Wednesday, April 10, 2013

Berlomba-lomba Memuliakan Pasangan


JIKA ada yang bertanya, siapakah pasangan suami istri paling bahagia, maka jawabnya adalah Rasulullah Shallallahu Alayhi Wasallam bersama Sayyidah Khadijah radhiyallahu anha. 


Sekalipun Muhammad ketika itu lebih muda, mantan karyawannya, dan tidak memiliki kekayaan seperti dirinya, Khadijah tetap memuliakan, menghormati bahkan mentaati Muhammad sebagai suaminya dengan sepenuh hati.


Khadijah sering sekali meneguhkan pendirian Muhammad, menghibur dan memuliakannya. “Engkau adalah manusia yang paling jujur di bumi ini wahai suamiku, engkau tidak pernah membalas kecuali kebaikan, meskipun engkau menerima keburukan dan penderitaan. 

Bahkan, engkau tidak pernah memutus tali persaudaraan. Sungguh aku yakin, engkau adalah suamiku yang akan menerangi kehidupan ini,” demikianlah ungkap Khadijah dalam suatu kesempatan.

Demikian pula Muhammad, sekalipun istrinya jauh lebih tua dan janda dari beberapa suami, Muhammad sangat-sangat memuliakan Khadijah sebagai istrinya. Pernah suatu ketika, Aisyah cemburu tidak suka Nabi menyebut nama Khadijah, Nabi pun menjelaskan bahwa Khadijah adalah istri yang paling dimuliakannya.

“Dia menerimaku pada saat orang mendustakanku. Dia yang memuliakanku pada saat semua orang menghinakanku. Dia telah menyerahkan seluruh hartanya demi dakwah ini. Bahkan dia pula yang melahirkan anak-anakku,” demikian kenang Nabi sebagai bentuk hormat dan kasih yang mendalam beliau yang mulia kepada istri pertamanya Khadijah radhiyallahu anha.

Khadijah menemani hidup Nabi selama 25 tahun sampai dirinya berpulang 3 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Meninggalnya Khadijah membuat Nabi berduka sehingga tahun wafatnyanya dinamai oleh Nabi dengan ‘Am Al-huzni' (tahun duka cita). Khadijah adalah istri yang paling di cintai Nabi sehingga sampai sekian lama setelah ketiadaannya Nabi senantiasa menyebut namanya, hal itu pernah membuat ‘Aisyah cemburu.

Akar Kebahagiaan
 
Sikap saling memuliakan adalah akar kebahagiaan. Sikap tersebut tidak akan muncul kecuali suami istri benar-benar mengamalkan ajaran Islam. Oleh karena itu, sudah seharusnya, seluruh rumah tangga Muslim bersegera untuk memperbaiki kondisi keluarganya dengan bersegera untuk saling memuliakan antara suami dan istri.

Ibn Abbas radhiyallahu anhu adalah sosok sahabat yang sangat mengerti bagaimana cara memuliakan istrinya. Dia berkata, “Aku sungguh senang berdandan untuk istriku, sebagaimana aku senang jika dia berdandan untukku, karena Allah Ta’ala berfirman;

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS: al Baqarah [2]: 228).

Sungguh tak elok, jika seorang suami hanya menuntut istrinya berdandan, sementara dirinya tidak memperhatikan dandanannya. Adalah suatu kebaikan suami istri saling bersikap ramah, lemah lembut, penuh kasih, melayaninya dengan sebaik-baik pelayanan dan saling memuji serta saling mendoakan.
 
Dengan cara seperti itu, Insya Allah istri akan bangga kepada suami begitu juga sebaliknya. Bahkan jika sang istri menemui ajal lebih dahulu dari suami, sementara suami ridha dengan sikap dan perilaku istrinya selama bersamanya, maka surga sudah siap menjemputnya.
 
Rasulullah bersabda, “Setiap istri yang meninggal, dan suaminya ridha, maka dia akan masuk surga.” (HR:Tirmidzi).

Dengan demikian, jika suami istri ingin langgeng pernikahannya, berhasil mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah, bahkan bisa melahirkan generasi kebanggaan, maka sudah seharusnya setiap pasangan menanam dalam-dalam akar kebahagiaan ini, yaitu saling memuliakan antara istri dan suami.
 
Seperti itulah yang juga dicontohkan oleh Ashim bin Umar bin Khaththab ketika menikah dengan gadis miskin penjual susu. Ashim tidak melihat istrinya dari status sosialnya, tetapi dari ketakwaannya yang telah mempesona sang ayah, sehingga memerintahkan Ashim untuk menikah dengannya.

