Friday, October 25, 2013

Umar bin Abdul-Aziz

Biografi Umar Bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz bergelar Umar II,Nama sebenar beliau ialah Abu Jaafar Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Ahkam, lahir pada tahun 63 H,dan meninggal dunia pada 101H.Ia adalah khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717 (umur 34–35 tahun) sampai 720 (selama 2–3 tahun). Tidak seperti khalifah Bani Umayyah sebelumnya, ia bukan merupakan keturunan dari khalifah sebelumnya, tetapi ditunjuk langsung, dimana ia merupakan sepupu dari khalifah sebelumnya, Sulaiman.

Keluarga

Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Ibunya adalah Ummu Asim binti Asim. Umar adalah cicit dari Khulafaur Rasyidin kedua Umar bin Khattab, dimana umat Muslim menghormatinya sebagai salah seorang Sahabat Nabi yang paling dekat.

 

Silsilah 

 

Umar dilahirkan sekitar tahun 682. Beberapa tradisi menyatakan ia dilahirkan di Madinah, sedangkan lainnya mengklaim ia lahir di Mesir. Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak.

 

Kisah Umar bin Khattab berkaitan dengan kelahiran Umar II


Menurut tradisi Muslim Sunni, silsilah keturunan Umar dengan Umar bin Khattab terkait dengan sebuah peristiwa terkenal yang terjadi pada masa kekuasaan Umar bin Khattab.
"Khalifah Umar sangat terkenal dengan kegiatannya beronda pada malam hari di sekitar daerah kekuasaannya. Pada suatu malam beliau mendengar dialog seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Kata ibu “Wahai anakku, segeralah kita tambah air dalam susu ini supaya terlihat banyak sebelum terbit matahari
Anaknya menjawab “Kita tidak boleh berbuat seperti itu ibu, Amirul Mukminin melarang kita berbuat begini
Si ibu masih mendesak “Tidak mengapa, Amirul Mukminin tidak akan tahu”.
Balas si anak “Jika Amirul Mukminin tidak tahu, tapi Tuhan Amirul Mukminin tahu”.
Umar yang mendengar kemudian menangis. Betapa mulianya hati anak gadis itu.
Ketika pulang ke rumah, Umar bin Khattab menyuruh anak lelakinya, Asim menikahi gadis itu.Kata Umar, "Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat kelak yang akan memimpin orang-orang Arab dan Ajam”.

Asim yang taat tanpa banyak tanya segera menikahi gadis miskin tersebut. Pernikahan ini melahirkan anak perempuan bernama Laila yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Asim. Ketika dewasa Ummu Asim menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan yang melahirkan Umar bin Abdul-Aziz.

Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Umar telah menghafal al-Quran sejak masih kecil serta bergaul dengan para pemuka ahli fiqih dan ulama. Merantau ke Madinah untuk menimba ilmu pengetahuan. Beliau telah berguru dengan beberapa tokoh terkemuka seperti Imam Malik bin Anas, Urwah bin Zubair, Abdullah bin Jaafar, Yusuf bin Abdullah dan sebagainya. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran dengan beberapa tokoh terkenal di Mesir. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I

Kehidupan awal

 

682 – 715


Umar dibesarkan di Madinah, di bawah bimbingan Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Ia tinggal di sana sampai kematiannya ayahnya, dimana kemudian ia dipanggil ke Damaskus oleh Abdul-Malik dan menikah dengan anak perempuannya Fatimah. Ayah mertuanya kemudian segera meninggal dan ia diangkat pada tahun 706 sebagai gubernur Madinah oleh khalifah Al-Walid I

 

715 – 715: era Al-Walid I


Tidak seperti sebagaian besar penguasa pada saat itu, Umar membentuk sebuah dewan yang kemudian bersama-sama dengannya menjalankan pemerintahan provinsi. Masa di Madinah itu menjadi masa yang jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, dimana keluhan-keluhan resmi ke Damaskus berkurang dan dapat diselesaikan di Madinah, sebagai tambahan banyak orang yang berimigrasi ke Madinah dari Iraq, mencari perlindungan dari gubernur mereka yang kejam, Al-Hajjaj bin Yusuf. Hal tersebut menyebabkan kemarahan Al-Hajjaj, dan ia menekan al-Walid I untuk memberhentikan Umar. al-Walid I tunduk kepada tekanan Al-Hajjaj dan memberhentikan Umar dari jabatannya. Tetapi sejak itu, Umar sudah memiliki reputasi yang tinggi di Kekhalifahan Islam pada masa itu.

Pada era Al-Walid I ini juga tercatat tentang keputusan khalifah yang kontroversial untuk memperluas area di sekitar masjid Nabawi sehingga rumah Rasulullah ikut direnovasi. Umar membacakan keputusan ini di depan penduduk Madinah termasuk ulama mereka, Said Al Musayyib sehingga banyak dari mereka yang mencucurkan air mata. Berkata Said Al Musayyib: "Sungguh aku berharap agar rumah Rasulullah tetap dibiarkan seperti apa adanya sehingga generasi Islam yang akan datang dapat mengetahui bagaimana sesungguhnya tata cara hidup beliau yang sederhana"

 

715 – 717: era Sulaiman


Umar tetap tinggal di Madinah selama masa sisa pemerintahan al-Walid I dan kemudian dilanjutkan oleh saudara al-Walid, Sulaiman. Sulaiman, yang juga merupakan sepupu Umar selalu mengagumi Umar, dan menolak untuk menunjuk saudara kandung dan anaknya sendiri pada saat pemilihan khalifah dan menunjuk Umar.


