Wednesday, August 3, 2011

Mawaddah “Unlimit Love”



Kecintaan seorang suami kepada istrinya yang tetap setia bertahun-tahun hidup bersama, tanpa melihat fisik apakah al hubb atau mawaddah?

Kecintaan Rasulullah saw ketika mendakwahi umatnya yang susah diajak berpikir apakah al hubb atau mawaddah?

Ternyata kedalaman bahasa ‘arab memiliki makna luas dan bermakna.
Al hubb dan mawaddah ternyata sangat jauh berbeda.

Al hubb mencintai tanpa ada rasa tanggung jawab dan kotmitmen terhadap yang ia cintai.

Perceraian marak sekali terjadi, durhaka anak kepada ibunya, putusnya tali silahturahmi antara keluarga, saling bermusuhan antara tetangga satu dengan yang lain dll. Karena standarnya adalah cinta atas dasar maslahat sehingga berdampak akan mudah sekali hilang cintanya jika dia tidak menemukan mashlahat terhadap yang ia cintai.

Mawaddah adalah cinta yang unlimit atau tidak terbatas sampai kapanpun.

=Kecintaan Rasulullah saw ketika mendakwahi umatnya

=Kecintaan yang dimiliki oleh seorang ibu terhadap anaknya.
Cintanya seorang ibu akan hidup sampai kapanpun tidak terbatas tempat,waktu, dan usia anak

=Cintanya sepasang suami istri yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun namun masih tetap cinta, masih tetap sayang, masih tetap akan merasa bahagia jika bersama, ada kerinduan yang besar ketika tidak bertemu walaupun usia sudah tua tapi rasa cinta seperti itu masih ada, walaupun dari fisik pasangannya mungkin sudah tidak enak dilihat lagi .

=Lebih menarik lagi kisah pada genarasi sahabat, kisah ini terjadi pada saat pemerintahan ‘Umar Amirul mukminin r.a. ada seorang arab badui yang akan mengadukan istrinya kepada ‘Umar karena istrinya telah mengeluarkan suara keras melebihi suaranya.

Iapun kemudian pergi ke rumah Amirul Mukminin ‘Umar bin Khatab r.a. dan ketika dia sampai di depan pintu rumah Amirul Mukminin dia mendengar langkah kaki ‘Umar yang hendak keluar dari rumahnya. Dia mendengar istri Amirul Mukminin berkata kepadanya dengan suara yang keras mengatakan: “bertaqwalah kepada Allah, wahai ‘Umar atas apa yang engkau pimpin!”

‘Umar hanya diam dan tidak berbicara sedikitpun, orang badui tersebut berbicara dalam hatinya seraya berpaling pergi: “Jika keadaan Amirul Mukminin saja seperti ini, maka bagaimana dengan diriku?” Ketika ia hendak berpaling pergi, ternyata ‘Umar bin khatab telah keluar dan melihatnya. ‘Umar bertanya apa keperluanmu?, wahai saudaraku orang Arab?”

Orang arab badui itupun menjawab: “Wahai Amirul Mukminin sebenarnya aku ingin menemuimu untuk mengadukan sikap istriku. Dia telah berani bersuara keras terhadap diriku. Namun seketika aku melihat keadaan rumahmu, aku menjadi merasa kerdil, karena apa yang engkau hadapi lebih sulit daripada apa yang aku hadapi. Oleh karena itu, aku hendak pulang dan berkata pada diriku sendiri: “Jika Amirul Mukminin saja mendapat perlakuan seperti itu dari istrinya, maka bagaimana dengan diriku?”

‘Umar pun terseyum dan berkata: “Wahai saudaraku semuslim, aku menahan diri dari sikapnya (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas diriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya. Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada yang dapat memuliakan wanita selain orang yang mulia dan tidak ada orang yang merendahkan selain orang yang suka menyakiti. Mereka dapat mengalahkan setiap orang yang mulia namun mereka dapat dikalahkan oleh setiap orang yang suka menyakiti. Akan tetapi, aku angat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”

‘Umar melanjutkan : “Wahai saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri karena dia istriku memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencuci baju-bajuku. Sebesar apa kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”
Saya suka sekali membaca kisah yang penuh makna ini berkali-kali,bahkan mengikuti bedah bukunya tentang kecintaan Umar sang khalifah terhadap istrinya.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khattab yang disegani kawan maupun lawan berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa dia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, dia selalu tegas kepada siapa pun?

Saat Umar diam mendengarkan keluhan istrinya, ternyata dia sedang mencoba berempati kepada istrinya, “Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya.” ungkapnya.