Ashim pun memuliakan istrinya dengan sebaik-baiknya hingga akhirnya lahirlah putri mereka yang diberi nama Laila yang kemudian dikenal sebagai Ummu Ashim. Ummu Ashim pun kemudian dinikahi oleh Abdul Aziz bin Marwan, sampai akhirnya lahirlah seorang cucu yang ketika besarnya menjadi kebanggaan umat Islam, Umar bin Abdul Aziz.
 

Resep Kebahagiaan
 
Adalah idaman siapapun, pernikahannya menjadi pernikahan yang berkah dunia akhirat. Dan, saling memuliakan antara suami dan istri adalah akar dari terwujudnya dambaan tersebut.
 
Atas halitu Asma ibn Kharijah memberi nasehat yang sangat bagus kepada putrinya pada saat melangsungkan pernikahannya.

“Wahai anakku, sesungguhnya engkau telah keluar dari kehidupan yang engkau jalani menuju ke peraduan yang tidak engkau kenali sebelumnya dan hidup bersama dengan orang yang sebelumnya tidak engkau kenal.

Maka jadilah engkau sebagai bumi bagi suami niscaya dia akan menjadi langit bagimu, jadilah engkau sebagai tempat tidur baginya niscaya dia menjadi tiang penyanggamu. Jadilah engkau sebagai seorang hamba sahaya wanitanya, niscaya dia akan menjadi soerang hamba sahaya laki-lakimu. 

Janganlah engkau menjauh darinya hingga ia akan melupakanmu, kalau ia memanggilmu, maka dekatilah ia, jagalah penciuman, pendengaran dan matanya. Ia tidak akan mencium apapun darimu kecuali yang indah.”

Jika demikian, tunggu apalagi, mari berlomba-lomba memuliakan pasangan kita. Insya Allah kebahagiaan akan menyertai kita, bahkan kehadiran generasi (anak-anak) penuh iman dan takwa akan mendampingi kehidupan kita hari 
ini dan kelak di akhirat. Semoga.*/Imam Nawawi

 


Senda Gurau Suami Istri


Suatu Ketika Seorang Istri bertanya kepada suaminya

Istri : “Wahai Suamiku, adakah wanita lain yang lebih cantik daripada diriku?”

Suami : “Aku Tidak tahu”

Sang Istri pun bertanya kembali

Istri : “Wahai Suamiku, adakah wanita lain yang lebih baik daripada diriku?”
 
Suami : “Aku Tidak tahu”


Sang Istri pun geram dengan jawaban sang suami

Istri : “Wahai suamiku, mengapa engkau selalu menjawab tidak tahu?"

Suami : “Wahai Istriku, ibu dari anak-anakku, Bagaimana aku tahu dan bagaimana aku bisa sibuk dengan wanita lain sedangkan di hadapanku ada seorang bidadari yang rupawan yang mampu membuat hatiku tertawan dengan akhlaqnya yang menawan.

Ketahuilah istriku, kiranya raja tak akan sempurna tanpa seorang ratu, maka begitupun diriku tak akan sempurna tanpa kehadiranmu di sisiku.”

Istri : (tersenyum dan tertunduk malu)


                                                  ****************************

Saturday, April 6, 2013

Pakai Rok Panjang dan Bandana, Siswi Muslim Prancis Disingkirkan Sumber


 siswi muslim

Prancis.Keluarga seorang siswi Muslim yang dipisahkan dari teman-teman sekelasnya karena mengenakan asesoris kepala dan rok panjang, akan mengajukan gugatan hukum atas sekolah putrinya dengan alasan diskriminasi dan pelecehan agama.
 
Dilansir France24 Jumat (5/4/2013), seorang remaja perempuan Muslim murid sebuah sekolah di Villiers-sur-Marne mengenakan asesoris kepala berupa bandana selebar 5cm dan rok panjang yang menutupi celana panjang di bawahnya. Para guru di sekolah yang terletak di tenggara kota Paris itu menganggapnya sebagai tindakan pelanggaran. Pasalnya, negara Prancis melarang simbol-simbol agama, seperti kerudung Muslim dan salib Kristen, dipakai di lingkungan sekolah.

Siswi Muslim itu kemudian disingkirkan dari kelasnya sepanjang jam sekolah. Dia dipaksa menempati ruangan terpisah, sendirian mengerjakan tugas-tugas dari guru, karena menolak mengubah pakaiannya.