Kedekatan Umar dengan Sulaiman


Sulaiman bin Abdul-Malik merupakan sepupu langsung dengan Umar. Mereka berdua sangat erat dan selalu bersama. Pada masa pemerintahan Sulaiman bin Abdul-Malik, dunia dinaungi pemerintahan Islam. Kekuasaan Bani Umayyah sangat kukuh dan stabil.
Suatu hari, Sulaiman mengajak Umar ke markas pasukan Bani Umayyah.
Sulaiman bertanya kepada Umar "Apakah yang kau lihat wahai Umar bin Abdul-Aziz?" dengan niat agar dapat membakar semangat Umar ketika melihat kekuatan pasukan yang telah dilatih.
Namun jawab Umar, "Aku sedang lihat dunia itu sedang makan antara satu dengan yang lain, dan engkau adalah orang yang paling bertanggung jawab dan akan ditanyakan oleh Allah mengenainya".
Khalifah Sulaiman berkata lagi "Engkau tidak kagumkah dengan kehebatan pemerintahan kita ini?"
Balas Umar lagi, "Bahkan yang paling hebat dan mengagumkan adalah orang yang mengenali Allah kemudian mendurhakai-Nya, mengenali setan kemudian mengikutinya, mengenali dunia kemudian condong kepada dunia".
Jika Khalifah Sulaiman adalah pemimpin biasa, sudah barang tentu akan marah dengan kata-kata Umar bin Abdul-Aziz, namun beliau menerima dengan hati terbuka bahkan kagum dengan kata-kata itu.


Sebelum menjabat Menjadi khalifah

Menjelang wafatnya Sulaiman, penasihat kerajaan bernama Raja’ bin Haiwah menasihati beliau, "Wahai Amirul Mukminin, antara perkara yang menyebabkan engkau dijaga di dalam kubur dan menerima syafaat dari Allah di akhirat kelak adalah apabila engkau tinggalkan untuk orang Islam khalifah yang adil, maka siapakah pilihanmu?". Jawab Khalifah Sulaiman, "Aku melihat Umar Ibn Abdul Aziz".

Surat wasiat diarahkan supaya ditulis nama Umar bin Abdul-Aziz sebagai penerus kekhalifahan, tetapi dirahasiakan darai kalangan menteri dan keluarga. Sebelum wafatnya Sulaiman, beliau memerintahkan agar para menteri dan para gubernur berbai’ah dengan nama bakal khalifah yang tercantum dalam surat wasiat tersebut. 

Naiknya Umar sebagai Amirul Mukminin

Seluruh umat Islam berkumpul di dalam masjid dalam keadaan bertanya-tanya, siapa khalifah mereka yang baru. Raja’ Ibn Haiwah mengumumkan, "Bangunlah wahai Umar bin Abdul-Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini".

Umar bin Abdul-Aziz bangkit seraya berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah dahulu denganku dan tanpa pernah aku memintanya, sesungguhnya aku mencabut bai’ah yang ada dileher kamu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki".

Umat tetap menghendaki Umar sebagai khalifah dan Umar menerima dengan hati yang berat, hati yang takut kepada Allah dan tangisan. Segala keistimewaan sebagai khalifah ditolak dan Umar pulang ke rumah. Umar menjadi khalifah menggantikan Sulaiman yang wafat pada tahun 716. Ia di bai'at sebagai khalifah pada hari Jumat setelah salat Jumat. Hari itu juga setelah ashar,

Ketika pulang ke rumah, Umar berfikir tentang tugas baru untuk memerintah seluruh daerah Islam yang luas dalam kelelahan setelah mengurus jenazah Khalifah Sulaiman bin Abdul-Malik. Ia berniat untuk tidur.

Pada saat itulah anaknya yang berusia 15 tahun, Abdul-Malik masuk melihat ayahnya dan berkata, "Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?".

Umar menjawab, "Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini"."Jadi apa engkau akan buat wahai ayah?", Tanya anaknya ingin tahu.

Umar membalas, "Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk salat bersama rakyat".

Apa pula kata anaknya apabila mengetahui ayahnya Amirul Mukminin yang baru “Ayah, siapa pula yang menjamin ayah masih hidup sehingga waktu zuhur nanti sedangkan sekarang adalah tanggungjawab Amirul Mukminin mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi” Umar ibn Abdul Aziz terus terbangun dan membatalkan niat untuk tidur, beliau memanggil anaknya mendekati beliau, mengucup kedua belah mata anaknya sambil berkata “Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku” 

Pemerintahan Umar bin Abdul-Aziz

Hari kedua dilantik menjadi khalifah, beliau menyampaikan khutbah umum. Dihujung khutbahnya, beliau berkata “Wahai manusia, tiada nabi selepas Muhammad saw dan tiada kitab selepas al-Quran, aku bukan penentu hukum malah aku pelaksana hukum Allah, aku bukan ahli bid’ah malah aku seorang yang mengikut sunnah, aku bukan orang yang paling baik dikalangan kamu sedangkan aku cuma orang yang paling berat tanggungannya dikalangan kamu, aku mengucapkan ucapan ini sedangkan aku tahu aku adalah orang yang paling banyak dosa di sisi Allah” Beliau kemudian duduk dan menangis "Alangkah besarnya ujian Allah kepadaku" sambung Umar Ibn Abdul Aziz.