Setidaknya, seorang istri telah berperan besar dalam empat hal, istri telah berusaha membentengi suami dari api neraka (saat godaan syahwat menghampiri), memelihara harta suami saat suami tidak berada di rumah, menjaga penampilan suami, mengasuh anak-anak, dan menyediakan hidangan untuk keluarganya.

Untuk segala kemurahan hati sang istri itulah, Umar rela mendengarkan keluh kesah buah lelah istrinya. Umar lebih memililih untuk mengingat kebaikan-kebaikan istrinya daripada mencela kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah dia menasehati dengan cara yang baik, kadang malah dengan bercanda sehingga terhindar dari caci maki yang takterpuji.

Tidak tepikirkan oleh saya, bagaimana perhatian negara Islam yang begitu besar untuk mengurusi umatnya termasuk masalah rumah tangga, luar biasa. Disisi lain, sikap seorang pemimpin besar semisal ‘Umar yang kalau kita ketahui sifat ‘Umar adalah keras dan kasar, tapi bisa menahan diri dari bersikap kasar dan lebih memilih bersikap lembut kepada istrinya yang beliau cintai. Itulah cinta mawaddah ‘Umar kepada istrinya.

satu kutipan dr Al Qur'an=
�dan pergaulilah mereka dengan cara yang patut kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak� {An-Nisaa:19}.

Semoga kecintaan kita selalu dilandasi keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla
Dan merupakan cinta= Mawaddah=“Unlimit Love”
Semoga bermanpaat,dan anda tinggal menilai apakah cinta anda termasuk
al hubb atau mawaddah?....

MUI: Masa Tempat Buang Hajat Lebih Bagus dari Mushala

 

BERIBADAH merupakan hal yang prinsipil dan hakiki bagi umat beragama. Untuk melaksanakan perintah agama, tentunya harus ada tempat ksusus seperi masjid atau musala bagi umat Islam.

Tak terkecuali di saat sibuk bekerja, berekreasi, atau berbelanja di mal atau supermarket, seorang Muslim tetap diwajib melaksanakan salat lima waktu. Nah, gedung mal yang tampak megah dari luar, terkadang menyediakan tempat salat yang ala kadatnya. Bahkan mungkin ada yang membangun tempat ibadah Muslim ini setelah ada permintaan pengunjung.

Belum lagi soal lokasi yang tidak sedikit menempatkan musala layaknya tempat buang hajat, lantaran berada persis bersebelahan dengan toilet atau WC umum, atau di area parkiran di bagian paling bawah. Namun tidak dipungkiri ada sejumlah mal elit yang menghadirkan musala tak kalah eklusif dari fasilitas di hotel berbintang.

Terkait masalah ini Majelis Ulama Indonesia (MUI), angkat bicara soal keberadaan musala atau masjid di mal. Ketua MUI KH Ma'ruf Amin mengatakan, pembangunan musala atau masjid di mal seyogianya sebanding dengan megahnya bagunan perbelanjaan tersebut. "Jadi musala itu atau tempat salat harusnya sesuai dengan situasi di situ (mal). Kalau malnya bagus, ber-AC, tidak pantes itu kalau musalanya kecil, kotor, gelap, dekat dengan kamar mandi," katanya saat berbincang dengan okezone usai mengikuti sebuah pertemuan di Hotel Sultan, Jakarta, baru-baru ini.

Menyediakan sarana ibadah ini mesti tidak ada aturan pastinya, tetapi tetap harus diperhatikan dari segi kelayakannya. Ma'ruf Amin sangat menyayangkan musala atau masjid yang sulit dijangkau karena berada di ujung atau di ruangan paling bawah dengan ukuran kecil dan kotor. "Itu yang tidak seimbang," katanya.

Maka dari itu, MUI yang merupakan lembaga pembuat fatwa di Indonesia mengimbau agar mal atau tempat perbelanjaan membangun musala sesuai dengan kepantasannya. Tidak hanya gedung mal yang megah dan indah, namun tempat peribadatan dibuat bagus dan diperindah. "Saya kira itu yang kita imbau agar membuat musala yang representatif," pintanya.

Ma'ruf Amin juga tidak memungkiri musala di mal yang terkesan nyempil. Dibangun bersebelahan dengan WC umum, bahkan ada tempat buang hajatnya yang lebih bersih ketimbang musalanya. Padahal, kata Ma'ruf Amin, air seni itu dikenal di Islam sebagai najis sedang. Jika air seni mengenai angota badan dan pakaian meski cipratannya sekalipun, maka ibadah salatnya tidak sah karena belum suci dari najis.