Pada pertengahan Maret lalu pengadilan setempat menyatakan, pengasingan siswi Muslim itu dari kehidupan normal sekolah adalah melanggar hukum dan memerintahkan agar dia dikembalikan ke tempatnya semula bersama teman-temannya.

Kepada para wartawan ibu remaja berusia 15 tahun tersebut berkata, “Dia mengenakan bandana yang lebarnya hanya 5cm dan rok panjang, dan pihak sekolah menyatakannya sebagai simbol-simbol agama. Sungguh pernyataan yang tidak masuk di akal.”

Keluarga gadis itu, dengan dukungan dari Asosiasi anti-Islamophobia Prancis (CCIF), mengatakan akan mengajukan tuntutan hukum terhadap sekolah atas diskriminasi dan pelecehan yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut. (af/hdt)

Thursday, April 4, 2013

"Ketika Cinta Ber-Tajwid"


Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba - tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras.

Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr :D

Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’.

Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. DIA atau aku?

Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat.

Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.

Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun :D
*sumber https://twitter.com/khodroou,PKS Piyungan


Saat pertama kali membacanya,...wooow,...Subhanallah,...lalu teringat dengan perjuanganku dulu...

Aku paling suka dengan tulisan ini Kreatif, inspiratif,penuh makna dan pembelajaran,Jadi teringat
ketika berjuang mengambil Syahadah Qiroati(Tashih),penuh dengan suka duka,...dan akhirnya lulus juga.
Banyak belajar dari memperjuangkannya,harus dengan keikhlasan dan hati yang bersih..................
berangkat dari 10 orang tapi yang luslus 2 orang,maju lagi yang lulus 3 orang,tinggal 5 orang diantaranya adalah aku,ini adalah ujian kedua yang telah aku coba,... tapi aku ga pernah putus asa,sampai2 Ustadz Salam sang penguji bertanya pada kami"opo sampeyaan ndak bosen dan jenuh ?"..jawaban kami masih sama,...kami masih mencoba sampai Ustadz benar2 menyatakan kami layak untuk mendapatkan syahadah Qiroati,...

Setiap hari mengulang,murajaah materinya berulang2 sampai orang serumah hafal yang namanya Saktah,Imalah,....dll deh...
Yang paling ku ingat nasehat Ustadz..."Butuh kesabaran untuk mendapatkannya,...Dan Allahlah yang menentukan,.."
Ketika gagal terkadang masih tidak terima koq ga lulus ya?...tapi hikmahnya mungkin Allah sedang menambah pahala bagiku dan teman2,menguji kesabaran dan keikhlasan kami,mengutkan ukhuwah kami,...sehingga kami menjadi  dekat,...

Bayangkan setiap kali mau tes aku dan teman yang mempunyai baby harus membawanya,...terkadang mereka menangis bersamaan yang membuat kami tidak konsentrasi ketika diuji,...tapi kami tetap berusaha,...dan akhirnya lulus juga,...Alhamdulillah semua adalah pelajaran berharga bagi ku dan teman2 seperjuangan,..
Setelah  selesai tes dan kami dinyatakan lulus kami masih belum beranjak karena tidak percaya,..akhirnya sang Ustadz bertanya"opo sampeyan ga rela kalau lulus,?? kami tersentak dan menjawab bersamaan "ngga  Ustadz"...hehehe ga kebayang mimik wajah kami pada saat itu,..lucu mungkin yaa...karena seharusnya menjawab"rela ustadz"....

Pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku,...

Tuesday, April 2, 2013

Tarbiyyah Dan Murobbi Pertamaku

Pertemuannya selalu menghadirkan kerinduan,Ukhuwah  Islamiah
dalam Tarbiyyah

Alhamdulillah 'ala kulli ni'mah,...Alhamdulillah diri ini masih berada dalam nikmat iman dan islam

Aku masih ingat betul pertemuan ku dengan wanita2 hebat ini.menurutku,...tapi betul koq mereka adalah wanita2 hebat karena mereka mengenalkan aku dengan Tarbiyah,...dan mengajakku mengenal lebih dekat dengat yang menciptakan diri ini.

Ketika mendengar namamu disebutkan,untuk menjadi guru ngajiku yang pertama,...terlintas sedikit kuno dan terkesan nama seorang kebanyakan ustadzah kampung yang sudah usia lanjut,..."Ah biaralah namanya juga mau ngaji, siapapun orangnya yang penting bisa mengajarkan aku mengaji".
 