Beliau pulang ke rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Apa yang Amirul Mukminin tangiskan?” Beliau mejawab “Wahai isteriku, aku telah diuji oleh Allah dengan jawatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anaknya ramai, rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam tawanan, para fuqara’ kaum muslimin. Aku tahu mereka semua ini akan mendakwaku di akhirat kelak dan aku bimbang aku tidak dapat jawab hujjah-hujjah mereka sebagai khalifah kerana aku tahu, yang menjadi pembela di pihak mereka adalah Rasulullah saw’’ Isterinya juga turut mengalir air mata.

Peristiwa-peristiwa pada pemerintahannya menimbulkan rasa cinta untuk meneladaninya. 

Umar bin Abdul Aziz,adalah Teladan Pemimpin Tawadhu, adil, arif,serta bijaksa lagi berilmu. 
Sosoknya yang begitu melegenda tentu membuat hati penasaran untuk mengenalnya.
Tentu banyak karakteristik seorang mukmin yang bersemayam dalam diri Umar bin Abdul Aziz hingga dirinya ditaati sebagai pemimpin dan namanya tertera dalam daftar sejarah kebanggaan umat muslim. Termasuk salah satu di antaranya adalah sifat tawadhu’ beliau.

Umar bin Abdul Aziz,adalah Teladan Pemimpin Tawadhu, adil, arif,serta bijaksa lagi berilmu.Sosoknya yang begitu melegenda tentu membuat hati penasaran untuk mengenalnya. 

Insan dengan sejarah menawan akan masa kepemimpinannya saat menjabat sebagai khalifah. Ia membalikkan 180 derajat keadaan hidupnya dari yang bermewah harta menjadi penuh dengan keterbatasan ketika dirinya diangkat sebagai khalifah. 

Salah satu kisah nya adalah:

Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz menjelang malam. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”

Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan?.Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.

Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakanlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.

Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.

Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”

“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”

Setelah menjadi khalifah, beliau mengubah beberapa perkara yang lebih mirip kepada sistem feodal. Di antara perubahan awal yang dilakukannya ialah :

1.Menghapuskan cacian terhadap Saidina Ali b Abu Thalib dan keluarganya yang disebut dalam khutbah-khutbah Jumaat dan digantikan dengan beberapa potongan ayat suci al-Quran

2.Merampas kembali harta-harta yang disalahgunakan oleh keluarga Khalifah dan mengembalikannya ke Baitulmal

3.Memecat pegawai-pegawai yang tidak cekap, menyalahgunakan kuasa dan pegawai yang tidak layak yang dilantik atas pengaruh keluarga Khalifah

4.Penghapuskan pegawai pribadi bagi Khalifah sebagaimana yang diamalkan oleh Khalifah terdahulu. Ini membolehkan beliau bebas bergaul dengan rakyat jelata tanpa sekatan tidak seperti khalifah dahulu yang mempunyai pengawal peribadi dan laskar-laskar yang mengawal istana yang menyebabkan rakyat sukar berjumpa.

5.Tentang :kebajikan rakyat miskin di mana beliau juga telah menaikkan gaji buruh sehingga ada yang menyamai gaji pegawai kerajaan.

6.Penghayatan agama di kalangan rakyatnya yang telah lalai dengan kemewahan dunia. Khalifah umar telah memerintahkan umatnya mendirikan solat secara berjammah dan masjid-masjid dijadikan tempat untuk mempelajari hukum Allah sebegaimana yang berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para Khulafa’ Ar-Rasyidin. 

Baginda turut mengarahkan Muhammad b Abu Bakar Al-Hazni di Mekah agar mengumpul dan menyusun hadis-hadis Raulullah SAW.Beliau juga meriwayatkan hadis dari sejumlah tabiin lain dan banyak pula ulama hadis yang meriwayatkan hadis dari beliau.

7.Dalam bidang ilmu pula, beliau telah mengarahkan cendikawan Islam supaya menterjemahkan buku-buku kedoktoran dan pelbagai bidang ilmu dari bahasa Greek, Latin dan Siryani ke dalam bahasa Arab supaya senang dipelajari oleh umat Islam.

8.Dalam mengukuhkan lagi dakwah Islamiyah, beliau telah menghantar 10 orang pakar hukum Islam ke Afrika Utara serta menghantar beberapa orang pendakwah kepada raja-raja India, Turki dan Barbar di Afrika Utara untuk mengajak mereka kepada Islam. Di samping itu juga beliau telah menghapuskan bayaran Jizyah yang dikenakan ke atas orang yang bukan Islam dengan harapan ramai yang akan memeluk Islam.

