hubungan keluarga yang saling bertanggungjawab dan konsisten satu sama lain. Selepas Magrib jadwal mereka adalah berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Guna mendukung kesuksesan program ini, mereka mencanangkan kebijakan sederhana, yakni: menyingkirkan televisi dari rumah, tidak memasang gambar-gambar selain kaligrafi, tidak membunyikan musik-musik yang melalaikan, dan tidak ada perkataan kotor di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Hal yang cukup mendasar yang dimiliki keluarga ini sehingga mampu mendidik 10 bersaudara bintang Al-Quran adalah visi dan konsep yang jelas.

Pertama adalah menjadikan putra-putri seluruhnya hafal Al-Qur’an. Kedua, pembiasaan dan manajemen waktu.

Setelah salat Subuh dan Maghrib adalah waktu khusus untuk Al-Qur’an yang tidak boleh dilanggar dalam keluarga ini.

Sewaktu masih balita, Wirianingsih konsisten membaca Al-Qur’an di dekat mereka, mengajarkannya, bahkan mendirikan TPQ di rumahnya.

Ketiga, mengomunikasikan tujuan dan memberikan hadiah.
Meskipun awalnya merasa terpaksa, namun saat sudah besar mereka memahami menghafal Al-Qur’an sebagai hal yang sangat perlu, penting, bahkan kebutuhan. Komunikasi yang baik sangat mendukung hal ini. Dan saat anak-anak mampu menghafal Al-Qur’an, mereka diberi hadiah. Barangkali semacam reward atas pencapaian mereka. Mengenai punishment tidak dijelaskan secara rinci.

Penulis buku (10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an) ini  membahas urgentitas menjadi hafiz Al-Qur’an. Penulis mengklasifikasikannya menjadi dua bagian: keutamaan dunia dan keutamaan akhirat. Fadhail dunia antara lain: hifzul Al-Quran merupakan nikmat rabbani, mendatangkan kebaikan, berkah dan rahmat bagi penghafalnya, hafiz Al-Qur’an mendapat penghargaan khusus dari Nabi (tasyrif nabawi), dihormati umat manusia.

Sedangkan fadhail akhirat meliputi: Al-Qur’an menjadi penolong (syafaat) penghafalnya, meninggikan derajat di surga, penghafal Al-Qur’an bersama para malaikat yang mulia dan taat, diberi tajul karamah (mahkota kemuliaan), kedua orang tuanya diberi kemuliaan, dan pahala yang melimpah.
                         

Sumber: 10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an
Penulis: Izzatul Jannah – Irfan Hidayatullah
Penerbit: Sygma Publishing, Bandung (2), Januari 2010
Club Curhat Muslim dan Muslimah – (Galuh Rossie)


sumber:(salam-online.com)

Ketika Cinta Terurai Menjadi Perbuatan

 
 
Kulitnya kehitaman. Wajahnya jauh dari cantik. Usianya tak bisa lagi dibilang muda. Waktu pertama kali masuk ke rumah perempuan itu, hampir saja ia percaya ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun risikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari perempuan idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri." Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam dan ketidakrupawanan wajah dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta, ketika ia terurai jadi perbuatan. Ukuran integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati... terkembang dalam kata... terurai dalam perbuatan...

Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata...

Kalau cinta sudah terurai jadi perbuatan, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam perbuatan. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.


Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus. Yang dilakukan para pecinta sejati adalah memberi tanpa henti. Hubungan bisa bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati, tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan cinta itu.

Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti.
 
Sumber:bebagai sumber

Kisah Ketegaran Seorang Suami



 “Kalau bukan karena kedua anakku yang masih kecil.. maka aku sudah mengikuti nafsuku untuk segera meninggalkan dan menceraikan istriku yang tidak berbakti itu. Aku tidak mau meninggalkan apa yang menjadi amanat-Mu dalam keadaan lemah Ya Allah.”

Itulah jeritan hati Yudi di malam itu.. di tengah heningnya malam, Yudi sudah biasa melewatkan malam malamnya dengan kemesraan bersama Tuhannya, Allah Swt.

Di samping ruangan tempat sholatnya, terbaring kedua anaknya yang masih balita, tertidur pulas, ditemani istrinya yang enggan bangun untuk menemaninya shalat tahajjud, walaupun Yudi sudah mencoba untuk membangunkannya.

Pagi hari.. Yudi bangun paling awal, sholat shubuh dan langsung beranjak membereskan seluruh isi rumah, mengepel, mencuci piring dan memasak, semuanya sudah menjadi rutinitas Yudi di pagi hari. Setelah selesai, Yudi pun langsung membuka laptopnya dan mulai bekerja melayani jasa para konsumennya.

Yudi adalah seorang konsultan bisnis, banyak sekali pengusaha dan para pebisnis yang mengkonsultasikan masalah bisnis mereka kepada Yudi. Dari penghasilan sebagai konsultan yang bisa dikatakan cukup menjanjikan, Yudi tetap saja ikhlas menjalankan rumah tangga yang sudah hampir 7 tahun dijalaninya tanpa keseimbangan kewajiban suami istri.