"Standarnya itu jangan sampai orang yang mau berwudhu, kencing kemudian tercecer-cecer lalu menjadi tidak suci. Salatnya jadi tidak sah kan. Itu percuma saja. Harus disediakan tempat kencing khsusus. Tempat wudhu yang rapi dan layak. Jangan sampai air kencing itu tercecer-cecer ke mana-mana," terang Ma'ruf Amin. Oleh sebab itu, dalam pembuatan musala dan tempat wudhunya harus dibuat sedemikian rupa, agar potensi najis dari buang hajat dapat dicegah, sehingga kesucian bisa terpelihara dengan baik.

Ketua Umum DPP Muhammadiyah Din Syamsuddin tidak begitu mempersoalkan standarisasi musala di mal. "Tidak ada standar, yang penting bersih sehingga umat dapat memanjalankan ibadah dengan lebih baik," terangnya. Menurut Din, fasilitas ibadah di mal umumnya tidak luas dan besar. Karenanya sudah cukup menyediakan satu tempat khsusus yang layak untuk beribadah. "Sediakan  tempat wudhu dan tikarnya juga. Sekarang ini sudah banyak musala di mal yang lebih bagus dan terhormat,” ungkap tokoh agama berpengaruh ini.
   
Di bulan Ramadan ini, tentunya setiap mMuslim wajib berpuasa dan menjalankan ibadah lainnya, termasuk salat lima waktu yang tidak boleh ditinggalkan. "Pusat perbelanjaan harus meningkatkan fasilitas yang ada untuk memenuhi kebutuhan pengunjung beragama Islam. Tentu di dalam bulan Ramadhan ini intensitas peribadathan umat meningkat, khususnya pada waktu zuhur dan ashar," ungkapnya.

Kendati demikian, kata Din, bagi mal tidak harus membangun musala baru, melainkan tempat salat yang cukup luas sehingga banyak menampung umat ketika menjalankan ibadah. "Khususnya di tempat makan seperti food court. Tempat untuk salatnya jangan berada jauh dari sana, karena dapat membuat umat malas datang. Hal ini juga merupakan kesalahan umat, sehingga ada paradoks, mereka berbuka puasa, tapi tidak salat magrib," jelas Din mengingatkan.

Persoalan sarana ibadah yang tidak layak di mal memang perlu mendapat perhatian semua pihak. Musala adalah tempat ibadah yang selalu digunakan oleh umat muslim di Indonesia yang menjadi mayoritas penduduk. Umumnya musala di mal tidak besar dan luar sehingga muncul masalah ketika yang salat banyak. Adanya persoalan ini tidak lantas menyalahkan pemerintah yang tidak membuat aturan jelas.

"Ini bukan kelemahan pemerintah, tapi pemilik atau pengelola mal yang harus terus diimbau agar menyediakan sarana ibadah yang layak, tapi tidak harus masjid atau musala," ujar Din.


Sumber: okezone

Tomat Bantu Cegah Kanker

 


Likopen zat warna merah yang menjadi ciri khas buah tomat bisa membantu mencegah kanker, begitu kata ilmuwan.

"Kami tidak mengarahkannya untuk mengobati kanker, melainkan untuk mencegahnya. Dan kami berharap bisa melakukan hal itu dengan likopen," kata Richard van Breemen, profesor kimia pengobatan di Universitas Illinois yang memimpin penelitian, sebagaimana dikutip jurnal Cancer Prevention Research.

Setiap hari, setengah relawan dari riset itu (150 orang) yang berusia 50 samapi 80 tahun mendapatkan dua kapsul gel berisi 30 mg likopen. Sementara separuh relawan lainnya hanya diberi plasebo berisi minyak kedelai.

Jumlah likopen yang diberikan itu kira-kira sama seperti yang dimakan sehari-hari berupa saus tomat saat menikmati pizza atau spageti.
Para peneliti ingin mengetahui apakah likopen naik di dalam darah dan jaringan prostat, dan apakah bisa menurunkan tanda-tanda stress oksidatif yang menjadi faktor penyebab banyak penyakit -- seperti kanker dan Alzheimer -- dalam proses penuaan normal.

Stres oksidatif dapat merusak sel-sel dalam tubuh, sementara antioksidan membantu sel melawan kerusakan yang terjadi, kata Van Breemen.