9.Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau ingin semua rakyat dilayani dengan adil tidak memandang keturunan dan pangkat supaya keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan adalah menyamai keadilan di zaman kakeknya, Khalifah Umar Al-Khatab.

Pada masa pemerintahannya berhasil memulihkan keadaan negaranya dan mengkondisikan negaranya seperti saat 4 khalifah pertama (Khulafaur Rasyidin) memerintah.

- Kebijakannya dan kesederhanaan hidupnya pun tak kalah dengan 4 khalifah pertama itu. Gajinya selama menjadi khalifah hanya 2 dirham perhari atau 60 dirham perbulan. Karena itu banyak ahli sejarah menjuluki beliau dengan Khulafaur Rasyidin ke-5. Khalifah Umar ini hanya memerintah selama tiga tahun kurang sedikit.

-Kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta zakat kerana tiada lagi orang yang mau menerima zakat.Rakyat umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. 

-Dan Pasukan kaum muslimin sudah mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah timur. Pada waktu itu kekusaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada di bawah kekuasaannya.

Hari-hari terakhir Umar bin Abdul-Aziz

Umar bin Abdul-Aziz wafat disebabkan oleh sakit akibat diracun oleh pembantunya. Umat Islam datang berziarah melihat kedhaifan hidup khalifah sehingga ditegur oleh menteri kepada isterinya,
 "Gantilah baju khalifah itu", dibalas isterinya, "Itu saja pakaian yang khalifah miliki.

Apabila beliau ditanya “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah engkau mau mewasiatkan sesuatu kepada anak-anakmu?”

Umar Abdul Aziz menjawab: "Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa"

"Mengapa engkau tinggalkan anak-anakmu dalam keadaan tidak memiliki?"

"Jika anak-anakku orang soleh, Allah lah yang menguruskan orang-orang soleh. Jika mereka orang-orang yang tidak soleh, aku tidak mau meninggalkan hartaku di tangan orang yang mendurhakai Allah lalu menggunakan hartaku untuk mendurhakai Allah"

Pada waktu lain, Umar bin Abdul-Aziz memanggil semua anaknya dan berkata: "Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga (kerana tidak menggunakan uang rakyat).

Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga." (beliau tidak berkata : aku telah memilih kamu susah)

Anak-anaknya ditinggalkan tidak berharta dibandingkan anak-anak gubernur lain yang kaya. Setelah kejatuhan Bani Umayyah dan masa-masa setelahnya, keturunan Umar bin Abdul-Aziz adalah golongan yang kaya berkat doa dan tawakkal Umar bin Abdul-Aziz.

Begitulah para pemimpin umat Islam terdahulu mengajarkan keteladanan pada kita. Umar bin Abdul Aziz memberikan gambaran keindahan tawadhu’, ketika seseorang menurunkan egonya untuk menyamakan dirinya di hadapan manusia dan merendahkan dirinya di hadapan Allah Azza wa Jala, maka ia dapatkan kemuliaan dirinya, penghargaan di hadapan manusia, dan ketinggian derajat diberikan oleh Allah.


 


                                                                    SELAMAT    MEMBACA
 


Monday, September 2, 2013

Hitler Bersumpah dengan Nama Allah

"Karena dia merasa kagum pada Peradaban Islam, dia telah mencetak panduan mengenai Islam dan diedarkan kepada tentara Nazi sewaktu perang, walaupun kepada tentara yang non-Muslim."

Yang Anda baca berikut ini adalah terjemahan dari sebuah email berbahasa Malaysia dari milis ikasmanca@yahoogroups:

Rasa hormat saya pada lelaki agung ini, Adolf Hitler, semoga ada yang meniru jejaknya pada jaman sekarang.

Saya mengobrol dengan saudara saya yang sedang menyelesaikan tesis PhD-nya. Saya amat terkejut ketika dia menyatakan tesis beliau mengenai Adolf Hitler, pemimpin Nazi. Lalu saya bertanya,”Sudah tiadakah tokoh-tokoh Islam di dunia ini hingga engkau memilih si bodoh ini menjadi tema tesismu?”

Dia tertawa lalu bertanya apa yang saya ketahui tentang Hitler.

Saya jawab bahwa Hitler adalah seorang pembunuh yang membunuh semuanya dan menganggap bangsa Jerman di atas segala bangsa lain. Lalu dia bertanya darimana sumber saya. Dari TV tentunya, jawab saya. Lalu saya katakan bahwa Hitler membunuh semua manusia. Kemudian dia berkata,” Baiklah, pihak Inggris telah melakukan yang lebih keji dari itu. Pihak Jepang semasa kekaisaran juga sama. Namun, mengapa dunia hanya menghukum Hitler dan menjelek-jelekkan nama Nazi seolah-olah Nazi masih berwujud hingga hari ini sementara dunia melupakan kesalahan Inggris terhadap Skotlandia, Jepang terhadap dunia dan Afrika Selatan terhadap warga kulit hitam-nya?