Setiap kali Yudi mengajak istrinya untuk melakukan hubungan, istrinya selalu menolak dengan beralasan kurang enak badan. Saat Yudi bekerja, jika ada anaknya yang ingin BAB atau BAK, maka istrinya teriak kepada Yudi untuk mengurusinya. Yudi pun menunda dulu pekerjaannya, meraih anaknya kemudian membawanya ke kamar mandi.

Saat anaknya ingin diantar jajan, maka Yudi pun diteriaki kembali untuk mengantarkannya ke warung.

Saat istrinya ingin sarapan, maka Yudi diminta pergi ke tukang bubur atau tukang gorengan dekat rumahnya.
 
Itulah keadaan yang dialami Yudi setiap hari. Hal ini dialaminya semenjak beberapa bulan lalu, sepulangnya dari dinas di luar negeri, selama satu tahun lamanya.

Malam hari, saat adzan isya berkumandang, Yudi langsung beranjak ke masjid sambil mengingatkan istrinya untuk sholat isya. Sepulangnya dari masjid, Yudi sudah terbiasa melihat istri dan kedua anaknya sudah terbaring di tempat tidur dan terlelap dalam mimpi. Yudi pun mencoba membangunkan istrinya dan bertanya, “udah sholat Isya Bu???” Istrinya menggeleng dengan mata yang sulit untuk dibuka karena rasa kantuknya. Yudi pun mencoba membangunkan dan memintanya untuk sholat isya dulu, tetapi istrinya tetap menggeleng, bahkan sampai berkata “tidak akh Pa.. nanti saja”..

Itulah ketegaran Yudi dalam rumah tangganya.. aku pun sebagai temannya baru tahu keadaannya seperti itu saat kudesak Yudi untuk mengutarakan masalahnya, karena beberapa minggu ini kulihat wajahnya sangat sendu dan selalu murung.
 
Saat kubilang “kalau aku.. punya istri seperti itu.. sudah kuceraikan dia Di..!” Tapi, Yudi menjawab dengan tenang dan bijak.

“Kalau urusan menceraikan, itu hal yang mudah.. namun efek yang ditinggalkannya akan terasa sulit bagi anak anak. Bukankah ada ayat Allah yang menyuruh kita agar jangan meninggalkan anak anak kita dalam keadaan lemah. Itulah, saya takut anak anak tidak mendapatkan kasih sayang, pengertian, perhatian serta kecukupan hidup yang layak, sehingga anak anak menjadi manusia yang lemah”
“Lalu.. bagaimana dengan hasrat biologismu Yud?? Sampai kapan kamu bisa bertahan??” Tanyaku..
“Sampai dia mau.. kalaupun seumur hidupnya dia tidak mau, tetap saya tidak akan mencari yang lain. 
Biarlah kesabaranku, keikhlasanku terhadap istriku sebagai jalanku untuk mencapai Ridho-Nya. Allah Swt. Pasti tahu yang terbaik bagiku.. dan makhluk yang paling indah, paling cantik dan paling membahagiakan bagiku adalah mendapatkan bidadari di syurga..”
 
Saya tidak bisa berkata apa apa lagi.. setalah mendengar jawabannya..!! Semuanya pasti sudah Yudi pertimbangkan, sehingga dia begitu kuat menghadapi kehidupan rumah tangga yang seperti itu.

Saat banyak orang yang dengan mudahnya bercerai tanpa alasan yang kuat, saat banyak orang tua yang tidak bertanggung jawab terhadap anaknya, saat orang seenaknya menyalurkan hasrat biologis dengan membabi buta, ternyata masih ada orang setegar dan seikhlas Yudi...

Saya pun mendapatkan pelajaran darinya, hidup ini adalah ujian.. seberat apapun keadaannya, semuanya akan bisa dihadapi dengan kesabaran, keikhlasan, dan pengertian bahwa hidup ini hanyalah sebentar.. hanya sekejap saja, jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat..
 
Betapapun beratnya, sulitnya serta banyaknya masalah yang dihadapi.. maka hadapilah dengan sabar, untuk urusan kebahagiaan.. semoga kita mendapatkan yang hakiki dan abadi di syurga-Nya Allah Swt. Amiin.
  • Jaga anakmu.. karena itu adalah amanat dan investasi buatmu,
  • Janganlah mengikuti nafsumu, karena itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam kehinaan,
  • Janganlah terpesona dengan keindahan dan kecantikan wanita dunia, karena bidadari lebih indah dan lebih cantik dibandingkan wanita tercantik di dunia, bahkan kecantikan wanita di dunia tidak ada seujung kukunya bidadari syurga,
  • Sabar dan ikhlaslah.. Allah mengetahui balasan yang terbaik untukmu..
Semoga kisah ini menjadi pelajaran dan i’tibar bagi kita semua.. Amiin..
 

Kenali Karakter Suami


"Selama dua puluh tahun berumah tangga," kata seorang suami kepada temannya, "aku belum pernah mendapati pada istriku sesuatu yang membuatku marah."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya si teman, keheranan.

"Sejak malam pertama aku bertemu istriku, aku mendatanginya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata: 'Sabar dulu wahai Abu Umayyah, tunggu sejenak.'
Kemudian ia berkata: 'Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah… sesungguhnya aku adalah wanita yang asing bagi dirimu, aku tidak tahu karaktermu. Jelaskanlah kepadaku apa saja yang engkau sukai sehingga aku bisa melakukannya dan apa saja yang engkau benci sehingga aku dapat meninggalkannya. Aku katakan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.'”