Aku sebenarnya bukan tipe orang yang suka palah pilih dalam urusan mencari ilmu,apalagi keinginan tentang Islam begitu kuat dihatiku,dan satu cita2ku ketika aku ingin mengaji ingin mempunyai akhlak seperti ukhti Titi dan ummu Sarah,..lembut dalam tutur katanya,berilmu,penyayang dan sebagainya yang membuat aku terkagum-kagum.

Mondar-mandir mengikuti pengajian sudah ku coba,dari yang exstrim,ke ekstrim sampai yang adem ayem dan bikin bosen bahkan yang bersentuhan dengan dunia ghaib,ya Allah ternyata Engkau masih sayang padaku,... selalu ketika masuk ada sesuatu yang aku tak merasa sreg karenanya,...

Ga kebayang kan tiba2 semua yang kita lakukan dianggap bid'ah,pindah ketempat yang satu Alquran bisa diterjemahkan sendiri,Qurannya pun berupa hurup gundul,kita diminta mangkul(mengartikan sendiri),yang sadisnya jika suami tidak seakidah haram hukumnya berhubungan.Lain lagi dengan yang satu ini mengartikan alQuran sepenggal saja,ngajinya pindah2 dari kontrakan yang satu ketempat yang lain,pergerakannya mendirikan negara Islam,untuk mendukungnya kita boleh melakukan semua cara yang haram untuk mengumpulkan dana dan ketika keluar dari jamaah halal darah kita bagi mereka...aduh menakutkan menurut aku dan suami...jadi kabuur deh,menyelamatkan diri.

Lain lagi kalau yang satu ini tradisional sekali yang dibaca suratnya dalam AlQuran itu saja, ga pernah ganti2,lalu kucoba lagi yang lebih exstrim,tidak perlu sholat cukup dengan dzikir,dan membayar uang ganti dosa kita yang dikira2 oleh ustadznya,...Astagfirullah...yang lucunya sang ustadz tidak pernah tidur, dzikir terus siang dan malam tanpa melakukan sholat lima waktu,itu yang tidak aku terima.akhirnya kabuur lagi deh.

Oh ya tadi kan lagi bicarakan guru ngajiku itu ya,koq jadi kemana2..pertama kali datang memperkenalkan diri semua gambaran tentang beliau sirnah semua,cantik,bersahaja,dan ga tua2 banget bahkan terlihat muda,baik, lembut dan ternyata beliau seorang dokter umum,...Subhanallah...
Ya Allah sungguh beruntung aku,dipertemukan oleh beliau.

Beliau bernama dr Badriah,mempunyai 4 orang anak,suami berkerja di BPPT,yang akan menjadi murobi suamiku.Aku sangat kagum dengan caranya menyampaikan tausiyah....semuanya tentang keseharian kita sebagai wanita juga seorang ibu,cocok dan kebutuhan banget buat aku seorang ibu muda,...mungkin dicocokkan dengan kondisi ibu2 komplek.

Oh ternyata aku tahu pengajian seperti ini yang diikuti oleh ukhti Titi dan ummi Sarah sampai2 mereka menjadi mengagumkan seperti itu,wajarlah guru ngajinya saja seperti itu pasti murid2nya pun tak jauh berbeda pikirku..."hatiku berkata inilah tempatku,cocok sekali denganku"ga ada yang aneh2...

Didalam pengajian ini diisi dengan tilawah dan sambil diperbaiki bacaannya,lalu tausiyah dari beliau setelah itu tanya jawab,nggak ngebosenin deh,...setelah berjalan agak lama,mungkin sekitar 1 thn barulah ada program setor hafalan,Al Qur'an dan Hadist.
Beliau mendapatkan julukan murobbi,...kata2 yang asing bagiku... pengajianku pun berubah menjadi halaqoh,karena tinggal 10orang saja.

Untuk bertemu dengan liqo/halaqoh adalah saat2 yang paling aku nanti2kan ke hadirannya,dulu aku suka baca novel kini berganti dengan majalah ummi,dan majalah saksi.aku jadi banyak kegiatan ibu rumah tangga tapi jam kerjanya super padat,...hehehe,kegiatannya banyak dan bermanfaat sayang kalau dilewatkan,contohnya saja membuat kerajinan tangan secara berkelompok,baksos,dan kegiatan sosial lainnya,menyenangkan dan membuat kita jadi jarang duduk2 dibawah pohon cerry depan rumahku yang rimbun, bareng2 ngerumpi dengan ibu2 sekomplek....