Saya lantas meminta jawabannya. Dia meneruskan,” Ada dua alasan :

1. Prinsip Hitler mengenai Yahudi, Zionisme dan proses berdirinya negara Israel. Hitler telah melancarkan Holocaust untuk membasmi Yahudi karena beranggapan nantinya Yahudi akan menjerumuskan dunia.

2. Prinsip Hitler mengenai Islam. Hitler telah mempelajari sejarah kerajaan terdahulu dan umat yang lampau, dan dia telah menyatakan bahwa ada tiga peradaban yang terkuat yaitu Persia, Romawi dan Arab. Ketiganya telah menguasai dunia pada masa lalu. Sementara Persia dan Romawi masih melanjutkan peradaban mereka hingga hari ini, namun Arab hanya bertengkar dengan sesamanya. Dia melihat ini sebagai satu masalah karena Arab akan merobohkan Peradaban Islam yang dia telah lihat begitu hebat pada masa lalu.

Karena dia merasa kagum pada Peradaban Islam, dia telah mencetak panduan mengenai Islam dan diedarkan kepada tentara Nazi sewaktu perang, walaupun kepada tentara yang non-Muslim.

Beliau juga memberi kesempatan tentara Jerman yang muslim untuk menunaikan sholat ketika masuk waktunya di manapun juga…bahkan tentara Jerman pernah sholat di Lapangan Berlin dan Hitler menunggu hingga mereka menyelesaikan sholat jamaah untuk menyampaikan pidatonya.

Hitler juga sering bertemu dengan para Ulama dan meminta pendapat mereka serta belajar dari mereka tentang agama dan kisah para sahabat dalam menyusun strategi…
Dia juga meminta para Syeh untuk mendampingi tentaranya dan mendoakan mereka yang non-muslim dan memberi semangat kepada tentara muslim untuk memerangi Yahudi…

Semua data ini adalah hasil kajian sejarah yang dilakukan oleh saudara saya untuk tesis PhD-nya dan dia meminta saya untuk tidak menambahi apapun supaya tidak menyusahkannya ketika memaparkannya nanti. Dia melarang saya memadukan kajian ini dengan data-data dari internet karena saya bukan pakar bidang sejarah. Tetapi gambar-gambar yang ada di sini sudah lama tersebar dan semua orang boleh melihatnya di internet.

Namun, saya tetap mencari data tambahan dari internet dan menemukan beberapa hal yang menarik:

1) Pengaruh Al-Quran di dalam ucapan Hitler.
Ketika tentara Nazi tiba di Moscow, Hitler berniat menyampaikan pidato. Dia memerintahkan para penasihatnya untuk mencari kata-kata pembukaan yang agung dari kitab suci, kata-kata ahli filsafat ataupun dari bait syair. Seorang sastrawan Iraq yang tanggal di Jerman memberi masukan ayat Al-Quran yang artinya : Telah dekat Hari Kiamat dan telah terbelah bulan…

Hitler merasa kagum dengan ayat ini dan menggunakannya sebagai kalimat pembukaan dan isi kandungan pidatonya. Memang para ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat tersebut bermakna keagungan, kekuatan dan arti yang mendalam.

Hal ini dinyatakan Hitler dalam bukunya Mein Kampf yang ditulis di penjara bahwa segala tindakannya berdasarkan Al-Quran khususnya tindakannya terhadap Yahudi..

2) Hitler bersumpah dengan nama Allah yang Maha Besar

Hitler telah memasukkan sumpah dengan nama Allah yang Maha Besar di dalam ikrar pimpinan tentaranya yang akan tamat belajar di Akademi tentara Jerman.

” Saya bersumpah dengan nama Allah (Tuhan) yang Maha Besar dan inilah sumpah suci saya, bahwa saya akan mematuhi semua perintah pimpinan tentara Jerman dan pemimpinnya Adolf Hitler, panglima tertinggi, bahwa saya akan selalu bersedia untuk mengorbankan nyawa saya kapanpun demi pemimpin saya”

3) Hitler pantang meminum arak ketika dia gemetar saat keadaan pasukan Jerman sedang goncang dan berbahaya. Waktu itu para dokter memintanya meminum arak sebagai obat dan beliau menolak sambil berkata,” Bagaimana anda ingin menyuruh seseorang minum arak untuk pengobatan sedangkan dia seumur hidupnya tak pernah menyentuh arak?”

Ya, Hitler tidak pernah menyentuh arak sepanjang hayat…minuman kegemarannya adalah teh celup yang khas…

Tujuan penulisan ini bukanlah untuk membela apa yang telah dilakukan Hitler, tetapi hanya bertujuan untuk menyingkap apa yang disembunyikan oleh pihak Barat. Semoga kita semua memperoleh manfaat. (sumber: ekoh4ryanto.wordpress.com)

Sumber: MUSLIMINA

Sunday, September 1, 2013

"Wasiat Paling Menakjubkan dari Syuhada Rab'aa"



 Kairo - Masih ingat gambar ini? Gambar ini memperlihatkan salah seorang korban luka yang sedang dievakuasi oleh seorang demonstran yang lain. Ini terjadi saat militer dan polisi membantai demonstran di Rab’ah 14 Agustus yang lalu. Tak ada yang mengira, banyak pelajaran di balik gambar ini.