"Demi Allah," lanjut lelaki itu bercerita, disimak serius oleh temannya, "ia memaksa diriku untuk berbicara pada saat itu maka aku pun berkata: 'Segala puji hanya bagi Allah, aku bershalawat dan mengucapkan salam atas nabiNya dan atas keluarga beliau, wa ba’du. Sesungguhnya engkau telah mengucapkan sebuah perkataan jika engkau teguh memegangnya maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan bila engkau tinggalkan akan menjadi hujjah yang menghujat dirimu. Sesungguhnya aku suka ini dan ini… dan aku membenci ini dan ini… apabila engkau melihat kebaikan, maka sebarkanlah dan apabila engkau melihat keburukan, maka tutuplah.'

Istriku bertanya: 'Apakah engkau menyukai kunjungan sanak familiku?'
Aku menjawab: 'Aku tidak suka dibuat bosan oleh mertua dan iparku (yakni ia tidak suka mereka sering mengunjunginya)'

'Siapakah tetangga yang engkau suka masuk ke dalam rumahmu sehingga aku memberinya izin dan siapakah yang tidak engkau sukai?'
Aku menjawab: 'Bani Fulan A adalah orang-orang shalih sedangkan bani Fulan B adalah orang-orang yang buruk.'

Maka aku pun melewati malam yang paling nikmat bersamanya. Satu tahun aku hidup bersamanya tidak pernah aku melihat apa-apa yang tidak aku sukai. Sehingga permulaan pada tahun kedua ketika aku pulang dari kerjaku, ternyata aku dapati ibu mertuaku di rumahku.

Ibu mertuaku bertanya kepadaku: 'Bagaimana pandanganmu tentang istrimu?'
Aku menjawab: “Sebaik-baik istri”

Ia berkata: 'Wahai Abu Umayyah, demi Allah, tidaklah seorang lelaki mendapatkan yang lebih buruk dalam rumahnya daripada wanita yang manja. Bimbing dan didiklah ia menurut kehendakmu.'

“Ia hidup bersamaku selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah menghardiknya karena masalah apapun kecuali sekali, dan itupun karena aku yang menzaliminya,” kata lelaki itu memungkasi ceritanya.

Sauadaraku… Betapa bahagia hidup seperti itu. Dan saya tidak tahu, ke mana rasa takjub harus diarahkan; takjub kepada si istri dengan kebijaksanaannya? Atau kepada si mertua dengan tarbiyahnya? Atau kepada si suami dengan hikmahnya?
Wallahu a’lam. []

Penulis:Oktarizal Rais
 
Sumber:http://www.bersamadakwah.com/

Rahasia Keuangan PKS


Banyak orang bertanya-tanya, darimana PKS mendapatkan dana sehingga partai Islam itu bisa terus beraktifitas sepanjang tahun. Setiap ada bencana, PKS hampir selalu terlihat membantu dengan beragam layanan, termasuk bantuan logistik. Pun dengan berbagai aktifitas layanan sosial yang digelarnya, seakan tanpa peduli apakah pemilu sudah dekat atau masih jauh.

Tidak hanya membantu korban banjir, longsor, gempa; kader-kader PKS juga kerap terlihat di hampir seluruh kota dengan agenda bakti sosial. Ada pengobatan gratis, sembako murah, advokasi, hingga konsultasi. Jika dikalkulasi, program-program yang berjalan sepanjang tahun itu membutuhkan dana yang sangat besar. Dari mana PKS mendapatkan semua dana itu?

Uang Rakyat Hasil Korupsi?

Jika ada yang menduga PKS mendapatkan semua dana itu dari korupsi, berarti ia telah berburuk sangka. Fakta historis menunjukkan, aktifitas sosial PKS sudah dilakukan sejak ia masih bernama PKS, sebelum mengikuti pemilu dan sebelum memiliki anggota dewan maupun Kepala Daerah. Kedua, data menunjukkan -biidznillah- sampai saat ini tidak ada Kepala Daerah dan Anggota Legislatif PKS yang terjerat kasus korupsi. Alhamdulillah, dari data Indonesia Corruoption Watch (ICW) Desember 2012 lalu, hanya PKS dan Hanura –dari seluruh partai parlemen- yang kadernya tidak ada tersangkut korupsi.

Dana Aleg dan Kepala Daerah


Jika orang-orang berpikir bahwa PKS dapat melakukan segala aktifitasnya karena didanai oleh aleg dan kepala daerah dari PKS, hal itu tidak dapat disalahkan. Tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Memang, aleg dan kepala daerah PKS pasti ikut menyumbang. Tetapi ada dua hal yang perlu disadari. Pertama, sumbangan dari aleg dan kepala daerah PKS tidak akan mampu mengcover seluruh aktifitas sosial PKS.

Kedua, tidak semua kabupaten/kota memiliki anggota dewan dari PKS, apalagi kepala daerah. Faktanya, kabupaten/kota tersebut juga semarak dengan aktifitas sosial PKS. Di Jawa Timur, misalnya, ada tiga kabupaten tanpa kursi dewan PKS, yakni Banyuwangi, Situbondo, dan Gresik. Namun, di ketiga kabupaten tersebut aktifitas PKS juga tidak pernah surut.