Setelah mendapatkan likopen atau kapsul plasebo selama tiga pekan, para relawan menjalani biopsi untuk mendapatkan diagnosa BPH (pembesaran prostat) atau kanker prostat. Dua biopsi tambahan dilakukan untuk mengukur oksidasi DNA dan likopen.

Patologi menunjukkan, 51 pria mengidap kanker prostat dan 65 orang mengalami pembesaran prostat. Para pria yang mendapatkan likopen menunjukkan "peningkatan signifikan" jumlah antioksidan dalam darah dibanding mereka yang hanya mendapatkan plasebo, kata Van Breemen.*


Sumber:Hidayatullah.com

Tuesday, August 2, 2011

Orang Miskin Dilarang Sakit

Jakarta: Pernyataan orang miskin tak boleh sakit kini ada benarnya. Warga miskin tak hanya direpotkan dengan urusan birokrasi Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin atau Jamkesmas, tapi juga harus menanggung berbagai biaya lain.

Belum lagi hasil pembahasan Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) antara pemerintah dan DPR. Mereka sepakat memperpanjang pembahasan RUU BPJS serta membatalkan peleburan empat Badan Usaha Milik Negara bidang asuransi.

Pemerintah berpendapat, peleburan keempat BUMN asuransi terdiri dari PT Jamsostek, Taspen, Asabri, dan Askes akan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi. Ini mengingat nilai investasi keempat BUMN mencapai Rp 190 triliun.

Apalagi di sejumlah daerah, seperti Pemerintah Kabupaten Garut dan Pemerintah Kabupaten Ciamis memberhentikan kucuran anggaran kesehatan bagi masyarakat miskin. Alasannya karena keterbatasan anggaran [baca: RSUD Garut Hentikan Pelayanan Jamkesda].

Monday, August 1, 2011

Dokter Ingatkan Bahaya Penggunaan Kosmetik Sembarangan

Perdesti Ingatkan Bahaya Penggunaan Kosmetik Sembarangan




Surabaya (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Estetika Indonesia (Perdesti) mengingatkan kepada masyarakat agar tidak menggunakan kosmetik sembarangan karena tergiur harga murah, padahal dari sisi keamanan tidak terjamin.

"Jangan sampai tergiur dengan kosmetik yang populer dengan harga sangat murah dan menjanjikan dapat menghaluskan atau memutihkan secara instan. Ini karena biasanya kosmetik itu mengandung senyawa mercury yang berbahaya untuk manusia," ujar Ketua Umum Perdesti Dr Teguh Tanuwidjaja ketika ditemui di sela kampanye kosmetik aman di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu.

Dalam kampanye tersebut, Perdesti membagi-bagikan ribuan kosmetik yang aman dan tidak mengandung bahan berbahaya kepada para pengguna jalan yang melintas. Ribuan masker juga dibagikan agar selama perjalanan tidak terkena polusi asap kendaraan.

Menurut dia, tujuan digelarnya kampanye ini selain memperingati hari jadi ke-5 Perdesti, juga untuk memberikan pendidikan dan pemahaman kepada masyarakat tentang keamanan mendapatkan pelayanan di bidang kedokteran estetika yang saat ini sudah berkembang pesat.

"Berbagai efek samping berbahaya maupun ringan yang mematikan telah dialami akibat ketidakmengertian masyarakat terhadap bahaya penggunaan maupun pelayanan. Apalagi ada yang tidak dilakukan oleh dokter, jelas ini sangat mengancam kesehatan, khususnya di bagian wajah," kata Teguh.
Oleh karena itu, lanjut dia, Perdesti merasa sangat perlu bertanggung jawab dengan cara mengingatkan masyarakat.

Pihaknya menugaskan seluruh anggota Perdesti terutama yang berdomisili kerja di daerah pelosok untuk terus memberikan edukasi sekaligis pelayanan yang benar kepada masyarakat di bidang estetika.
"Intinya, Perdesti akan menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di bidang estetika sebagai bentuk partisipasi dalam pembangunan kesehatan yang bekerja sama dengan pemerintah," papar Teguh yang juga pimpinan "Asia Pacific Alliance in Aesthetic Medicine" tersebut.

Sementara itu, Humas Perdesti Dr Juli Karijati mengungkapkan, pihaknya juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membeli produk kosmetika yang lewat masa kedaluarsanya.

"Amati kemasan dan tempat penyimpanan produk. Jangan membeli produk yang kemasannya rusak atau terpapar sinar matahari dalam waktu lama," tuturnya.

"Yang perlu diingat, harga boleh murah, tapi yang penting kandungannya tidak berbahaya untuk kulit," kata Juli menambahkan.idyahoo
Flower 53