Korban terluka bernama Muhammad Utsman. Berasal dari kota Abul Mathamir, propinsi Buhaira. Beliau adalah pengantin baru, umurnya 27 tahun, hafal Al-Qur’an, dan berasal dari keluarga ulama.

Wajih Shabah, seorang saksi mata yang merupakan guru bahasa Arab dari desa yang sama menyampaikan kesaksiannya, “Muhammad Utsman terkena peluru pada pembantaian di Rab’ah. Maka ada seorang demonstran lain yang berusaha mengevakuasinya. Tapi sniper kudeta dengan tanpa ampun menembak orang yang menolong itu juga. Sehingga banyak orang memberi judul “syahid membopong syahid”.

Begitu terjatuh dari orang yang membawanya, Utsman memanggilku dengan histeris. Dia berusaha sekuat tenaga membisikkan sebuah wasiat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Anehnya, yang beliau bisikkan bukan wasiat menitipkan orangtua dan isterinya. Wasiatnya, “Aku berhutang pulsa 3 pounds kepada vodafone. Tolong kamu bayarkan ya…” Vodafone adalah sebuah perusahaan jaringan telepon selular.

Ketaqwaanlah yang membuat syahid ini mengingat hutang pulsanya yang tidak mencapai setengah dollar itu. Padahal media-media Mesir menyebarkan isu bahwa demonstran Rab’ah berdemo karena dibagi-bagi uang.

Baru sempat dibaca,sampai tdk bisa menahan tangis...ya Allah Engkau jadikan Mesir sebagai pembelajaran yg nyata dr -Mu

Subhannalllah...Allahumma amitna ala syahadati fi sabilik...


Keterbukaan Rasulullah SAW Memberi Maaf Kunci Utama Keberhasilan Dakwah Islam

قَالَ اللهُ تَعَالَى: (فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ). (Ali Imran(03): 159)

وَقَالَ تَعَالَى: (لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ).
(At-Taubah(09): 128)


Keterbukaan hati menerima perbedaan dan kekurangan, mendengar sanggahan, memaafkan kesalahan, dan cinta damai, kunci utama keberhasilan dakwah. Yang terbuka hatinya mampu menyikapi dan memecahkan masalah, meluruskan yang bengkok dan menyambung yang patah, mengayomi dengan bijak, merangkul yang jauh, menghangatkan suasana, menyakini titik temu (sikap dan pikir) terdapat di pelbagai pintu kehidupan, sementara titik beda dapat diperkecil lobangnya, ditutup rapat dan ditimbun dengan benih-benih kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama.
 Rasulullah Saw hamba Allah SWT yang paling terbuka menyikapi kehidupan; terbuka mendengarkan keluh-kesah umat, meski itu datang dari rakyat jelata, terbuka menerima perbedaan, meski itu datang dari musuh-musuh Islam yang tidak diragukan lagi kebencian dan kedengkian mereka terhadap keberhasilan dakwahnya, merangkul semua pecinta dan perindunya dari sahabat tanpa membedakan kasta dan derajat sosial mereka, terbuka menerima ejekan dan penghinaan yang lahir dari kebodohan mereka terhadap hakikat syariat, dan terbuka memberi maaf, meski itu sulit dimaafkan menurut kita, orang-orang awam.

Seseorang yang terbuka menerima perbedaan, boleh jadi menemukan kejanggalan di hatinya tatkala ingin memberi maaf. Dia dengan ringan membuka hati mendengar dalil dan argumen lawan, tetapi belum tentu hatinya lapang memaafkan orang-orang yang pernah menginjak-injak kehormatan 

dirinya. Telinga tidak punya beban menyimak, tetapi lidah kadang terasa berat mengucap kata maaf dan tangan seperti terpaku oleh sikap dingin yang enggan diulurkan memberi maaf. Tetapi, fitrah Rasulullah Saw melampaui semua sifat-sifat tersebut yang lumrah ditemukan di masyarakat awam dan mencontohkan keterbukaannya untuk diteladani umat di kemudian hari. Sungguh, ini keistimewaan tersendiri terhadap etika gaul dan muamalah Rasulullah Saw yang menakjubkan.