Lalu dana dari mana?


Lalu dari mana sebenarnya PKS mendanai kegiatan-kegiatan sosialnya? Ternyata dana PKS paling besar diperoleh dari kader.

Sunduquna Juyubuna
Salah satu pemahaman PKS yang menjadikannya berbeda dengan partai lain adalah karena partai tersebut merupakan partai Islam dan partai dakwah, maka perjuangannya adalah perjuangan Islam. Aktifitasnya adalah dakwah. Maka segala hal yang dikeluarkan, baik tenaga, pemikiran, maupun dana, tidak lain adalah untuk Islam, untuk kebaikan. Bukan untuk dunia atau politik an sich yang kemanfaatannya hanya untuk dipetik di dunia.

Bagi kader PKS, apapun yang ia infakkan kepada masyarakat, maka itu akan menjadi investasi baginya di akhirat kelak. Doktrin yang ia pegang adalah sabda Nabi "Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat" (HR. Muslim)

Atas dasar pemahaman itu, kader PKS memegang prinsip "sunduquna juyubuna". Bahwa kantong-kantong mereka yang akan membiayai dakwah mereka. Mereka berusaha mencontoh Rasulullah dan para sahabat yang membiayai dakwah Islam pada generasi pertama umat ini. Mereka melihat contoh orang-orang kaya seperti Umar yang menginfakkan separuh hartanya. Abu Bakar yang pernah menginfakkan seluruh hartanya. Utsman bin Affan yang pernah membiayai hampir seluruh keperluan sebuah perang jihad. Namun, mereka juga melihat contoh sahabat-sahabat miskin yang tidak kalah bersemangat menginfakkan hartanya. Ada yang mampunya hanya menyumbang segenggang kurma, maka ia pun menyumbangkan itu. Bahkan ada yang tidak memiliki apapun, maka ia menangis karena belum memiliki kesempatan berinfak harta.

Jika kita memahami itu, kita akan mampu memahami mengapa ada kader-kader PKS pada saat penghimpunan dana untuk korban banjir dengan suka rela menyerahkan jam tangannya, dengan suka rela memberikan gelang dan cincinnya, bahkan anting-antingnya. Suatu ketika pada sebuah munasharah, mungkin karena tidak membawa barang lain, seorang kader PKS bahkan menginfakkan sambal pecel untuk Palestina.

Membiasakan infak

Kader-kader PKS mengeluarkan iuran rutin sesuai kemampuan dan kerelaan mereka. Dari situlah terkumpul dana yang cukup, sebanding dengan jumlah kader, untuk bisa dipakai membantu masyarakat melalui berbagai aktifitas sosial. Namun, kadang bencana datang tiba-tiba, masyarakat membutuhkan bantuan tiba-tiba. Pada saat seperti itu akan ada penggalangan infak secara insendintal. Dan kader-kader PKS agaknya selalu siap menyisihkan sebagian rezekinya untuk masyarakat yang dicintainya.

Selain itu, kader-kader PKS juga membiasakan berinfak pada setiap kesempatan. Pada saat kajian, pada saat halaqah/pembinaan, hingga pada saat syuro/rapat, ada yang namanya infak majelis. Di sana kader PKS dengan sukarela berinfak sesuai kemampuannya.

Kadang kita menganggap kader-kader PKS itu orang-orang kaya semua sehingga mereka biasa berinfak. Padahal banyak diantara mereka yang pas-pasan, bahkan kadang-kadang kurang. Pengamatan kami, ada diantara mereka yang makannya hanya dengan ikan asin dan tempe, agar bisa menyisihkan uangnya untuk infak. Ada diantara mereka yang menghemat jatah beras istri atau jatah susu anaknya agak bisa berinfak. Tersebab kecintaan yang sangat mendalam pada masyarakatnya.

Dengan cara seperti itulah, biidznillah, PKS mampu membiayai kegiatan-kegiatan sosialnya. Dan demikianlah rahasia keuangan PKS, teriring doa semoga kebaikan kader-kadernya diganjar Allah dengan kebaikan di dunia dan pahala di akhirat, memperoleh ridha dan jannahNya. [Abu Nida]

Sumber:http://www.bersamadakwah.com/

Saturday, February 23, 2013

Selamat Jalan Isteriku, Engkau Layak Atas Karunia Syahid itu...

17 tahun yang lalu, saat masih aktif menjadi penulis buletin dakwah, aku membaca nama pelanggan yang memesan buletin tersebut. Hj. Robiatul Adawiyah, pasti wanita yang sudah tua. Sudah naik haji dan namanya jadul sekali. 
“Akhi, seperti apa sih ibu Robiatul ini,” tanyaku kepada Pak Marjani yang bertugas mengantar buletin. ”Ndak tahu, nggak pernah ketemu, yang saya tahu dia pesan buletin itu untuk dikirim via bis ke Kotabangun”. 
 