Begitu ghirohnya aku,sampai bayiku yang baru berumur satu pekan, aku bawa tarbiyah,indah,menenangkan berada didalamnya tak ada sesuatu yang aneh seperti pengajian lainnya,kita seakan dekat satu sama lain seperti saudara,itulah yang diajarkan kepada kami para binaannya,aku yang tadinya tomboy,dan tak terlau kalem berubah semuanya menjadi feminim dengan gamis dan jilbab lebarku,tapi aku merasa nyaman dengan gayaku sekarang.

Kini aku resmi mengikuti pengajian tarbiyah,disana dikomplek ku,pengajian itu adalah sesuatu yang baru,dari tidak berjilbab jadi berjilbab,telanjang kaki menjadi berkaos kaki,dan tidak bejabat tangan dengan yang bukan muhrim,aneh menurut mereka.Sempat gempar juga sih,orang se RT,sampai2 disebut pengajian aliran sesat,...kita bak selebritis yang sedang naik daun,...Setiap ke warung ada saja yang membicarakan,.."itu tuh,masak guru ngajinya gratis,ga mungkin kan??..hari gini ada yang gratisan, kalau bukan ada maksudnya... ga mungkin lah yauuo..."ih aneh juga pakaiannya ...terus pake kaos kaki  pulaaa...."masak sih bu???...aku cuma senyum2 saja mendengarnya....

Tapi kami tetap berbaur dalam pengajian malam Jum'atan,arisan dan sebagainya kegiata ibu2 dikomplek,bahkan teman2 buat TPQ untuk anak2 mereka,...gratis lagi,..kita kerja dengan ikhlas.
Akhirnya banyak ibu2 yang menitipkan anak2 mereka ke TPQ yang kami bentuk,lalu ketua RT minta pengajian kami jangan dirumah2 tapi jika benar ngajinya di Mushola saja pinta beliau,...kami pun pindah keMushola sesekali...

Dan akhirnya mereka bisa menerima kami dengan baik,terbukti ketika salah seorang suami dari salah satu tetanggaku sedang menasehati istrinya,..."kalau mau bener sana ikut pengajian umminya Sarah"...jadi pinter ga suka dandan,nurut sama suami,...juga jadi pinter...kata sang suami...ketika itu aku rajin samper menyamper ibu2 yang ada dekat dengan rumah, untuk ikut tarbiyah.
Tapi ada beberapa yang menjadi saudari seukhuwah,ada juga yang masuk terus keluar lagi karena ga  sreg katanya,...

Suatu ketika..."Mi...jilbbnya ga kepanjangan tuh",...suami ku protes karena dia tak nyaman dengan penampilan baruku,ngga bi,... inilah pakaian seorang muslimah sesungguhnya,kucoba menjelaskan padanya.
Aku jadi rajin membaca,suamiku pun ikut2tan,...suka membaca.Melarangnya merokok adalah hal tersulit,tapi ternyata setelah dia tarbiyah dia berubah 180% akupun makin cinta padanya,...
Tarbiah adalah kebutuhan kami sekarang,dengan tarbiyah kami dapat merubah apa yang tidak baik pada diri kami masing2.

"Aduh ummi jilbabnya kependekan tuh,bajunya kurang longgar",...itulah komentar suamiku tercinta sekarang,..."Sudah mi ga usah berdandan polos2 aja tabaruj mi,ingat",...hehehe sekarang jadi dia yang selalu mengingatkan aku.

Rintangan dalam berjuang mencari ke Islamanku tak terasa berat jika berada dalam jamaah,kuat dan kokoh bersama.Rizqi pun Allah turunkan bagi kami terkadang tak terduga datangnya,sampai kami tak menyangka,....dan tak sanggup memikirkannya,...

Ah Murobbiku tersayang... aku bersyukur Allah mempertemukan aku denganmu,cita2ku tercapai sekarang,..walau pun sampai saat ini aku masih harus terus banyak belajar,dari tidak bisa menjadi bisa dan biasa,...Beliau menganggap kami para mad'u nya adalah saudara,jadi ketika ada satu masalah maka masalah itu adalah masalah bersama,...Indahnya Tarbiyah...Tarbiah adalah anugrah bagiku,...selalu menghadirkan kerindduan...

Subhanallah ternyata Hidayah tak akan datang begitu saja tanpa kita cari.
Alhamdulillah kini kuikuti jejak Murobbi ku,aku pun mencoba mentarbiyah,dilingkungan tempat tinggalku yang baru,Terima kasih Ustadzah karena telah membimbingku dengan sabar dan ikhlas.Dirimu bagaikan seorang ibu,kakak sekaligus sahabat bagiku,...


coretan kecil pencari ilmu:Ummu Abbas

                                         ***************************




Flower 53