Perang uhud salah satu kejadian yang paling berat dirasakan Rasulullah Saw, tetapi yang terberat dari itu, seperti penuturan Sayyidah Aisyah RA, kejadian hari Aqabah di saat Ibn Abdu Yâlil bin Abdu Kulâl dan orang-orang musyrik menolak ajakannya memeluk Islam. Kejadian pahit ini melukahi perasaannya sehingga itu terlihat dengan jelas di mukanya yang dirundung duka. Jibril AS pun mendatanginya dan berkata: “Sesungguhnya Allah SWT mendengar dan mengetahui sikap mereka yang enggan menerima dakwah Islam. Olehnya itu, Allah mengutus malaikat gunung-gunung untuk mengikuti apa pun yang Anda perintahkan.” Malaikat itu pun memberi salam dan berkata: “Wahai Muhammad, Jika Anda menginginkan kehancuran mereka, saya dapat mengurung dan menjepit mereka dengan kedua pegunungan besar dan panjang yang mengitari kota Mekah.” Jawabnya: “yang saya inginkan, Allah  SWT akan mengeluarkan dari tulang rusuk mereka keturunan yang menyembah Allah SWT dan menyucikan-Nya dari kemusyrikan.” (Hadits riwayat Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Tentunya, ini keistimewaan tersendiri terhadapnya. Umumnya, yang dizalimi jika ditawari tawaran seperti ini, ia akan menerima dan menghitungnya sebagai kelebihan tersendiri terhadap dirinya. Bahkan tidak sedikit nabi-nabi Allah SWT yang menginginkan kemusnahan kaum mereka yang tidak beriman. Tetapi Rasulullah Saw mengukir sejarah tunggal yang mengabadikan namanya sebagai nabi yang paling peduli dan pemaaf terhadap kaumnya, meskipun penyiksaan dan pembangkangan mereka di luar batas kemanusiaan. Bahkan, yang lebih menakjubkan lagi jika sikap keras kepala mereka diabaikan Rasulullah Saw dan dijawab dengan doa pengampunan terhadap mereka: “Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui hakikat agama yang aku emban.” (Hadits riwayat Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Rasulullah Saw telah mengasihani dan menyanyangi kita, tetapi apakah pernah kita memikirkan itu dan tersentuh olehnya? Sekarang, jawablah kasih sayang tersebut dengan meneladaninya di setiap kesempatan.
Yang diketahui juga Rasulullah Saw keluar terusir dari kota Mekah di malam hari dan kembali menaklukkannya di siang hari setelah menghancurkan patung-patung yang tergantung mengotori Ka’bah. Masyarakat Mekah panik dan takut melihat kejadian tersebut seperti tidak percaya apa yang sedang ditonton oleh mata telanjang mereka. Rasulullah Saw dengan ringan bertanya: “apa yang engkau sekalian kira aku akan menjatuhkannya kepadamu?” mereka dengan etika diplomasi mengharap keringanan dan maaf menjawab: “saudara (maksudnya Rasulullah Saw) mulia dan anak dari saudara kami yang mulia,” ucapan ini cukup menggugah dan menyentuh hati Rasulullah Saw yang mendorongnya bersikap lunak dan bersaudara terhadap mereka dan memberi pernyataan maaf yang tidak pernah hilang dari ingatan umat: “pergilah, kalian semua dibebaskan, selamat dan terjaga harta dan kehormatan kalian untuk disentuh dan dikotori.” Rumah-rumah masyarakat Mekah yang terkunci rapat dan takut invasi Rasulullah Saw, kini terbuka lebar menerima kedatangannya dan mereka pun berbondong-bondong membaiatnya.”

Memberi maaf kadang memberi sentuhan kehidupan yang tidak terduga dan itu menjadi perekat sosial yang menumbuhkembangkan rasa cinta dan kasih sayang antar sesama. Siapa yang menduga telinganya akan terkorek oleh ucapan maaf dari orang yang pernah ia sakiti? Siapa yang mengira tangannya akan terguncang hebat dijabat oleh orang yang pernah ia zalimi memberi maaf? Di sini Rasulullah Saw telah menjadi obor terang kehidupan yang mencontohkan sifat ringan memberi maaf yang melahirkan ketentraman sosial di antara elemen masyarakat.

Jangan kira meminta maaf itu meruntuhkan kehormatan jati diri karena takut dipandang remeh, justru itu langkah awal yang menyuguhkan kebaikan-kebaikan yang tidak terduga! Jangan kira memberi maaf itu kemuliaan diri Anda sendiri, tetapi itu salah satu bentuk kepatuhan Anda terhadap teks-teks syariat yang menganjurkan Anda memberi maaf dengan ikhlas karena Allah! Yang demikian itu supaya pahala Anda tidak runtuh hanya karena dikendarai rasa puji diri.

Contoh lain, di Sunan Imam Abu Daud Rasulullah Saw ditemani Sayyidina Anas RA di sebuah perjalanan, tiba-tiba dikagetkan oleh sosok bayangan yang menyambar sekilat petir selendang Nejeran Rasulullah Saw yang melilit kuat di lehernya sehingga meninggalkan bekas merah di lehernya. Yang bersama dengan Rasulullah Saw dari sahabat tidak menerima perbuatan tersebut dan ingin balik memberikan pelajaran terhadap orang tersebut yang tidak terlupakan dalam lembaran-lembaran hidupnya. Namun, Rasulullah Saw menengoknya dan memberi senyum kesejukan yang mengusir rasa takut dalam dirinya dan memerintahkan selendang Nejerannya itu untuk dihadiahkan untuknya. Seandainya saja orang tersebut dilukai sahabat atau dibunuh karena praduga salah, orang ini akan terzalimi dan semuanya pun ikut bersalah. Sikap dingin Rasulullah Saw ini memecah keheningan suasana dengan kehangatan senyumnya yang menyejukkan hati.

Seperti yang diriwayatkan Shahih Imam Muslim, Rasulullah Saw tidak pernah memukul sesuatu di tangannya, seorang perempuan atau hamba sahaya, kecuali di jalan Allah SWT berjihad. Yang demikian itu karena tangan identik dengan kekerasan, sementara itu, Rasulullah Saw tidak pernah ditemukan melakukan balas dendam hanya karena kepentingan dirinya sendiri, tetapi dia ditemukan melakukannya jika kehormatan Allah SWT telah dinodai dan diinjak-injak.