Wah wanita yang mulia, mau menyisihkan uang untuk berdakwah kepada masyarakat di hulu sungai Mahakam. Tak lama kemudian setelah kita menikah, Buletin Ad Dakwah dari Yayasan Al Ishlah Samarinda diantar ke rumah. Ternyata wanita mulia tersebut adalah engkau istriku, bukan wanita tua seperti yang kukira. Melainkan mahasiswi yang aktif mengajar di Taman Al Quran.
 
Istriku, beruntung aku dapat memilikimu. Sudah beberapa pemuda kaya yang mencoba mendekatimu tetapi selalu kau tolak. Kelembutanmu dan kedudukanmu sebagai putri seorang ulama besar menjadi magnet bagi para pria yang ingin memiliki istri sholehah. Kamu beralasan belum ingin menikah karena mau konsentrasi kuliah. Padahal alasan utamanya adalah kamu masih ragu dengan kesholehan mereka. Ketika Ustadzah Purwinahyu merekomendasika­n diriku, tanpa banyak tanya kau langsung menerimaku. Hanya karena aku aktif ikut pengajian kau mau menerimaku, tanpa peduli berapa penghasilanku.
 
Istriku, semua orang mengakui bahwa kau wanita yang tangguh. Jarang seorang wanita bercita-cita memiliki delapan anak sepertimu. Melihatmu seperti melihat wanita Palestina yang berada di Indonesia. Jika bertemu dengan Ustadz Hadi Mulyadi, suami mba Erni ustadzahmu, pasti pertanyaan pertama kepadaku adalah, “ Berapa sekarang anakmu?”. Sering orang bertanya kepadaku, “ Gimana caranya ngurus anak sebanyak itu?” Mudah, rahasianya adalah menikahi wanita yang tangguh sepertimu.
 
Kehangatanmu membuat anak-anak kita merasa nyaman di dekatmu. Di saat kau lelah sepulang dari mengisi halaqoh atau ta’lim mereka segera menyambutmu dan melepaskan kekangenan mereka. Kadang lucu melihat mereka membuntuti kemana kamu pergi. Kamu ke dapur mereka bergerombol di sekitarmu, pindah ke ruang tamu, pindah pula mereka ke ruang tamu. Masuk ke kamar, berbondong-bond­ong mereka ke kamar. Sampai ada anak yang selalu memegang-megang­ bajumu dan kamu berkomentar,” Nih anak kayak prangko aja, nempeeel terus.” Jangan salahkan mereka, akupun memiliki perasaan yang sama dengan mereka.
 
Kadang jika cintaku meluap aku berkata padamu, ”Bener nih kamu ndak nyantet aku? Aku kok bisa tergila-gila begini sama kamu?” Kamu tersenyum dan berkata, "cinta Umi ke Abi lebih besar dari cinta Abi ke Umi, Abi aja yang ndak tahu.”


Rasulullah bersabda, "Nikahilah perempuan yang penyayang dan dapat mempunyai anak banyak karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab banyaknya kamu dihadapan para Nabi nanti pada hari kiamat” (HR. Ahmad). Sungguh aku merasa telah mendapatkan segalanya dengan kau di sisiku.
 
Kepribadianmu yang mudah bergaul menjadikanmu disenangi oleh banyak orang. Kamal berkata, “Umi terkenal banget di sekolah. Aku, Mba Aisyah, Mas Nashih, Hamidah, Hilma ini terkenal di sekolah karena anak Umi. Guru-guru kenal kami karena kami anak umi.” Aku ingat perjuanganmu menggalang beberapa orang tua murid ke kantor diknas untuk meminta tambahan kelas agar anak kita yang terlalu muda bisa diterima sekolah. Akhirnya SDN 006 Balikpapan mendapat tambahan kelas dan anak kita bisa bersekolah di sana. Seharusnya aku yang melakukan hal itu, bukan kamu.
 
Aku terpesona dengan caramu menjalin silaturahim dengan keluarga besarmu. Ketika kita pindah ke Balikpapan, sering kakak-kakakmu menelpon menanyakan kapan liburan ke Samarinda. Mereka rindu kepadamu. Kakakmu KH. Fachrudin, seringkali menelpon, "Kita mau ngadain acara ini, kamu ke Samarinda kah?” Sya’rani, kakakmu yang sering bepergian ke Jawa, ketika mendarat di Balikpapan pun sering berkata, "Baru dari Jawa, mau ikut saya sekalian naik mobil ke Samarinda?” Keponakan-kepon­akanmu pun sering bertanya, “Acil Robiah kapan ke Samarinda?” Jika kita liburan ke Samarinda, maka kemeriahan meledak begitu mendengar suaramu mengucapkan salam. “Wah, Haji Robiah dari Balikpapan.”
 
Aku kagum dengan semangatmu melaksanakan amanah dakwahmu. Sering kerinduanmu kepada keluargamu tertahan karena ada amanah dakwah yang harus kamu kerjakan. ”Sebenarnya akhir pekan ini keluarga besar kumpul. Ada acara keluarga. Tapi ada halaqoh ini dan majelis talim ini jadi ndak bisa ke Samarinda.” Semoga Allah SWT memasukkanmu ke dalam barisan orang-orang yang berjuang menegakkan agama ini.
 