Sungguh ini sebuah keistimewaan yang luar biasa. Hematnya, tidak ada satu pun dari pemerhati nilai-nilai kemanusiaan kecuali tunduk mengakui keistimewaan ini yang menempatkan Rasulullah Saw sebagai “the greatest one” yang paling bersinar memaknai dan mewarnai kehidupan dengan nilai-nilai islami. Hal yang sama ditemukan di Sayyidina Ali RA yang tidak menghujani musuh yang meludahi mukanya setelah kalah tanding dengan tikaman dan tebasan pedang. Yang demikian itu Sayyidina Ali RA takut orang tersebut terbunuh dengan zalim, terbunuh dengan motif balas dendam yang dipengaruhi hawa nafsu, bukan karena Allah SWT semata di jalan jihad. Sikap jantan dan luar biasa ini menuntun musuhnya memeluluk Islam dan mengakui keagungan dan keindahannya. 

Alhamdulillah yang memperlihatkan kilauan kebenaran hakikat agama ini di tangan Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Mereka menyakini bahwa yang kuat itu bukan yang keras kepalan tangannya meninju atau menampar, tetapi yang kuat itu yang mampu menguasai diri dan mengendalikan emosinya di saat marah.

Hematnya, Rasulullah Saw telah memberi gambaran hidup terhadap teks-teks syariat yang menganjurkan keterbukaan memberi maaf. Olehnya itu, ia disifati sebagai pengemban syariat Allah yang berakhlak mulia, punya kedudukan paling tinggi di sisi Allah SWT. Yang demikian itu karena Rasulullah Saw hamba terbaik dalam menafsirkan dan memaknai nama-nama Allah yang terkait dengan tema ini, seperti: (الرحمن), (الرحيم), (الغفار), (الكريم), (الغفار), (العفو), (الرؤوف).

Olehnya itu, maaf-memaafkan terhitung rukun lingkungan masyarakat yang menjaga roda sosial tetap berjalan dengan penuh keseimbangan di atas rel kehidupan. Dia tiang dan sandaran yang tidak pernah roboh menopang bagi siapa saja yang ingin menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Yang demikian itu karena seandainya setiap orang yang dizalimi mengikuti nafsunya balas dendam, maka masyarakat ini akan runtuh. Satu penumpang saja melakukan kerusakan di kapal dengan membuka papan-papan sandarannya atau mencopot tiang layarnya, dipastikan semua penumpangnya terancam ombak yang setiap waktu siap menelan korban. Apalagi jika yang melakukannya lebih dari satu orang. Jika setetes darah saja mengalir dari satu orang yang dizalimi mewariskan pilu dan sedih, bagaimana jika darah itu mengucur kuat dari korban-korban kekerasan yang menindas?

Sadar hal ini, wajib bagi setiap lapisan masyarakat saling memaafkan, menempatkan kebaikan di atas segala-galanya, menjadikan santun ganti dari amarah, membongkar kata hati yang menghembuskan niat-niat jahat dengan sabar. Masyarakat seperti ini masyarakat mulia yang membangun stabilitas keamanan dan kekokohannya dengan menciptakan solidaritas persatuan dan persaudaraan yang kuat. Masyarakat islami yang didambakan para pecinta masyarakat ideal dari kalangan pemikir dan orientalis Eropa.

Memberi maaf seperti yang diriwayatkan hadits-hadits nabi memiliki kemuliaan yang tidak terhingga. Dia mewariskan keagungan, kasih sayang antar sesama, mengangkat derajat, menghapus keburukan, dan menjanjikan pahala yang besarnya hanya diketahui Allah SWT.

Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati keistimewaan Rasulullah Saw menyuarakan kesimpulan berikut:

“Memberi maaf tidak mewariskan kecuali kebaikan dan kemuliaan. Masyarakat islami yang ideal masyarakat yang hidup bersandarkan dan berpegangan dengan sifat mulia ini. Memberi maaf sangat mulia karena ia tafsiran kuat dan pemaknaan tinggi terhadap nama-nama Allah, seperti: (الرحمن), (الرحيم), (الغفار), (الكريم), (الغفار), (العفو), (الرؤوف). Karena Rasulullah Saw hamba Allah yang paling baik menafsirkan dan memaknai Asmaullahi al-Husna, ia pun pemakna dan penafsir tidak tertandingi dalam menghidupkan maaf-memaafkan ( الصفح,العفو) seperti yang diperintahkan teks-teks syariat yang memenuhi ruang-ruang kehidupan dengan persaudaraan dan persatuan yang kokoh sehingga semua lapisan masyarakat terpadu meraih kesejahteraan dan keselamatan dunia-akhirat. Keistimewaan Rasulullah Saw ini patut disyukuri dan lebih mendekatkan diri kita ke pengamalan sunnah-sunnahya. Amin ya Rabbal Alamin.”

Sumber: dakwatuna.com
Flower 53