Kesibukanmu berdakwah memang menyita waktumu. Tapi aku ridho karena kau tetap komitmen untuk mengurus rumah tangga dengan baik. Aku ridho ketika PKS berdiri, kamu bergabung dan berdakwah bersama mereka. Kulihat kau begitu menikmati hidupmu yang mungkin bagi pandangan sebagian orang sangat melelahkan.
 
Kamu juga aktif mengisi kajian Siroh Shahabiyah di Radio IDC FM. Ketika engkau ingin berhenti karena hamil dan mengajukan ustadzah lain, mba Irna yang mengasuh acara menolak dan mengatakan sebaiknya cuti saja dan sementara akan diputar ulang rekaman yang terdahulu. Saya tahu mereka pun telah jatuh cinta kepadamu.
Saat Ustadz Cahyadi mengadakan pelatihan keluarga, beliau meminta para peserta menulis tentang pasangannya. Aku terkejut ternyata engkau mengenaliku dengan baik. Engkau tahu makanan yang kusukai dan kubenci, teman-teman yang kuanggap shahabatku, karakter-karakt­erku, dan teman-teman Halaqohku. Diam-diam engkau memperhatikanku­. Terimakasih telah memahami diriku.
 
Pernah kau mengatakan bahwa kau ingin naik haji bersamaku. Aku mengatakan bahwa kamu sudah naik haji sehingga tidak wajib lagi. Kalau aku punya uang aku akan mengajak anak kita naik haji bukan kamu. Kamu berkata, “Aku akan kumpulkan uang daganganku agar bisa naik haji bersamamu.” Kamu pernah bercerita bahwa saking nikmatnya berada di Kota Mekah, kamu pernah berusaha tukar kloter dengan orang lain agar bisa bertahan lebih lama di kota Mekah.
 
Istriku, aku suka dengan caramu berbakti kepadaku. Ketika ustadz Muhadi mengajakku mendirikan SDIT Nurul Fikri Balikpapan kau pun mendukungku. Padahal kau tahu bahwa ini akan kembali mengurangi jatah uang belanja untukmu. Bahkan kau berkata, "Aku akan alihkan infaq-infaq yang selama ini ke lembaga zakat ke Nurul Fikri.” Selama ini kau memang menyisihkan uang transport dari mengisi majelis-majelis­ ta’lim untuk menunjang dakwahmu.
 
Istriku, aku menikmati sentuhan bibirmu ke pundakku sambil memelukku di saat kita naik motor berdua. Mungkin itu caramu menunjukkan kesetiaanmu. Aku tersanjung dengan gayamu menunjukkan cemburumu. Aku merindukan caramu menegurku jika engkau melihatku lalai dalam urusan agama kita. Aku merasa bahagia saat kau memujiku. Aku merasa hebat ketika engkau bermanja kepadaku.
 
Aku salut dengan kecintaanmu terhadap ilmu. Setiap ada ta’lim yang mendatangkan ustadz yang berkualitas kau berkata, “Harus duluan nih biar dapat duduk di depan.” Sayang, karena begitu banyaknya anakmu terkadang kau terhambat untuk berada di depan. Pernah kau begitu sedih karena tidak dapat menghadiri ta’lim yang diisi DR. Samiun Jazuli. Terlintas di dalam pikiranku, kelak aku akan membiayaimu untuk melanjutkan kuliah S2 agar kau bahagia.
 
Kau juga begitu bersemangat mengikuti tatsqif (Kajian Tsaqofah Islam) yang diadakan oleh PKS. Ketika ada ujian tatsqif, kau berusaha mengerjakan soal-soal tanpa berusaha menyontek. Tiba-tiba kau mendengar peserta ujian yang lain di sebelahmu saling berbisik tentang jawaban soal yang engkau tidak bisa mengerjakannya.­ Kamu pun menulis jawaban tersebut. Sepulang ke rumah engkau begitu menyesal dan gelisah. Engkau merasa berbuat curang karena mengerjakan soal dari mendengar percakapan orang lain. “Gimana nih Mas, aku sudah nyontek?” tanyamu. Aku jawab sambil bercanda, "Telpon dosennya, minta dicoret jawabanmu yang dapat dari hasil mendengar itu”. Ternyata engkau benar-benar menelpon ustadz Fahrur agar jawaban atas soal tersebut dicoret saja. Itu yang sering kulihat darimu, begitu takut akan dosa-dosamu. Aku bangga padamu istriku.
 
Istriku, hal yang sering membuatku bergetar adalah di saat melihat engkau sholat. Begitu khusyuk dan menjaga adab. Tidak pernah aku melihatmu terburu-buru di dalam sholat. Aku menikmati melihat caramu menghadap Tuhanmu. Selelah apapun dirimu kamu selalu berusaha membaca Quran satu juz perhari. Engkau juga tidak ingin meninggalkan dzikir harianmu. Haru rasanya saat-saat melihatmu tertidur dengan Quran masih berada di tanganmu.
 
Sering aku berangan-angan aku akan membahagiakanmu­ kelak saat anak-anak sudah besar. Aku akan mengajakmu berjalan-jalan ke kota wisata. Aku akan membelikanmu perhiasan walaupun sekedarnya. Karaktermu yang tidak pernah meminta memang membuatku lalai memperhatikan kebutuhanmu. Bahkan motor pun tidak pernah kubelikan. Motor butut yang kau pakai adalah motor yang memang telah kau bawa dan kau miliki sejak masih gadis.
 
Aku yakin bahwa kebersihan hatimulah yang memancarkan aura persahabatan dari wajahmu. Banyak yang mengatakan kepadaku, ”Beliau adalah tempat saya menyampaikan curhat.” Terkadang kau terlambat pulang dari mengisi pengajian, ketika ku tanya kenapa terlambat, kau menjawab, “Kasihan ada yang pingin curhat, jadi dengerin dia dulu. Semoga Allah segera kasih dia jalan keluar.” Saya yakin mereka curhat kepadamu karena mereka merasakan kebaikanmu.
 
Kamu sering memujiku, “Suami yang pintar”. Kulihat, kamulah yang lebih pintar mengaplikasikan­ teori ke dalam praktek dunia nyata. Sebenarnya aku banyak belajar darimu. Kamu pintar sekali memulyakan orang lain. Kamu sering memberikan sesuatu kepada tetangga-tetang­ga kita. Terkadang aku malu karena yang kau berikan adalah hal-hal yang sederhana. “Malu ah ngasih ke tetangga segitu. Nggak level buat mereka.” Ternyata sikap perhatianmu kepada tetangga inilah yang membuat mereka mencintaimu.
 
Kamu mengatakan kepada pembantu kita, “Kumpulkan teman-teman yang lain, nanti saya yang membimbing bacaan Qurannya.” Dengan sabar kamu melatih mereka membaca Quran. Kau pun membelikan peralatan memasak sebagai hadiah kepada mereka yang lulus dan melanjutkan bacaan ke jilid berikutnya. Pernah kau melihat salah seorang diantara mereka sedang berlatih mandiri di rumahnya. Kau berkata, "Bahagianya aku Bi melihat mereka mau melatih bacaan secara mandiri.” Sampai terucap dari mulut pembantu kita, “Bu, saya ini mendapat hidayah dari tangan Ibu lho.”
 
Terkadang aku lupa untuk memberikan uang belanja, ketika kutanya engkau menjawab,”Aku pakai uang daganganku”. Kau­ kadang membelikanku baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku memang seorang yang berprinsip minimalis, terkadang jika ada barang yang menurutmu harus dibeli, aku mengatakan bahwa itu tidak perlu dibeli, kita da’i tidak usah terlalu mengejar kesempurnaan. Seperti biasa kau pun mengalah dan berkata, "Ya sudah pake uang aku aja.”
 
Ketika engkau mengalami pendarahan saat melahirkan anak kita yang ke delapan, engkau mengalami step. Sungguh hancur hatiku melihatmu menderita. Ketika dokter mengatakan butuh tiga kantung darah, aku segera keluar berlari menuju PMI tanpa sempat mengambil alas kaki. Aku sangat takut kehilangmu. Ketika diberitahu bahwa putra kita telah meninggal, aku sudah tidak peduli lagi, “Tolong selamatkan istri saya dok.” Setelah dioperasi kau sempat tersadar, aku tidak tega untuk mengatakan bahwa putra kita telah meninggal. Aku tidak ingin kau tahu bahwa kandungan yang sangat kau cintai dan sering kau elus-elus dengan penuh cinta telah mendahuluimu.
 
Dokter mengatakan bahwa kondisi sangat kritis, biasanya kondisi ini berakhir dengan kematian. Dengan kesedihan yang terus mengelayuti aku berkata, ”Umi tidak usah ngomong apa-apa, semua abi yang urus, Umi nyebut Allah saja.” Aku berharap seandainya Allah memanggilmu, maka ucapan terakhirmu adalah Allah. Walau tidak ada suara yang kudengar, kulihat mulutmu menyebut nama Allah dua kali. Saat itu aku bernazar, aku pun bertawashul dengan segala amalku agar Allah memberikan kesempatan agar engkau masih bisa bersamaku. Dan ternyata anak-anak kita bercerita bahwa saat itu di rumah mereka juga bernazar agar ibu mereka selamat.
 
Dengan sisa harapan yang tersisa di hatiku, aku berusaha membangkitkan semangatmu, ”Cep­at sembuh, anak-ana­k kita menunggumu di rumah.” Engkau mengangguk-angg­uk. Ternyata Allah SWT sangat mencintaimu. Allah SWT ingin memberimu karunia syahid. Kematianmu karena melahirkan putra kita menunjukkan bahwa Allah ingin memberikan yang terbaik untukmu. Sebagaimana Rasulullah mengatakan bahwa wanita yang mati karena melahirkan termasuk orang-orang yang mati syahid.
 
Seorang shahabatmu, Ustadzah Mahmudah, menelponku, "Mba Robi itu kalau saya perhatikan sangat khusyuk kalau memimpin doa atau mengaminkan doa. Kalau berdoa, saat kalimat wa amitha 'ala syahaadati fii sabiilik (matikanlah jiwa kami dalam syahid di jalan-Mu) sering saya lihat mba Robi meneteskan air mata. Ternyata kita memang tidak boleh meremehkan kekuatan doa.”
 
Pak Emil tetangga kita berkata, ”Saya tidak pernah berinteraksi dengan almarhumah. Hanya istri saya yang bergaul dengannya. Tapi kepergiannya membuat saya merasa kehilangan sampai dua hari”. Mungkin dia shock karena melihat istrinya terguncang.
 
Ustadzah Sujarwati berkata, "Saya mengisi pengajian dekat SMPN 10, mereka bercerita bahwa almarhumah ustadzah Robiah yang merintis majelis ta’lim ini. Mereka semua kemudian menangis karena teringat istri sampeyan.” Banyak yang terkejut dengan kepergianmu. Ada yang baru mendengar kematianmu, datang ke rumah untuk kemudian menangis karena kehilanganmu.
 
Hari kematianmu menjadi saksi atas kesholihanmu. Begitu banyak yang datang untuk memberikan penghormatan kepadamu. Ustadz Muslim mengatakan, "Sahabat-sahabat­nya dari pesantren Al Amin, Madura sudah siap-siap mau beli tiket untuk ke Balikpapan, tapi mendengar jenazah akan di bawa ke Samarinda mereka tidak jadi datang.” Beberapa ustadz datang dari Samarinda. Bahkan Ustadz Masykur Sarmian, Ketua DPW PKS Kaltim pun datang dari Samarinda dan menjadi imam yang mensholatimu. Aku pun melihat ustadz Cahyadi Takariawan, penulis buku dari Yogya, hadir di masjid itu. Mungkin Allah sengaja mengutus orang-orang sholih tersebut untuk mensholatimu dan menyempurnakan pahalamu. Motor-motor memenuhi jalan masuk ke komplek kita. Seseorang dengan heran mengatakan bahwa kemarin kepala kantor meninggal di komplek ini yang datang nggak sebanyak ini. Ini cuma ibu rumah tangga kok banyak banget yang datang.
 
Sesudah disholatkan di masjid Balikpapan, engkaupun dibawa ke Samarinda. Sampai di masjid Ar Raudhah, Aku melihat KH. Mushlihuddin, LC Koordinator Qiroati untuk Kalimantan hadir di sana. Kamu sering berkata bahwa kamu sudah menganggap beliau, guru mu membaca Quran, seperti ayah sendiri. Kecintaanmu kepada Quran membuat kamu mencintai beliau yang selalu komitmen berjuang menegakkan Al Quran di muka bumi. Sering kamu mengatakan bahwa kamu kangen dengan gurumu, ustadz Mushlih. Segera aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat jenazah untukmu.
 
Kakakmu, Ibu Mursyidah berkata, ”Kepergiannya persis seperti ayahnya, KH. Abdul Wahab Syahrani. Disholatkan dari masjid ke masjid.” Sebelum meninggal beliau berwashiat untuk dikuburkan di Kotabangun. Karena washiat itu beliau disholatkan di tiga masjid di tiga kota oleh murid-murid beliau. Pertama disholatkan di Islamic Centre Samarinda, kemudian disambut oleh Bupati Kutai Kartanegara (Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia Kab. Kukar) dan disholatkan di masjid agung Tenggarong, kemudian disholatkan kembali oleh murid-murid beliau di masjid Kotabangun.
 
Dengan lelehan airmata aku ikut memandikanmu, mengangkatmu, memasukanmu ke liang lahat. Seseorang berkata, "Antum duduk saja biar yang lain saja.” Tidak, Aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Aku sudah kehilangan kesempatan membahagiakanmu­ di dunia. Aku sudah kehilangan kesempatan membalas dengan baik pelayananmu kepadaku. Biarlah hari ini aku melayanimu walaupun sekedar mengurus jasadmu.
 
Terimakasih istriku, selama hidupmu kau selalu berusaha tidak merepotkanku. Ketika aku ke bengkel untuk menambal ban, aku mengabarkan kematianmu dan memohon doa untukmu. Tukang tambal ban, mendoakannya dan berkata, "Istri sampeyan sering ke sini sendiri, menuntun sepeda motor untuk menambal ban, atau kadang ganti ban motor”. Sekuat tenaga ku tahan airmataku. Aku tahu sebenarnya itu adalah tugasku. Kubayangkan adakah wanita lain yang mau menuntun motor ke bengkel untuk menambal ban karena tidak ingin merepotkan suaminya.
 
Mungkin kamu saat ini telah tersenyum bahagia bercanda bersama Abdullah, putra kita. Mungkin kamu sudah bertemu dengan ayah ibumu yang sangat kamu cintai. Walaupun aku betul-betul kehilanganmu, aku tahu bahwa karunia syahid yang Allah SWT berikan kepadamu adalah yang terbaik untukmu.
 
Istriku, aku menulis ini untuk menumpahkan rindu yang bergejolak di hatiku. Aku juga berharap agar orang yang membacanya mau meringankan lidahnya untuk mendoakanmu. Aku berharap tulisan ini dapat membalas jasamu kepadaku. Sungguh betapa lambatnya hari-hari berlalu tanpamu. Ingin rasanya aku segera masuk ke surga agar dapat bertemu kembali denganmu. Selamat jalan Khadijahku.....
 
 
 
 
 
 Balikpapan, hari ke sembilan belas tanpamu di sisiku

Yang bersyukur mendapatkanmu

Suamimu,
Abu Muhammad
 
 **********************************************

Flower 53